Peluncuran Buku Sejarah B19-20

Kakak, rekan dan adik sekalian, melalui media ini kami mengundang dan mengharapkan kehadiran kakak, rekan dan adik sekalian dalam rangkaian acara yg akan diadakan pada hari Sabtu & Minggu 24-25 Februari 2018. Rangkaian acara tersebut adalah sebagai berikut:

1. Peresmian dan pemberkatan sanggar baru, peluncuran buku sejarah B19-20 di BENGRAH PALDAM III Siliwangi, Jalan Gudàng Utara 27 Bandung 40113.

2. Peringatan Hari Baden Powell, HUT Bandung 19, Reuni, Api Unggun, Persami di KINDERDORF, Lembang

Pendaftaran akan dimulai pada tanggal 24 januari 2018 hingga tanggal 17 Februari 2018 dan pendaftaran dapat menghubungi Sdr. Reza Widianti melalui HP (WA, SMS) di nomor HP 08119071920 atau email reza.widianti@dalecarnegie.co.id

JADWAL ACARA PERTEMUAN TANGGAL 24-25 FEBRUARI 2018 HARI SABTU, 24 FEBRUARI 2018

1. PKL.07.00-09.00 Peresmian dan Pemberkatan Sanggar
2. PKL 09.00-10.00 Coffee Break
3. PKL 10.00-12.00 Peluncuran Buku Sejarah
4. PKL 12.00-13.00 Lunch Break
5. PKL 14.00-16.00 Berangkat ke Kinderdorf
6. PKL 16-00-18.00 Istirahat dan Mandi
7. PKL 18.00-19.00 Dinner
8. PKL 19.00-22.00 Api Unggun
9. PKL 22.00 Istirahan

HARI MINGGU, 25 FEBRUARI 2018
1. PKL.05.00 Bangun Pagi
2. PKL 06.00-07.00 Senam
3. PKL 07.00-09.00 Mandi dan Sarapan
4. PKL 09.00-10.00 Ibadah
5. PKL 10.00-12.00 Kebersamaan
6. PKL 12-00-13.00 Penutupan
7. PKL 13.00 Pulang

KONTRIBUSI:
BIAYA MENGINAP Rp.125.000/orang dewasa dan Rp.75.000/orang anak

(161) view

Berita Duka: Ray Manov Karmen

Rest in Peace Ray Manov Karmen – Eks Regu Banteng

Selamat jalan Ray Manov, di rumah barumu bersama Tuhan Sang Pengasih, tak ada lagi sakit, tak ada lagi duka…hanya sukacita Surgawi. Go with peace. Semoga Tuhan jg berikan kekuatan iman bagi keluarga yg ditinggalkan – Heru Hendradinata

RIP Ray Manov, sang editor buku sejarah Gudep 19/20. Sekarang ada yang menulis tentang dikau . . . Selamat jalan menuju rumah Bapak yg abadi – Johnny W Utama

Sangat berdukacita atas wafatnya Ray Manov/Nanos yang baik hati.. (saya belum lama mengenal almarhum, sewaktu dilibatkan oleh ka’Danny utk penyusunan buku Sejarah Gudep 19-20. hanya sempat sekali ke rumahnya…, tapi semua kebaikannya saat ini langsung terkenang lagi)
Semoga Allah Yang Maha Pengasih Melimpahkan banyak Kebaikan dan Memberikan Tempat Terbaik di sisi NYA untuk Ray Manov, aamiin… – Rahmat Hanafi

Sungguh terkejut mendengar dari Stevie bahwa Nanos sudah berpulang sore ini. Sungguh kita kehilangan seorang saudara yang sangat baik, disiplin, profesional dalam bekerja, sangat considerate dan sangat commit. Dalam rapat2 Buku Sejarah, Nanos yang terutama berkontribusi terhadap faktor bahasa dan estetika. Sungguh kita kehilangan seorang sahabat yang begitu baik, bersedia bekerja dan berkorban. Kami doakan agar Nanos sudah bersama Tuhan di surga dan keluarganya ikhlas tawakal adanya – Daniel Utama

RIP Ray Manov, sy belum lama mengenal dia. Tapi yang saya tahu selama mengenal dia , Nanos adalah orang yang baik , dan penuh tanggung jawab . Selamat jalan Nanos. Semoga Nanos berada dalam kerahiman Tuhan. Amin – Steven Patty

Upacara pemakaman Nanos @ San Diego Hills Karawang

(59) view

KECERIAAN COOKING DAY

JUARA LOMBA FOTO
11 MEI 2013

SALAM PRAMUKA,

DARI 19 FOTO YANG PANITIA TERIMA UNTUK DILOMBAKAN, DAN SESUAI DENGAN KRITERIA DAN KETENTUAN LOMBA FOTO – COOKING DAY – TANGGAL 11 MEI 2013, MAKA OLEH JURI TUNGGAL, PHOTOGRAPHER PROFFESIONAL, KAK DARWIS TRIADI, TELAH DIPUTUSKAN JUARA-JUARANYA SEBAGAI BERIKUT:

JUARA KE 1:

DENGAN JUDUL FOTO : ( TIDAK ADA )
NOMOR PESERTA : B5
PHOTOGRAPHER : A. J. GUNAWAN
image-2

JUARA KE 2:

DENGAN JUDUL FOTO : ” HEBOH BERTIGA ”
NOMOR PESERTA : B12
PHOTOGRAPHER : WIDIANA MUTYASARI
image-5

JUARA KE 3:

DENGAN JUDUL FOTO : ( TIDAK ADA )
NOMOR PESERTA : B7
PHOTOGRAPHER : EDWINA MAHARANI
image-1

HADIAH LOMBA AKAN DIKIRIM KE ALAMAT MASING-MASING PEMENANG

” SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG…..TERUS PERTAHANKAN DAN KEMBANGKAN KEAHLIAN PHOTOGRAPHY ANDA…..YOU ARE THE BEST….ALWAYS BE THE BEST…!!! ”

SALAM TIGA JARI,

( PANITIA )

image

(309) view

Cooking School

Walaupun postingnya terlambat, yang terpenting foto-fotonya bisa dipublish, dan semangatnya bisa tetap ditularkan.

(399) view

Kebaktian & Pemakaman Ka Onye (Kornel M. Sihombing)

Kornel M Sihombing

Jenasah Ka Onye ( Kornel M. Sihombing ) sudah disemayamkan di Gedung PKSN
( di Ruang Nusantara 1 )
Masuk dari gerbang utama PT. DI ( posisi gerbang berada di depan mesjid )

Susunan acara secara global adalah sbb :

Rabu 23/05/2012

19.00 : Kebaktian Penghiburan
20.00 : Memorial Service ( Acara mengenang Ka Onye dari berbagai kelompok / organisasi )
22.00 : Selesai

Kamis 24/05/2012

08.00 : Acara Adat dan kebaktian pelepasan

11.00 : Persiapan & Pemberangkatan jenasah ke Pemakaman Pandu

13.00 : Acara di Pemakaman pandu selesai

( Susunan acara diperoleh dari Ka Irawan Sihombing )

(294) view

Update dari Ka Irawan Sihombing

Dear kakak-kakak, rekan-rekan & adik-adik semua,

Baru saja saya terima sms dari Ka Irawan yang isinya :

1. Jenasah Ka Onye (Kornel M. Sihombing) sudah teridentifikasi oleh team DVI.
2. Hari Rabu tgl 23 Mei 2012 jenasah akan diserahkan kepada pihak keluarga di
Jakarta sekitar pk. 13.00
3. Hari Rabu tsb setelah diserah terimakan kepada pihak keluarga, akan segera
dibawa ke Bandung dan akan disemayamkan di PT DI Bandung
( posisi atau tempatnya dimana masih belum tahu )
4. Jenasah akan dimakamkan di Pemakaman Pandu pada Hari Kamis
( waktu belum ada konfirmasi )
5. Ka Irawan membutuhkan kendaraan untuk membawa keluarga besar Sihombing
yang jumlahnya sekitar 26 – 30 orang. Kendaraan tersebut akan diperlukan pada
hari Rabu stand by di PT. DI mulai sekitar Pk. 15.00 / Pk. 16.00.

* Kendaraan tersebut direncanakan akan digunakan untuk mengantar keluarga
dari PT DI ke penginapan.
* Dan pada hari Kamis diperlukan untuk mengantar anggota keluarga Sihombing
dari penginapan ke Pemakaman Pandu.

Sehubungan dari permohonan bantuan tersebut, maka kepada semua anggota keluarga besar B 19 – 20 yang bersedia / dapat menyediakan kendaraan mohon menghubungi saya ( Steve J.H.) di no. 0812 2020 3080 / 0857 2010 3080.

Note :

Dari informasi Ka Irawan kemungkinan dari PT DI akan menyediakan kendaraan, namun kepastiannya belum diperoleh.

Oleh sebab itu beliau berupaya mencari back up, kalau-kalau dari PT DI tidak ada atau tidak mencukupi.

Sesuai dengan motto Pandu : ” Be Prepare “, maka mari kita bantu siapkan kebutuhan kendaraan dan personilnya untuk keperluan antar jemput tersebut.

Saya dan atas nama Keluarga Besar Pramuka Gudep B 19 – 20 menyatakan turut berbelasungkawa atas berpulangnya Ka Onye. Semoga beliau diberikan keselamatan dan kedamaian abadi serta memperoleh tempat terbaik bersama Bapa di surga.
Dan kami juga mendoakan semoga istri, anak-anak dan keluarga besar Sihombing yang ditinggalkan diberi kekuatan, kepasrahan dan ketabahan.

Kepada yang bersedia membantu sebelumnya saya ucapakan terima kasih.

STJ

Steve J.H.

(213) view

GOLDEN REUNION 2011

Salam Yos !

Setengah abad ! Waktu mengucapkan dan menuliskan kata-kata ini, serasa mimpi dan pikiran melayang diawang-awang lamunan. Terbayang wajah-wajah bergelak dan terngiang ditelinga teriakan kegaduhan tawa yang memenuhi udara di lapangan Aloysius 50 tahun yang lalu itu, dibawah langit biru, di lapangan hijau yang sama. Apalagi waktu melihat foto baliho Reuni kita yang amat inspiratif itu, serasa semua itu terjadi kemarin sore. Kalau di buku sejarah kita membaca kata „abad“, rasanya biasa-biasa saja: ya, itu artinya 100 tahun. Tapi kalau tiba-tiba kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kitalah pelaku sejarah dari peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu , terasa nadi berdenyut lebih kencang. Bukan sekedar mengenang waktu, tapi serasa sedang menonoton film kehidupan kita. Mulai berbaris di pelupuk mata wajah-wajah: baik anak-anak kita yang dulu kecil dan lucu, tapi hari ini sudah menjadi orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas keselamatan keluarga dan bangsa, maupun rekan-rekan sejawat yang hari ini sudah tiada. Terdengar gemuruh suara yang melatar belakangi tampilan wajah-wajah itu. Dan karena tempat kita berkumpul dulu itu bukan arena tari atau aula perhelatan pesta, tapi betul-betul gelanggang tanding berbagai perlombaan, maka juga suara yang terdengar bukan nyanyian sendu, melainkan“ raungan singa tua memecah udara menakutkan jantan betina“.

Entah kebetulan, waktu 3 hari yang lalu itu saya diminta mempersiapkan kata sambutan ini, kepada saya disodorkan booklet REUNI ’87 Gudep Bandung 0719 tertanggal 17 Januari 1987. Ketika saya membali-balik halaman buku kecil itu, saya temukan Renungan yang saya tulis untuk hari itu. Waktu itu saya sudah membuat headings untuk tulisan ini (seperti kebiasaan saya dalam mempersiapkan suatu tulisan). Dan saya tercengang bahwa apa-apa yang saya maksud untuk tulis hari ini, hampir seluruhnya tepat seperti apa yang sudah termuat dalam renungan itu. Kalau tanggal-tanggal dan tahunnya diganti dari 20 menjadi 50, ya begitu rasanya tulisan ini nanti jadinya. Mula-mula saya merasa terenyuh. Koq selama ini tidak ada kemajuan pada diri saya dalam pemikiran maupun perasaan saya. Baru setelah saya simak lebih jauh, saya lebih tenang. Karena yang saya tulis itu tentang hal-hal mendasar, rasanya tidak salah bahwa seseorang masih berpegang pada hal-hal yang sama walaupun menjalani tambahan rentetan tahun dalam hidupnya. Maka saya putuskan untuk menyampaikan renungan tadi dalam olahan yang lain. Jadi bagi rekan-rekan yang dulu sudah pernah membaca (dan mungkin masih sedkit ingat isinya) renungan tadi, maafkan saya untuk menghidangkan bahan setengah basi ini .

Waktu seorang anak berulang tahun pada usianya yang ke-5, anak itu sendiri belum banyak berpikir. Dan orang-orang yang memberikan selamat, biasanya mengucapkan harapan agar sianak „cepat besar, cepat pintar dll.“ Waktu anak berusia 15 tahun, sudah sekolah, banyak baca buku atau nonton TV, sianak tadi sudah bisa mimpi, ingin jadi entah pilot, atau cowboy, atau jenderal atau presiden dll. Dan biasanya ucapan selamat yang ia terima disertai harapan agar impiannya bisa terwujud. Ketika anak tadi merayakan ulang tahunnya yang ke25, selesai kuliah atau mulai bekerja dan melihat dunia nyata, dia sendiri akan meluruskan angan-angannya menjadi politisi, pengusaha sukses atau panglima, dll. Dan ucapan salamat yang ia terima juga akan berisi sanjungan atau dorongan pembesar hati bahwa „sebentar lagi“ dia akan jadi boss, atau menteri atau komandan pasukan dll.

Ketika seseorang atau suatu organisasi merayakan ulang tahunnya yang ke-50, merasa lelah dalam menjalani perjoangan, capai oleh berbagai kegagalan tapi juga diwarnai ke girangan oleh sukses yang dicapai disana-sini, dia akan beroleh kesempatan untuk merenungkan tahun-tahun yang lewat dalam kelelahan pergelutan yang lampau, tapi masih berpengharapan untuk mengisi sisa tahun-tahun yang menunggu. Maka sudah tibalah waktunya bagi dia untuk mempertanyakan arti hidupnya. Hidup yang yang oleh ibu Theresa dinyatakan sebagai:

“Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
Hidup adalah tantangan , hadapi itu.
Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
Hidup adalah pertandingan, jalani itu…………………….”

50 adalah usia pertengahan, tidak terlalu muda untuk secara arif belajar dari tahun-tahun dan kegagalan yang lalu; tapi juga tidak terlalu tua untuk membuang rasa penat dan tetap memacu diri buat menyelesaikan tugas-tugas yang belum rampung. Yang jelas, memeriksa dan menilai kembali arti hidup serta mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjoangan melunasi hutang-hutang yang masih tertinggal. Sedemikian rupa, sehingga nantinya Bandung-19/20, bisa menyatakan pada dunia bahwa “adanya tidak sia-sia, karena telah memberikan putera-puteri kesuma kepada dunia”
Selamat merayakan ulang tahun ke-50, dan sampai ketemu pada ulang tahun ke -60, -70 , -80 …100 ?

Jakarta, 17 Desember 2011

George The

(281) view

Congratulation for 50 years anniversary

From Krisna Adilukito

Buat semua kakak, adik Bandung 19 dan 20.

Selamat buat anniversarynya. Sayang tidak bisa datang. Tuhan berkati selalu semoga acara sukses, cuaca baik dan banyak senang. Saya bangga dan berterima kasih pada semua kakak yang sudah menanam disiplin dan team work spirit yang berguna sampai sekarang saya masih ikut scouting di USA. Also Merry Christmas and Happy New Year to all

Sanggar Baru di di Aloysius sangat baik

God Bless You all from Kris Adilukito Bandung 19 now in troop 101 Pomona USA

Congratulation for 50 years anniversary
From Troop 101 Pomona USA

(290) view

Ulang Tahun Gudep

Sekarang sedikit mengenai tanggal 4 Desember 1961. Anda-anda melihat bahwa cukup lama waktu lewat sebelum saya menuliskan tulisan ini. Itu terutama disebabkan karena saya berupaya menemukan kembali catatan harian saya (berupa agenda-agenda) untuk kurun waktu itu. Tetapi sampai minggu lalu itu upaya tadi tidak berhasil. Yang ketemu cuma berbagai catatan berupa koleksi quotation dan puisi yang sedikit banyak mencerminkan jalan fikiran pada waktu itu. Juga usaha saya untuk mengkontak Kak Reyno buat mencocokan ingatan, tidak berhasil minggu lalu itu, karena beliau, menurut orang di rumahnya, sedang berada di luar kota. Karena itu tulisan ini tidak bisa saya konfirmasikan dengan records yang autentik, dan betul-betul cuma berdasar ingatan seorang tua (menjelang pikun ?) yang menurut kak Jiwatampu sudah kehilangan daya mampu sebagian neuronnya, hehe.

Begitulah menyambung skenario dalam tulisan yang terdahulu, pada perempat tahun terakhir dari tahun 1961 tersebut, kak Reyno dan saya sendiri, sebagai plonco-plonco di PMKRI Sancto Thomas Aquinas (Bandung) bertemu dengan beberapa senior yang juga berasal dari Semarang, dan berasal dari berbagai pasukan Kepanduan Katolik disana. Maka terjadilah diskusi yang hangat mengenai topik yang sedang hangat pada waktu itu: nasib gerakan Kepanduan. Setelah berbagai argumentasi pro dan kontra, kami sampai pada kesimpulan bahwa Kesetiaan pada Janji Pandu bukannya harus dibuktikan dengan sikap kecewa, ngambek (atau “mutung” dalam bahasa Jawa) terhadap gerakan baru yang bernama Pramuka ini, tapi justeru dengan sikap tanggung jawab yang diajarkan Baden Powell yang menuntut kami untuk berusaha memengerti, dan dimana bisa,ikut mengarahkan gerakan baru ini ke jalan yang menurut kami benar, yakni membina generasi muda dalam kemampuan mandiri, tanggung jawab, rasa sosial dan nasional, toleran dan tidak cengeng.
Caranya justeru dengan ikut serta dalam pembentukannya ! Kebetulan para senior itu (kak Hendropranoto, kak Mardi Hartanto dan seorang lagi: kak Tam Auw yang saya tidak tahu nama barunya) sebagai orang-orang yang sudah lebih lama tinggal di Bandung tahu bahwa pada waktu itu praktis semua Pasukan Kepanduan yang mereka kenal di paroki-paroki mereka sudah non-aktif. Satu yang mereka tahu masih ada cuma pasukan Jeanne d’Arc di Santa Angela. Maka kami diajak untuk melihat bagaimana meng”hidupkan kembali” semangat Baden Powell ini. Dengan sedikit (atau banyak?) nekat, kami berkesimpulan bahwa kekosongan yang pasti ada di sekolah-sekolah Katolik yang telah menerima instruksi Pemerintah untuk mendirikan Pramuka di tiap sekolah, merupakan kesempatan baik untuk memulai semua ini, karena menulisi kertas kosong pasti lebih mudah daripada mencobanya pada kertas yang sudah diisi tulisan. Dan disepakati suatu skenario yang “cantik”: Meminta bantuan uskup Bandung waktu itu, Monsigneur Arnzt OSC, untuk menganjurkan kepala-kepala sekolah Katolik di Bandung guna mengirimkan wakil-wakilnya buat kami bantu dalam mempersiapkan Pramuka di sekolah masing-masing. Suatu langkah yang tidak akan mudah, karena bagaimana kami bisa berharap bahwa Uskup berani mempertaruhkan hal sepenting ini pada segelintir pemuda yang bahkan belum dikenalnya, sebab semuanya bukan warga Bandung. Tapi rupaya Tuhan memang menuntun kami, sehingga keluarlah anjuran Uskup yang dimaksud. Maka terlaksanalah apa yang kami namakan “kursus Pembina Pramuka TRIWIKRAMA” (nama ini adalah nama aji Batara Kresna dimana dewa itu berubah menjadi raksasa berkepala dan bertangan banyak menjelang perang Bharatayudha). Sejalan dengan ketentuan yang ada, kami melaporkan hal ini kepada Kwartir Gerakan Pramuka Kodya Bandung yang waktu itu untung diisi oleh bekas-bekas pandu yang simpatik terhadap gagasan kami seperti Kak Idik Sulaiman, Kak Joko Suyoso, Kak mayor Sediatmo dll.) Dan terlaksanalah kursus Triwikrama (ada yang mengistilahkan “Tiwikrama”) di sekolah Trinitas (jalan Waringin, Bandung), dimana sekolah-sekolah Santa Angela, Supratman, Cikutra, Pandu, Waringin, Jalan Jawa dan mungkin beberapa lagi yang saya sudah lupa, mengirimkan guru-guru (bahkan ada kepala sekolah yang ikut sendiri), dan oleh kami-kami beberapa ex-pandu (juga dibantu pimpinan Jeanne d’Arc seperti Kak Ria, Laura, Threes, Fin de Fretes, Sri, Monica, Lian, Murdiatun, dll) di”beri petunjuk” mengenai bagaimana nantinya membentuk pramuka di sekolah masing-masing. Tentunya menurut versi kami-kami, yang sejujurnya juga sendiri belum tahu apa dan bagaimana pramuka itu. Kursus yang berlangsung selama 3 hari itu (Jumat 1/12 s/d Minggu 3/12/ ’61) selesai dengan sukses (!). Keesokan harinya, tanggal 4 Desember 1961, Kakwarcab Bandung, May. Sediatmo meresmikan Gudep Bdg-19 kami, bersamaan dengan Bdg-6, Bdg-80, Bdg 14, Bdg-27, dll dll).

Tahun berikutnya, ketika Yosaphat Sudarso , seorang perwira Katolik, gugur diatas KRI Macan Tutul dalam perjoangan pembebasan Irian Barat pada tanggal 15 Januari 1962, Gugusdepan Bdg-19 mengambil nama tadi sebagai nama resmi Gugusdepan. Adapun Sint Joris (bahasa Belanda), atau Saint George (bahasa Inggris) yang dulu memang dianggap sebagai pelindung Kepanduan Katolik, otomatis juga diambil sebagai Santo pelindung Bdg-19. Itu sekedar dongeng mengenai berdirinya Bandung-19 kita ini. Mengenai Bandung-20, yang bisa berceritera mengenai ini tentunya Kak Toni, Kak Loeke dan rekan-rekan penerus, sebab kejadiannya setelah kami-kami generasi pertama meninggalkan kota Bandung.

Salam Tiga Jari

Kanda George

(355) view