GOLDEN REUNION 2011

Salam Yos !

Setengah abad ! Waktu mengucapkan dan menuliskan kata-kata ini, serasa mimpi dan pikiran melayang diawang-awang lamunan. Terbayang wajah-wajah bergelak dan terngiang ditelinga teriakan kegaduhan tawa yang memenuhi udara di lapangan Aloysius 50 tahun yang lalu itu, dibawah langit biru, di lapangan hijau yang sama. Apalagi waktu melihat foto baliho Reuni kita yang amat inspiratif itu, serasa semua itu terjadi kemarin sore. Kalau di buku sejarah kita membaca kata „abad“, rasanya biasa-biasa saja: ya, itu artinya 100 tahun. Tapi kalau tiba-tiba kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kitalah pelaku sejarah dari peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu , terasa nadi berdenyut lebih kencang. Bukan sekedar mengenang waktu, tapi serasa sedang menonoton film kehidupan kita. Mulai berbaris di pelupuk mata wajah-wajah: baik anak-anak kita yang dulu kecil dan lucu, tapi hari ini sudah menjadi orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas keselamatan keluarga dan bangsa, maupun rekan-rekan sejawat yang hari ini sudah tiada. Terdengar gemuruh suara yang melatar belakangi tampilan wajah-wajah itu. Dan karena tempat kita berkumpul dulu itu bukan arena tari atau aula perhelatan pesta, tapi betul-betul gelanggang tanding berbagai perlombaan, maka juga suara yang terdengar bukan nyanyian sendu, melainkan“ raungan singa tua memecah udara menakutkan jantan betina“.

Entah kebetulan, waktu 3 hari yang lalu itu saya diminta mempersiapkan kata sambutan ini, kepada saya disodorkan booklet REUNI ’87 Gudep Bandung 0719 tertanggal 17 Januari 1987. Ketika saya membali-balik halaman buku kecil itu, saya temukan Renungan yang saya tulis untuk hari itu. Waktu itu saya sudah membuat headings untuk tulisan ini (seperti kebiasaan saya dalam mempersiapkan suatu tulisan). Dan saya tercengang bahwa apa-apa yang saya maksud untuk tulis hari ini, hampir seluruhnya tepat seperti apa yang sudah termuat dalam renungan itu. Kalau tanggal-tanggal dan tahunnya diganti dari 20 menjadi 50, ya begitu rasanya tulisan ini nanti jadinya. Mula-mula saya merasa terenyuh. Koq selama ini tidak ada kemajuan pada diri saya dalam pemikiran maupun perasaan saya. Baru setelah saya simak lebih jauh, saya lebih tenang. Karena yang saya tulis itu tentang hal-hal mendasar, rasanya tidak salah bahwa seseorang masih berpegang pada hal-hal yang sama walaupun menjalani tambahan rentetan tahun dalam hidupnya. Maka saya putuskan untuk menyampaikan renungan tadi dalam olahan yang lain. Jadi bagi rekan-rekan yang dulu sudah pernah membaca (dan mungkin masih sedkit ingat isinya) renungan tadi, maafkan saya untuk menghidangkan bahan setengah basi ini .

Waktu seorang anak berulang tahun pada usianya yang ke-5, anak itu sendiri belum banyak berpikir. Dan orang-orang yang memberikan selamat, biasanya mengucapkan harapan agar sianak „cepat besar, cepat pintar dll.“ Waktu anak berusia 15 tahun, sudah sekolah, banyak baca buku atau nonton TV, sianak tadi sudah bisa mimpi, ingin jadi entah pilot, atau cowboy, atau jenderal atau presiden dll. Dan biasanya ucapan selamat yang ia terima disertai harapan agar impiannya bisa terwujud. Ketika anak tadi merayakan ulang tahunnya yang ke25, selesai kuliah atau mulai bekerja dan melihat dunia nyata, dia sendiri akan meluruskan angan-angannya menjadi politisi, pengusaha sukses atau panglima, dll. Dan ucapan salamat yang ia terima juga akan berisi sanjungan atau dorongan pembesar hati bahwa „sebentar lagi“ dia akan jadi boss, atau menteri atau komandan pasukan dll.

Ketika seseorang atau suatu organisasi merayakan ulang tahunnya yang ke-50, merasa lelah dalam menjalani perjoangan, capai oleh berbagai kegagalan tapi juga diwarnai ke girangan oleh sukses yang dicapai disana-sini, dia akan beroleh kesempatan untuk merenungkan tahun-tahun yang lewat dalam kelelahan pergelutan yang lampau, tapi masih berpengharapan untuk mengisi sisa tahun-tahun yang menunggu. Maka sudah tibalah waktunya bagi dia untuk mempertanyakan arti hidupnya. Hidup yang yang oleh ibu Theresa dinyatakan sebagai:

“Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
Hidup adalah tantangan , hadapi itu.
Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
Hidup adalah pertandingan, jalani itu…………………….”

50 adalah usia pertengahan, tidak terlalu muda untuk secara arif belajar dari tahun-tahun dan kegagalan yang lalu; tapi juga tidak terlalu tua untuk membuang rasa penat dan tetap memacu diri buat menyelesaikan tugas-tugas yang belum rampung. Yang jelas, memeriksa dan menilai kembali arti hidup serta mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjoangan melunasi hutang-hutang yang masih tertinggal. Sedemikian rupa, sehingga nantinya Bandung-19/20, bisa menyatakan pada dunia bahwa “adanya tidak sia-sia, karena telah memberikan putera-puteri kesuma kepada dunia”
Selamat merayakan ulang tahun ke-50, dan sampai ketemu pada ulang tahun ke -60, -70 , -80 …100 ?

Jakarta, 17 Desember 2011

George The

(277) view

Congratulation for 50 years anniversary

From Krisna Adilukito

Buat semua kakak, adik Bandung 19 dan 20.

Selamat buat anniversarynya. Sayang tidak bisa datang. Tuhan berkati selalu semoga acara sukses, cuaca baik dan banyak senang. Saya bangga dan berterima kasih pada semua kakak yang sudah menanam disiplin dan team work spirit yang berguna sampai sekarang saya masih ikut scouting di USA. Also Merry Christmas and Happy New Year to all

Sanggar Baru di di Aloysius sangat baik

God Bless You all from Kris Adilukito Bandung 19 now in troop 101 Pomona USA

Congratulation for 50 years anniversary
From Troop 101 Pomona USA

(289) view

Ulang Tahun Gudep

Sekarang sedikit mengenai tanggal 4 Desember 1961. Anda-anda melihat bahwa cukup lama waktu lewat sebelum saya menuliskan tulisan ini. Itu terutama disebabkan karena saya berupaya menemukan kembali catatan harian saya (berupa agenda-agenda) untuk kurun waktu itu. Tetapi sampai minggu lalu itu upaya tadi tidak berhasil. Yang ketemu cuma berbagai catatan berupa koleksi quotation dan puisi yang sedikit banyak mencerminkan jalan fikiran pada waktu itu. Juga usaha saya untuk mengkontak Kak Reyno buat mencocokan ingatan, tidak berhasil minggu lalu itu, karena beliau, menurut orang di rumahnya, sedang berada di luar kota. Karena itu tulisan ini tidak bisa saya konfirmasikan dengan records yang autentik, dan betul-betul cuma berdasar ingatan seorang tua (menjelang pikun ?) yang menurut kak Jiwatampu sudah kehilangan daya mampu sebagian neuronnya, hehe.

Begitulah menyambung skenario dalam tulisan yang terdahulu, pada perempat tahun terakhir dari tahun 1961 tersebut, kak Reyno dan saya sendiri, sebagai plonco-plonco di PMKRI Sancto Thomas Aquinas (Bandung) bertemu dengan beberapa senior yang juga berasal dari Semarang, dan berasal dari berbagai pasukan Kepanduan Katolik disana. Maka terjadilah diskusi yang hangat mengenai topik yang sedang hangat pada waktu itu: nasib gerakan Kepanduan. Setelah berbagai argumentasi pro dan kontra, kami sampai pada kesimpulan bahwa Kesetiaan pada Janji Pandu bukannya harus dibuktikan dengan sikap kecewa, ngambek (atau “mutung” dalam bahasa Jawa) terhadap gerakan baru yang bernama Pramuka ini, tapi justeru dengan sikap tanggung jawab yang diajarkan Baden Powell yang menuntut kami untuk berusaha memengerti, dan dimana bisa,ikut mengarahkan gerakan baru ini ke jalan yang menurut kami benar, yakni membina generasi muda dalam kemampuan mandiri, tanggung jawab, rasa sosial dan nasional, toleran dan tidak cengeng.
Caranya justeru dengan ikut serta dalam pembentukannya ! Kebetulan para senior itu (kak Hendropranoto, kak Mardi Hartanto dan seorang lagi: kak Tam Auw yang saya tidak tahu nama barunya) sebagai orang-orang yang sudah lebih lama tinggal di Bandung tahu bahwa pada waktu itu praktis semua Pasukan Kepanduan yang mereka kenal di paroki-paroki mereka sudah non-aktif. Satu yang mereka tahu masih ada cuma pasukan Jeanne d’Arc di Santa Angela. Maka kami diajak untuk melihat bagaimana meng”hidupkan kembali” semangat Baden Powell ini. Dengan sedikit (atau banyak?) nekat, kami berkesimpulan bahwa kekosongan yang pasti ada di sekolah-sekolah Katolik yang telah menerima instruksi Pemerintah untuk mendirikan Pramuka di tiap sekolah, merupakan kesempatan baik untuk memulai semua ini, karena menulisi kertas kosong pasti lebih mudah daripada mencobanya pada kertas yang sudah diisi tulisan. Dan disepakati suatu skenario yang “cantik”: Meminta bantuan uskup Bandung waktu itu, Monsigneur Arnzt OSC, untuk menganjurkan kepala-kepala sekolah Katolik di Bandung guna mengirimkan wakil-wakilnya buat kami bantu dalam mempersiapkan Pramuka di sekolah masing-masing. Suatu langkah yang tidak akan mudah, karena bagaimana kami bisa berharap bahwa Uskup berani mempertaruhkan hal sepenting ini pada segelintir pemuda yang bahkan belum dikenalnya, sebab semuanya bukan warga Bandung. Tapi rupaya Tuhan memang menuntun kami, sehingga keluarlah anjuran Uskup yang dimaksud. Maka terlaksanalah apa yang kami namakan “kursus Pembina Pramuka TRIWIKRAMA” (nama ini adalah nama aji Batara Kresna dimana dewa itu berubah menjadi raksasa berkepala dan bertangan banyak menjelang perang Bharatayudha). Sejalan dengan ketentuan yang ada, kami melaporkan hal ini kepada Kwartir Gerakan Pramuka Kodya Bandung yang waktu itu untung diisi oleh bekas-bekas pandu yang simpatik terhadap gagasan kami seperti Kak Idik Sulaiman, Kak Joko Suyoso, Kak mayor Sediatmo dll.) Dan terlaksanalah kursus Triwikrama (ada yang mengistilahkan “Tiwikrama”) di sekolah Trinitas (jalan Waringin, Bandung), dimana sekolah-sekolah Santa Angela, Supratman, Cikutra, Pandu, Waringin, Jalan Jawa dan mungkin beberapa lagi yang saya sudah lupa, mengirimkan guru-guru (bahkan ada kepala sekolah yang ikut sendiri), dan oleh kami-kami beberapa ex-pandu (juga dibantu pimpinan Jeanne d’Arc seperti Kak Ria, Laura, Threes, Fin de Fretes, Sri, Monica, Lian, Murdiatun, dll) di”beri petunjuk” mengenai bagaimana nantinya membentuk pramuka di sekolah masing-masing. Tentunya menurut versi kami-kami, yang sejujurnya juga sendiri belum tahu apa dan bagaimana pramuka itu. Kursus yang berlangsung selama 3 hari itu (Jumat 1/12 s/d Minggu 3/12/ ’61) selesai dengan sukses (!). Keesokan harinya, tanggal 4 Desember 1961, Kakwarcab Bandung, May. Sediatmo meresmikan Gudep Bdg-19 kami, bersamaan dengan Bdg-6, Bdg-80, Bdg 14, Bdg-27, dll dll).

Tahun berikutnya, ketika Yosaphat Sudarso , seorang perwira Katolik, gugur diatas KRI Macan Tutul dalam perjoangan pembebasan Irian Barat pada tanggal 15 Januari 1962, Gugusdepan Bdg-19 mengambil nama tadi sebagai nama resmi Gugusdepan. Adapun Sint Joris (bahasa Belanda), atau Saint George (bahasa Inggris) yang dulu memang dianggap sebagai pelindung Kepanduan Katolik, otomatis juga diambil sebagai Santo pelindung Bdg-19. Itu sekedar dongeng mengenai berdirinya Bandung-19 kita ini. Mengenai Bandung-20, yang bisa berceritera mengenai ini tentunya Kak Toni, Kak Loeke dan rekan-rekan penerus, sebab kejadiannya setelah kami-kami generasi pertama meninggalkan kota Bandung.

Salam Tiga Jari

Kanda George

(342) view

Asal Usul Istilah PakCik, BuCik, dll

Paruh akhir tahun 1961. Dunia kepanduan diliputi kegalauan. Tersiar kabar bahwa Pemerintah akan menginstruksikan ditutupnya Kepanduan untuk digantikan dengan semacam Pioneer dinegara-negara blok Timur.  Rupanya Bung Karno sudah gemas melihat bagaimana para pemuda kita di tengah kemelut negara yang sedang menghadapi negara-negara “Nekolim” yang mengingkari janji-janji untuk mengembalikan Irian kepangkuan Tanah Air, tidak menunjukkan “greget” yang diharapkan dalam pembangunan Negara. Beliau merasa bahwa para pemuda yang bersetangan leher dan berlencana bunga bakung hanya sibuk belajar tali-menali, berkemah, dll. Tidak disadarinya, atau mungkin terlupa,  bahwa mereka mereka yang “menjadi Pandu Ibuku” pada perjoangan kemerdekaan,  yang berjoang di berbagai forum, adalah mereka-mereka yang pada masa remajanya memakai berbagai setangan leher dan saling  bersalaman dengan tangan kiri seperti saudara-saudara mereka di seluruh dunia.

Memang tidak banyak buku berceritera mengenai para remaja di Mafeking  yang berjasa dalam Perang Boer di Afrika Selatan, atau para pejoang remaja yang menembus hujan peluru di Shanghai dalam perang melawan Jepang. Mereka itu semuanya adalah cikal bakal atau penerus semangat Baden Powel. Bagaimanapun juga, instuksi Pemerintah telah dicanangkan, dan filsafat dan romantika pendidikan baru harus menggantikan  kisah-kisah  Mafeking dan  Kimbal O‘ Harra untuk pasukan Penggalangnya, dan Jungle Story yang mengisahkan Mowgli, si anak manusia didikan ajag yang diasuh oleh  Akela, induk serigala bersama Balu  si macan kumbang dan Baghera si beruang untuk anak-anak Siaga.  Semuanya itu sekarang dirangkai dengan falsafah Ki Hajar Dewantoro yang merangkum pendidikannya  menjadi “Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri Handayani” (didepan memberi teladan, ditengah ikut berkarya, dibelakang memberi dukungan). Dengan begitu, untuk para Siaga ini, yang harus memberi teladan adalah ayah bundanya, yang disebut  Yanda dan Bunda, dengan dibantu para paman dan bibi yang disebut Pakcik dan Bucik. Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun W.J.S. Poerwadarminta menjelaskan bahwa Pakcik adalah “bapak kecil atau paman”. Sayang saya tidak bisa menemukan uraian untuk Bucik, yang analog mestinya artinya juga “ibu kecil atau bibi”.

Dengan begitu kita mengenal untuk Bdg-19 adanya Bunda Irene, Yanda Yos Lie (Kie Djiang), Pakcik Eddy Wastuwidya (alm)., Bucik Hetty, Bucik Eveline, dll. Sedang untuk para Penggalang para kakak yang akan ikut berkarya bersama para Penggalang disebut sebagai Kanda. Dengan begitu kita mengenal Kanda Reyno (disebut juga Kanda Theng), Kanda Liem (Budi Nurwono), Kanda Go Ing Djien (saya lupa nama barunya), Kanda Bambang (ipar Kak Johnny dan Kak Danny),  Kanda George.  Para Kanda ini saling menyebut satu dengan yang lain sebagai Kak (seperti “Mas” dalam bahasa Jawa ?). Untuk para Penegak dan Pandega mereka menyebut pembina yang akan mendorong mereka dari belakang dengan sebutan Kak. Demikian kita mengenal Kak Jiwatampu, Kak Liem Siang Hok, dll. Itu pada generasi pertama Bdg-19 kita. Selanjutnya banyak lagi kita dapatkan Kanda-kanda, Bunda dan Yanda serta  Pakcik dan Bucik baru yang meneruskan estafet kepembinaan dari generasi-generasi awal.

Itu sedikit peenjelasan mengenai sebutan Pakcik, Bucik, dan lain lain.

 

Salam Tiga Jari

Kanda George

(836) view

Patung Odin

Odin
Patung Odin (since 1955)

Patung kayu itu dibuat oleh Jimmy Pefferkorn sewaktu Jamboree Nasional pertama di Pasar Minggu, Jakarta, tahun 1955. Jimmy adalah speurder (penegak) dari kelompok Pius XII.

Di paroki Katedral Bandung waktu itu ada kelompok Pandu Katolik : Tarcisius, Pius XII, dan Martin de Porres. Ketiganya mengirim perintis (penggalang putera) ke Jamboree tersebut dan membentuk satu pasukan di bawah Aalmoezenier Pastoor J. Berkhout OSC, yang bertindak sebagai Hopman, dan 4 pemimpin pasukan dari Martin de Porres ( Paul Wetik, Harry Ie, Louis Manupassa,dan Henry Pauw ) sebagai Vaandrig.

Satu regu speurders dari Tarcisius dan Pius XII, kira-kira 10 orang, ikut sebagai peninjau. Mereka ikut berkemah, tetapi tidak terlibat dalam kegiatan jamboree yang diutamakan bagi perintis, sehingga a.l. Jimmy mempunyai waktu luang untuk mengukir patung itu, yang saya ingat belum di-cat dan belum diberi nama. Jimmy sendiri kemudian ikut orang tuanya pindah ke Belanda.

Yang dapat ditanya mengenai jamboree tersebut adalah beberapa anak buah perintis dulu yang masih ada di Bandung, a.l. Peter Thio, Dr. Donny Koeswardono, Nelson Ie, dan Oekje Tong (Dr. Wuisan).

Salam Pandu (pramuka)

Paul Wetik

(301) view

Charcoal for Japan

CHARCOAL FOR JAPAN

Dear all,
Just got confirmation that Japanese Government gave approval receiving Donation Charcoal to Tsunami victims under one condition: all shipment addressed to ICCA Japan (International Charcoal Cooperative Association). Yayasan Dian Tama will organized it in Indonesia. Now any charcoal is matter for Greater Tokyo citizens. For the last few days temperature drop to 4 – 5 Celcius.

You can donate Rp 85.000 for 10 kg box. Each 2000 cartons will be shipped and arrive in Tokyo port in the next 14 days. 1 carton can warm up 1 family for 16 hours in room 5 x 5 m2 . Timing is crucial here. For donation process you can transfer to BCA # 287 133 4589 – Johny Wijanta Utama.

For Humanity

Johnny Utama

(235) view

In Memoriam: Anton Nur Hidayat

Ka Anton Alm. berdiri ke 4 dari kanan, saat Persami keluarga Agustus 2008 di Jaganala, Sumedang

Saya mengenal kak Anton sejak saya bergabung di B19 tahun 1966, saya waktu itu masuk regu kelinci dan kak Anton sudah bergabung terlebih dahulu di B19 di regu Harimau. Pada waktu tsb regu Harimau pemimpin regunya adalah kak Luke Hilman. Teman seangkatan kak Anton waktu itu kalau tidak salah adalah kak Tonny Tirtamulia (Tonny Lioe), Kak Luke Hilman atau angkatan dibawahnya yaitu kak Leonard Darmawan, kak Sugi Soedjana (alm), kak Okky Ackman, Kak Bartholomeus.

Kak Anton yang saya kenal merupakan pribadi yang kalem/tenang dan punya hobby membaca buku silat karangan Kho Ping Ho. Beliau juga dulu dikenal dengan panggilan Anton Entur karena kalau sedang bermain/bergurau suka menirukan gaya dari seseorang yg kurang waras yang bernama Entur. Pengalaman saya paling berkesan dengan beliau adalah waktu kami camping pada tahun awal 70an di kebun raya Cibodas bersama beberapa rekan lainnya dari B19 dan dia jugalah yang memberikan julukan saya sebagai Rudy Becak. Ini sedikit kenang2an saya bersama almarhum semasa hidupnya dan nanti kalau ada cerita2 yang mungkin teringat akan saya tambahkan, maklum sudah berlalu sekitar 40 tahunan masa2 tersebut. Selamat jalan Sobat/sahabatku, terima kasih untuk masa2 yang indah yang telah kita lalui bersama. Tuhan besertamu.

STJ
Rudy Budiman

Ka Anton alm, Kaos merah, jongkok di sebelah kanan

Anton teman sekelas saya, sama tony lioe, denny, paul kok alm, roy paat alm. juga, kemudian di B-19. Yang dikatakan rudy memang betul, dia adalah orang yang kalem dan sangat bersahabat dengan teman2nya. Termasuk saya.

Pada suatu hari dia menulis namanya dikertas, dan tulisan itu kurang bisa dibaca, sehingga terbaca seperti nama rusia, yaitu aiowik, yang sebetulnya itu dia tulis anton. Setelah itu dia suka disebut aiowik, tapi dia tenang aja dan tidak marah,

Itu dia kawan ku itu, sabar dan suka bergurau….

Sekarang dia tingal kenangan ….
Kita yang masih mengembara didunia, akan berjalan terus, membawa kenangan baik bersama dia.

Selamat jalan kawan

STJ
Bambang

Kaget sekali dengan berita duka ini.
terakhir kami ketemu almarhum saat Persami 17 Agustus 2008.
Beliau jadi Inspektur Upacara pada upacara benderanya.

Selamat jalan Kak Anton.
semoga mendapat istirahat kekal di sisi Bapa di surga.
semoga keluarga yg ditinggalkan tabah dan rela melepas kepergiannya.

salam duka,
tony yuti dan kel.

Ka Anton, Jongkok di sebelah kiri

(307) view