Secuplik acara KMD

Kursus Mahir Dasar Bandung 19-20 telah selesai dilaksanakan pada hari Minggu 28 Juli 2013. Banyak ilmu, kenangan dan kemahiran yang didapat dari kursus tersebut. Terima kasih untuk kakak-kakak pelatih, kakak-kakak peserta pelatihan yang jauh jauh datang dari Aloy maupun dari Jakarta. Terima kasih untuk transfer ilmu dan pengalaman, terutama saat api unggun, benar benar seperti acaranya Baden Powell.

Untuk rekan-rekan yang belum ikut, sebaiknya luangkan waktu sekitar 100 jam pelajaran selama 1 bulan, ilmu yang kita dapat pasti sangat bermanfaat.

Berikut, saya sampaikan cuplikan dari penutupan KMD kemarin

(358) view

Kursus mahir Dasar – Minggu 2

Walaupun terlambat liputan fotonya, mudah-mudahan tetap bisa menjadi dokumentasi salah satu rangkaian kegiatan penting di Gudep kita tercinta.

(278) view

Kursus Mahir Dasar – Minggu 1

Untuk pertama kali dalam sejarah, Bandung 19-20 mengadakan Kursus Mahir Dasar (KMD) yang digelar pagi tadi di Sanggar Bandung 19-20. Berita selengkapnya akan menyusul dalam minggu ini. Untuk sementara ini, silahkan baca featured news, liputan dari kakak-kakak redaksi Taman Pramuka (media online kwarcab Kota Bandung)

(522) view

Ulang Tahun Gudep

Sekarang sedikit mengenai tanggal 4 Desember 1961. Anda-anda melihat bahwa cukup lama waktu lewat sebelum saya menuliskan tulisan ini. Itu terutama disebabkan karena saya berupaya menemukan kembali catatan harian saya (berupa agenda-agenda) untuk kurun waktu itu. Tetapi sampai minggu lalu itu upaya tadi tidak berhasil. Yang ketemu cuma berbagai catatan berupa koleksi quotation dan puisi yang sedikit banyak mencerminkan jalan fikiran pada waktu itu. Juga usaha saya untuk mengkontak Kak Reyno buat mencocokan ingatan, tidak berhasil minggu lalu itu, karena beliau, menurut orang di rumahnya, sedang berada di luar kota. Karena itu tulisan ini tidak bisa saya konfirmasikan dengan records yang autentik, dan betul-betul cuma berdasar ingatan seorang tua (menjelang pikun ?) yang menurut kak Jiwatampu sudah kehilangan daya mampu sebagian neuronnya, hehe.

Begitulah menyambung skenario dalam tulisan yang terdahulu, pada perempat tahun terakhir dari tahun 1961 tersebut, kak Reyno dan saya sendiri, sebagai plonco-plonco di PMKRI Sancto Thomas Aquinas (Bandung) bertemu dengan beberapa senior yang juga berasal dari Semarang, dan berasal dari berbagai pasukan Kepanduan Katolik disana. Maka terjadilah diskusi yang hangat mengenai topik yang sedang hangat pada waktu itu: nasib gerakan Kepanduan. Setelah berbagai argumentasi pro dan kontra, kami sampai pada kesimpulan bahwa Kesetiaan pada Janji Pandu bukannya harus dibuktikan dengan sikap kecewa, ngambek (atau “mutung” dalam bahasa Jawa) terhadap gerakan baru yang bernama Pramuka ini, tapi justeru dengan sikap tanggung jawab yang diajarkan Baden Powell yang menuntut kami untuk berusaha memengerti, dan dimana bisa,ikut mengarahkan gerakan baru ini ke jalan yang menurut kami benar, yakni membina generasi muda dalam kemampuan mandiri, tanggung jawab, rasa sosial dan nasional, toleran dan tidak cengeng.
Caranya justeru dengan ikut serta dalam pembentukannya ! Kebetulan para senior itu (kak Hendropranoto, kak Mardi Hartanto dan seorang lagi: kak Tam Auw yang saya tidak tahu nama barunya) sebagai orang-orang yang sudah lebih lama tinggal di Bandung tahu bahwa pada waktu itu praktis semua Pasukan Kepanduan yang mereka kenal di paroki-paroki mereka sudah non-aktif. Satu yang mereka tahu masih ada cuma pasukan Jeanne d’Arc di Santa Angela. Maka kami diajak untuk melihat bagaimana meng”hidupkan kembali” semangat Baden Powell ini. Dengan sedikit (atau banyak?) nekat, kami berkesimpulan bahwa kekosongan yang pasti ada di sekolah-sekolah Katolik yang telah menerima instruksi Pemerintah untuk mendirikan Pramuka di tiap sekolah, merupakan kesempatan baik untuk memulai semua ini, karena menulisi kertas kosong pasti lebih mudah daripada mencobanya pada kertas yang sudah diisi tulisan. Dan disepakati suatu skenario yang “cantik”: Meminta bantuan uskup Bandung waktu itu, Monsigneur Arnzt OSC, untuk menganjurkan kepala-kepala sekolah Katolik di Bandung guna mengirimkan wakil-wakilnya buat kami bantu dalam mempersiapkan Pramuka di sekolah masing-masing. Suatu langkah yang tidak akan mudah, karena bagaimana kami bisa berharap bahwa Uskup berani mempertaruhkan hal sepenting ini pada segelintir pemuda yang bahkan belum dikenalnya, sebab semuanya bukan warga Bandung. Tapi rupaya Tuhan memang menuntun kami, sehingga keluarlah anjuran Uskup yang dimaksud. Maka terlaksanalah apa yang kami namakan “kursus Pembina Pramuka TRIWIKRAMA” (nama ini adalah nama aji Batara Kresna dimana dewa itu berubah menjadi raksasa berkepala dan bertangan banyak menjelang perang Bharatayudha). Sejalan dengan ketentuan yang ada, kami melaporkan hal ini kepada Kwartir Gerakan Pramuka Kodya Bandung yang waktu itu untung diisi oleh bekas-bekas pandu yang simpatik terhadap gagasan kami seperti Kak Idik Sulaiman, Kak Joko Suyoso, Kak mayor Sediatmo dll.) Dan terlaksanalah kursus Triwikrama (ada yang mengistilahkan “Tiwikrama”) di sekolah Trinitas (jalan Waringin, Bandung), dimana sekolah-sekolah Santa Angela, Supratman, Cikutra, Pandu, Waringin, Jalan Jawa dan mungkin beberapa lagi yang saya sudah lupa, mengirimkan guru-guru (bahkan ada kepala sekolah yang ikut sendiri), dan oleh kami-kami beberapa ex-pandu (juga dibantu pimpinan Jeanne d’Arc seperti Kak Ria, Laura, Threes, Fin de Fretes, Sri, Monica, Lian, Murdiatun, dll) di”beri petunjuk” mengenai bagaimana nantinya membentuk pramuka di sekolah masing-masing. Tentunya menurut versi kami-kami, yang sejujurnya juga sendiri belum tahu apa dan bagaimana pramuka itu. Kursus yang berlangsung selama 3 hari itu (Jumat 1/12 s/d Minggu 3/12/ ’61) selesai dengan sukses (!). Keesokan harinya, tanggal 4 Desember 1961, Kakwarcab Bandung, May. Sediatmo meresmikan Gudep Bdg-19 kami, bersamaan dengan Bdg-6, Bdg-80, Bdg 14, Bdg-27, dll dll).

Tahun berikutnya, ketika Yosaphat Sudarso , seorang perwira Katolik, gugur diatas KRI Macan Tutul dalam perjoangan pembebasan Irian Barat pada tanggal 15 Januari 1962, Gugusdepan Bdg-19 mengambil nama tadi sebagai nama resmi Gugusdepan. Adapun Sint Joris (bahasa Belanda), atau Saint George (bahasa Inggris) yang dulu memang dianggap sebagai pelindung Kepanduan Katolik, otomatis juga diambil sebagai Santo pelindung Bdg-19. Itu sekedar dongeng mengenai berdirinya Bandung-19 kita ini. Mengenai Bandung-20, yang bisa berceritera mengenai ini tentunya Kak Toni, Kak Loeke dan rekan-rekan penerus, sebab kejadiannya setelah kami-kami generasi pertama meninggalkan kota Bandung.

Salam Tiga Jari

Kanda George

(342) view

Asal Usul Istilah PakCik, BuCik, dll

Paruh akhir tahun 1961. Dunia kepanduan diliputi kegalauan. Tersiar kabar bahwa Pemerintah akan menginstruksikan ditutupnya Kepanduan untuk digantikan dengan semacam Pioneer dinegara-negara blok Timur.  Rupanya Bung Karno sudah gemas melihat bagaimana para pemuda kita di tengah kemelut negara yang sedang menghadapi negara-negara “Nekolim” yang mengingkari janji-janji untuk mengembalikan Irian kepangkuan Tanah Air, tidak menunjukkan “greget” yang diharapkan dalam pembangunan Negara. Beliau merasa bahwa para pemuda yang bersetangan leher dan berlencana bunga bakung hanya sibuk belajar tali-menali, berkemah, dll. Tidak disadarinya, atau mungkin terlupa,  bahwa mereka mereka yang “menjadi Pandu Ibuku” pada perjoangan kemerdekaan,  yang berjoang di berbagai forum, adalah mereka-mereka yang pada masa remajanya memakai berbagai setangan leher dan saling  bersalaman dengan tangan kiri seperti saudara-saudara mereka di seluruh dunia.

Memang tidak banyak buku berceritera mengenai para remaja di Mafeking  yang berjasa dalam Perang Boer di Afrika Selatan, atau para pejoang remaja yang menembus hujan peluru di Shanghai dalam perang melawan Jepang. Mereka itu semuanya adalah cikal bakal atau penerus semangat Baden Powel. Bagaimanapun juga, instuksi Pemerintah telah dicanangkan, dan filsafat dan romantika pendidikan baru harus menggantikan  kisah-kisah  Mafeking dan  Kimbal O‘ Harra untuk pasukan Penggalangnya, dan Jungle Story yang mengisahkan Mowgli, si anak manusia didikan ajag yang diasuh oleh  Akela, induk serigala bersama Balu  si macan kumbang dan Baghera si beruang untuk anak-anak Siaga.  Semuanya itu sekarang dirangkai dengan falsafah Ki Hajar Dewantoro yang merangkum pendidikannya  menjadi “Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri Handayani” (didepan memberi teladan, ditengah ikut berkarya, dibelakang memberi dukungan). Dengan begitu, untuk para Siaga ini, yang harus memberi teladan adalah ayah bundanya, yang disebut  Yanda dan Bunda, dengan dibantu para paman dan bibi yang disebut Pakcik dan Bucik. Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun W.J.S. Poerwadarminta menjelaskan bahwa Pakcik adalah “bapak kecil atau paman”. Sayang saya tidak bisa menemukan uraian untuk Bucik, yang analog mestinya artinya juga “ibu kecil atau bibi”.

Dengan begitu kita mengenal untuk Bdg-19 adanya Bunda Irene, Yanda Yos Lie (Kie Djiang), Pakcik Eddy Wastuwidya (alm)., Bucik Hetty, Bucik Eveline, dll. Sedang untuk para Penggalang para kakak yang akan ikut berkarya bersama para Penggalang disebut sebagai Kanda. Dengan begitu kita mengenal Kanda Reyno (disebut juga Kanda Theng), Kanda Liem (Budi Nurwono), Kanda Go Ing Djien (saya lupa nama barunya), Kanda Bambang (ipar Kak Johnny dan Kak Danny),  Kanda George.  Para Kanda ini saling menyebut satu dengan yang lain sebagai Kak (seperti “Mas” dalam bahasa Jawa ?). Untuk para Penegak dan Pandega mereka menyebut pembina yang akan mendorong mereka dari belakang dengan sebutan Kak. Demikian kita mengenal Kak Jiwatampu, Kak Liem Siang Hok, dll. Itu pada generasi pertama Bdg-19 kita. Selanjutnya banyak lagi kita dapatkan Kanda-kanda, Bunda dan Yanda serta  Pakcik dan Bucik baru yang meneruskan estafet kepembinaan dari generasi-generasi awal.

Itu sedikit peenjelasan mengenai sebutan Pakcik, Bucik, dan lain lain.

 

Salam Tiga Jari

Kanda George

(819) view

Patung Odin

Odin
Patung Odin (since 1955)

Patung kayu itu dibuat oleh Jimmy Pefferkorn sewaktu Jamboree Nasional pertama di Pasar Minggu, Jakarta, tahun 1955. Jimmy adalah speurder (penegak) dari kelompok Pius XII.

Di paroki Katedral Bandung waktu itu ada kelompok Pandu Katolik : Tarcisius, Pius XII, dan Martin de Porres. Ketiganya mengirim perintis (penggalang putera) ke Jamboree tersebut dan membentuk satu pasukan di bawah Aalmoezenier Pastoor J. Berkhout OSC, yang bertindak sebagai Hopman, dan 4 pemimpin pasukan dari Martin de Porres ( Paul Wetik, Harry Ie, Louis Manupassa,dan Henry Pauw ) sebagai Vaandrig.

Satu regu speurders dari Tarcisius dan Pius XII, kira-kira 10 orang, ikut sebagai peninjau. Mereka ikut berkemah, tetapi tidak terlibat dalam kegiatan jamboree yang diutamakan bagi perintis, sehingga a.l. Jimmy mempunyai waktu luang untuk mengukir patung itu, yang saya ingat belum di-cat dan belum diberi nama. Jimmy sendiri kemudian ikut orang tuanya pindah ke Belanda.

Yang dapat ditanya mengenai jamboree tersebut adalah beberapa anak buah perintis dulu yang masih ada di Bandung, a.l. Peter Thio, Dr. Donny Koeswardono, Nelson Ie, dan Oekje Tong (Dr. Wuisan).

Salam Pandu (pramuka)

Paul Wetik

(301) view