Berita Duka: Bapak Tularso Kuarno

Telah meninggal dunia, Bapak Tularso Kuarno, Ayahanda dari Kak Inez Wandita (pernah membina siaga 07020, seangkatan Kak Saretta N. Paramita cs.) pada tanggal 26 Juni 2013 di Bandung.

Jenazah disemayamkan di Bumi Baru 2, Ruang B. Kamis 27 Juni 2013 akan diadakan kebaktian tutup peti jam 19.00. Jumat 28 Juni 2013 kebaktian penghiburan jam 19.00, dan Sabtu 29 Juni 2013 kebaktian kremasi jam 9.00.

Ijinkan kami mewakili Keluarga Besar Gudep 07019-07020 menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Ayahanda Kak Inez. Semoga damai abadi selalu menyertai Pak Tularso & keluarga.

(462) view

In Memoriam Tony Lunandi

Saya mengenal ka Tony sama seperti mengenal kakak-kakak lain di B19. Tidak dapat dibilang kenal sangat dekat tidak juga jauh. Tetapi ada yang beda dari ka Tony, senyum dan kehangatan ka Tony memberikan nuansa tersendiri dalam persaudaraan di B19.

Malam ini saya mencoba mengingat kapan saya terakhir bertemu dengan ka Tony, ternyata hal yang membekas dalam ingatan saya tentang ka Tony adalah saat pernikahan ka Tony dan ka Yuti, kalau tidak saya di akhir bulan Februari beberapa puluh tahun lalu. Teringat terus senyum khas ka Tony yang sangat bahagia kala itu.

Saat awal saya mulai mengelola website B19, rasanya waktu itu sendiri di dunia luar tanpa mengetahui apa yang terjadi di lapangan, rasa frustrasi, hampir patah semangat sempat hadir, ada juga perasaan “ngapain ngurusin sesuatu yang ngga jelas mau diisi apa dan dibaca siapa”

Ka Tony lah yang menyemangati, yang membuat perasaan-perasaan negatif tersebut hilang, sebagai sesama orang yang berada di luar dan jauh dari sanggar ka Tony menyadarkan saya bahwa buah karya kita tidak hanya mendekatkan hati kita pada B19, tetapi juga bisa menyatukan dan mengakrabkan kita semua.

Ka Tony satu dari segelintir orang yang peduli dengan berdirinya web B19-20. Bukan hanya semangat yang ditularkan, tetapi juga buah karya ka Tony yang dikirim setiap hari selama beberapa hari. Menerima materi dari Ka Tony pada waktu itu bagaikan menerima bingkisan yang sangat berharga, karena ditengah kebingungan mau mengisi web dengan apa dengan tiba tiba dihujani banyak sekali materi dari ka Tony. (malam ini saya coba bongkar bongkar arsip, saya kirimkan sedikit karya ka Tony bisa saya temukan)

Terima kasih ka Tony, semangatmu akan terus saya jaga dan saya tularkan untuk rekan rekan yang lain.

Ka Yuti dan keluarga besar Lunandi, saya turut merasakan kesedihan atas kepergian ka Tony, tetapi seperti yang ka Johnny katakan, saya juga merasa bangga bahwa dalam hidup saya, saya sempat mengenal ka Tony.

Selamat jalan ka Tony.

(409) view

GOLDEN REUNION 2011

Salam Yos !

Setengah abad ! Waktu mengucapkan dan menuliskan kata-kata ini, serasa mimpi dan pikiran melayang diawang-awang lamunan. Terbayang wajah-wajah bergelak dan terngiang ditelinga teriakan kegaduhan tawa yang memenuhi udara di lapangan Aloysius 50 tahun yang lalu itu, dibawah langit biru, di lapangan hijau yang sama. Apalagi waktu melihat foto baliho Reuni kita yang amat inspiratif itu, serasa semua itu terjadi kemarin sore. Kalau di buku sejarah kita membaca kata „abad“, rasanya biasa-biasa saja: ya, itu artinya 100 tahun. Tapi kalau tiba-tiba kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kitalah pelaku sejarah dari peristiwa yang terjadi setengah abad yang lalu , terasa nadi berdenyut lebih kencang. Bukan sekedar mengenang waktu, tapi serasa sedang menonoton film kehidupan kita. Mulai berbaris di pelupuk mata wajah-wajah: baik anak-anak kita yang dulu kecil dan lucu, tapi hari ini sudah menjadi orang-orang dewasa yang bertanggung jawab atas keselamatan keluarga dan bangsa, maupun rekan-rekan sejawat yang hari ini sudah tiada. Terdengar gemuruh suara yang melatar belakangi tampilan wajah-wajah itu. Dan karena tempat kita berkumpul dulu itu bukan arena tari atau aula perhelatan pesta, tapi betul-betul gelanggang tanding berbagai perlombaan, maka juga suara yang terdengar bukan nyanyian sendu, melainkan“ raungan singa tua memecah udara menakutkan jantan betina“.

Entah kebetulan, waktu 3 hari yang lalu itu saya diminta mempersiapkan kata sambutan ini, kepada saya disodorkan booklet REUNI ’87 Gudep Bandung 0719 tertanggal 17 Januari 1987. Ketika saya membali-balik halaman buku kecil itu, saya temukan Renungan yang saya tulis untuk hari itu. Waktu itu saya sudah membuat headings untuk tulisan ini (seperti kebiasaan saya dalam mempersiapkan suatu tulisan). Dan saya tercengang bahwa apa-apa yang saya maksud untuk tulis hari ini, hampir seluruhnya tepat seperti apa yang sudah termuat dalam renungan itu. Kalau tanggal-tanggal dan tahunnya diganti dari 20 menjadi 50, ya begitu rasanya tulisan ini nanti jadinya. Mula-mula saya merasa terenyuh. Koq selama ini tidak ada kemajuan pada diri saya dalam pemikiran maupun perasaan saya. Baru setelah saya simak lebih jauh, saya lebih tenang. Karena yang saya tulis itu tentang hal-hal mendasar, rasanya tidak salah bahwa seseorang masih berpegang pada hal-hal yang sama walaupun menjalani tambahan rentetan tahun dalam hidupnya. Maka saya putuskan untuk menyampaikan renungan tadi dalam olahan yang lain. Jadi bagi rekan-rekan yang dulu sudah pernah membaca (dan mungkin masih sedkit ingat isinya) renungan tadi, maafkan saya untuk menghidangkan bahan setengah basi ini .

Waktu seorang anak berulang tahun pada usianya yang ke-5, anak itu sendiri belum banyak berpikir. Dan orang-orang yang memberikan selamat, biasanya mengucapkan harapan agar sianak „cepat besar, cepat pintar dll.“ Waktu anak berusia 15 tahun, sudah sekolah, banyak baca buku atau nonton TV, sianak tadi sudah bisa mimpi, ingin jadi entah pilot, atau cowboy, atau jenderal atau presiden dll. Dan biasanya ucapan selamat yang ia terima disertai harapan agar impiannya bisa terwujud. Ketika anak tadi merayakan ulang tahunnya yang ke25, selesai kuliah atau mulai bekerja dan melihat dunia nyata, dia sendiri akan meluruskan angan-angannya menjadi politisi, pengusaha sukses atau panglima, dll. Dan ucapan salamat yang ia terima juga akan berisi sanjungan atau dorongan pembesar hati bahwa „sebentar lagi“ dia akan jadi boss, atau menteri atau komandan pasukan dll.

Ketika seseorang atau suatu organisasi merayakan ulang tahunnya yang ke-50, merasa lelah dalam menjalani perjoangan, capai oleh berbagai kegagalan tapi juga diwarnai ke girangan oleh sukses yang dicapai disana-sini, dia akan beroleh kesempatan untuk merenungkan tahun-tahun yang lewat dalam kelelahan pergelutan yang lampau, tapi masih berpengharapan untuk mengisi sisa tahun-tahun yang menunggu. Maka sudah tibalah waktunya bagi dia untuk mempertanyakan arti hidupnya. Hidup yang yang oleh ibu Theresa dinyatakan sebagai:

“Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.
Hidup adalah keindahan, kagumi itu.
Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.
Hidup adalah tantangan , hadapi itu.
Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.
Hidup adalah pertandingan, jalani itu…………………….”

50 adalah usia pertengahan, tidak terlalu muda untuk secara arif belajar dari tahun-tahun dan kegagalan yang lalu; tapi juga tidak terlalu tua untuk membuang rasa penat dan tetap memacu diri buat menyelesaikan tugas-tugas yang belum rampung. Yang jelas, memeriksa dan menilai kembali arti hidup serta mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjoangan melunasi hutang-hutang yang masih tertinggal. Sedemikian rupa, sehingga nantinya Bandung-19/20, bisa menyatakan pada dunia bahwa “adanya tidak sia-sia, karena telah memberikan putera-puteri kesuma kepada dunia”
Selamat merayakan ulang tahun ke-50, dan sampai ketemu pada ulang tahun ke -60, -70 , -80 …100 ?

Jakarta, 17 Desember 2011

George The

(278) view