Kemah Kelana G & GS

Selamat malam kakak-kakak semua.
Sejak kemarin, G dan GS Bandung 19- 20 melakukan kemah kelana di area Sukawana. Didampingi oleh kak BA, kak Irene, Ka Augie dan Ka Darwin.

Berita terbaru yang diterima sore ini adalah adik-adik kelelahan karena aktivitas sehari penuh sejak pagi hingga sore tadi, tetapi selesai makan malam, ributnya ngga ketulungan (artinya masih pada waras dan sehat). Masih ada semalam dan sehari lagi perjalanan mereka, semoga keceriaan dan kesehatan bisa mendukung suksesnya perkemahan ini.

Sedikit oleh oleh dari lapangan yang dikirimkan kak BA sore tadi:

photo 2

photo 3

photo 4

photo 5

photo 1

(1465) view

Happy Birthday Bandung 20

Dear Bros & Sis,

Mohon maaf bahwa email ini dilayangkan setelah matahari terbenam.
Akan lebih baik kiranya apabila pada saat matahari terbit 14 jam yang lalu.

Tanggal 20 Juli 2014 ini sebenarnya adalah suatu hari yang penting bagi kita, yaitu :

HUT Gudep Bandung 07020 yang ke-24.

Disini disertakan cuplikan dari tulisan mengenai Sejarah Bandung 20, sbb :

Juli 1989 :
Menurut keterangan Kak Luke Hilman yang waktu itu menjabat sebagai Pembina Gudep, Kwartir Ranting mulai menerapkan peraturan yang mengharuskan Gugusdepan putra dan putri di satu pangkalan memakai angka yang berurutan.
Dalam penertiban ulang ini, setiap Gugusdepan diberi daftar isian, yang harus dikembalikan pada akhir bulan Juli, supaya sebelum peringatan Hari Pramuka selanjutnya, 14 Agustus 1989, data semua Gugusdepan sudah dapat dilaporkan lengkap ke Kwarnas.
Oleh karena itu pada tanggal 20 Juli 1989, Kak Luke memasukkan formulir isian yang mendaftarkan Bandung 07019 dan 07020 untuk Gugusdepan putra dan putri yang berlatih di pangkalan St. Aloysius. Dengan mengacu kepada peristiwa pendaftaran secara formil ini, Luke menyatakan bahwa Hari Lahir Gugusdepan Bandung 07020 adalah tanggal 20 Juli 1989.
Nama pahlawan nasional beragama Katolik dari Pulau Seram, Christina Martha Tiahahu, diambil sebagai nama Gugusdepan.

Catatan : Seperti yang kita ketahui bersama, sejarah Bandung 20 berkaitan dengan sejarah Bandung 6. Banyak tokoh Bandung 6 yang telah berperan serta dalam kelahiran Bandung 20.

Bersama ini kita ucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke 24 kepada Bandung 20.
Tidak sedikit waktu, pemikiran dan tenaga yang telah dicurahkan dalam mendirikan dan meneruskan sebuah gugusdepan putri bernama Bandung 07020 ini.
Kita berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pembina dan semuanya yang telah bekerja dan bercapai-lelah untuk kelangsungan Bandung 20, dan memberikan hatinya dan kasih sayang kepada anak didik.

Pada tahun depan, tanggal 20 Juli 2014, Bandung 20 akan berusia 25 tahun.
Siapa tahu kita bisa bereuni lagi pada hari Pesta Perak itu 🙂

STJ,
Danny

(344) view

Hasduk Berpola

Satu lagi film dengan latar belakang Pramuka. Rencana akan ditayangkan pada 21 Maret 2013, serentak di seluruh Indonesia. Jangan sampai ketinggalan!!

(303) view

Menarik dan Seru, Film Petualangan Anak-anak “Lima Elang”

Di tengah banyaknya keluhan orangtua dan masyarakat umum tentang tayangan sinetron maupun film-film layar lebar yang kurang mendidik, sebentar lagi kerinduan akan film nasional yang menarik, menghibur, dan mengandung nilai-nilai pendidikan bakal terjawab. Film petualangan anak-anak untuk semua umur berjudul “Lima Elang” bakal ditayangkan di bioskop-bioskop di Tanah Air.

“Lima Elang” yang berkisah tentang persahabatan dan petualangan lima anak yang dipertemukan menjelang dan dalam suatu perkemahan besar tingkat Kwartir Daerah, bisa disebut pula sebagai kado ulang tahun dalam rangka memperingati 50 Tahun (Tahun Emas) Gerakan Pramuka. Film itu memang merupakan kerjasama antara Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dengan SBO Films, suatu perusahaan film yang para pengelolanya telah sukses lewat sejumlah film, termasuk film “Garuda Di Dadaku”.

Bertindak selaku produser adalah Kemal Arsjad dan Salman Aristo. Yang disebut terakhir juga menulis skenario film tersebut. Sedangkan sutradaranya adalah Rudi Soedjarwo, yang sebelumnya telah sukses menelurkan 17 film layar lebar. Bertindak sebagai produser eksekutif adalah sejumlah nama, termasuk Ketua Kwartir Nasional, Prof.Dr.dr Azrul Azwar, MPH.

Setelah melalui proses persiapan cukup lama, selama sebulan penuh pada awal April 2011, dilaksanakan syuting film “Lima Elang” di sejumlah tempat. Dari pihak Kwarnas, juga ditunjuk tim supervisi teknis yang dipimpin Wakil Ketua Kwarnas, Kak Amoroso Katamsi. Sedangkan di lapangan untuk mendampingi tim produksi saat syuting berlangsung, ditunjuk Kak Berthold Sinaulan (Andalan Nasional) selaku kordinator, dengan anggota Kak Yusak Manitis (Staf Kwarnas) dan Kak Syarifah Alawiyah (Ketua Dewan Kerja Nasional).
Kak Berthold dan Kak Yusak bahkan sempat ikut syuting walaupun hanya menjadi extra (figuran), sebagai tamu dari Kwarnas yang diundang menghadiri perkemahan yang diadakan. Bahkan sang tamu akhirnya ikut juga dalam proses pencarian anak hilang. Ada anak hilang? Ya, itulah salah satu menarik dan serunya film tersebut. Nantikan dan tonton saja “Lima Elang” nantinya.

Selama proses syuting, juga cukup banyak kendala yang dihadapi. Hujan deras yang turun berkali-kali, sempat menunda syuting yang hampir sebagian besar dilakukan di alam terbuka. Belum lagi ada juga yang terkena lintah atau terkena daun tumbuhan yang menyebabkan tubuh gatal, seperti di Hutan Buru Kareumbi, yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Garut. Untunglah, kekompakan tim produksi, para talent, maupun extra, membuat pelaksanaan syuting tetap dapat diselesaikan pada awal Mei 2011.
Menurut rencana, film tersebut akan ditayangkan pada akhir Agustus 2011. Dan yang pasti, bakal ada satu lagi tontonan menarik dan bermutu di Indonesia. Redaksi KN, Berthold Sinaulan/Syarifah Alawiyah

Dikutip dari: Situs Gerakan Pramuka

(408) view

Monumen Pramuka Sedunia Bakal Dibangun di Lebak Harjo

Minggu, 19 Juni 2011 | 23:39 WIB

TEMPO Interaktif, Malang – Harijadi berjalan perlahan mendekati prasasti Community Development Camp (Comdeca) di Desa Lebak Harjo, Kabupaten Malang. Pada bagian atas prasasti terdapat patung empat pramuka penegak dan pandega memegang tiang bendera. “Pramuka membuka keterpencilan desa kami,” kata Harijadi, 79 tahun, warga Lebak Harjo, 65 kilometer selatan Kota Malang.

Dengan berseragam pramuka, Sabtu (18/6), Harijadi ikut berfoto bersama dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar di depan prasasti. Azrul yang ditemani pimpinan Kwarnas memang mengunjungi daerah ini untuk memantau persiapan Lebak Harjo sebagai Desa Pramuka dan rencana membangun Monumen Pramuka Sedunia. Azrul berharap monumen yang merupakan usulan Kwartir Daerah Jawa Timur itu dapat diresmikan tahun depan pada perayaan 100 tahun kepramukaan masuk ke Indonesia.

Dalam sejarah pramuka, Brownsea Island menjadi monumen atau tonggak karena merupakan lokasi diselenggarakannya perkemahan pramuka pertama kali pada 1907. Perkemahan di pulau yang terletak di selatan Inggris dan dipimpin Lord Baden Powell ini membidani kelahiran kepramukaan atau scouting.

Apa arti penting Lebak Harjo yang terletak di pesisir selatan Kabupaten Malang ? “Wilayah ini menjadi wahana kegiatan pramuka yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat,” kata Azrul Azwar. Pada 18 Juni sampai 29 Juli 1978, desa ini menjadi lokasi Perkemahan Wirakarya Nasional dan Perkemahan Wirakarya Asia yang pertama (1 st Asia Pasific Community Service Camp).

Perkemahan Wirakarya merupakan kegiatan bakti kepada masyarakat oleh penegak (usia 16-20 tahun) dan pandega (21-26). Kegiatan bakti ini diinspirasi oleh pidato Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada World Scout Conference ke-23 tahun 1971 di Tokyo, Jepang. Pidato Sultan HB IX yang ketika itu menjabat Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini, mendapat sambutan luas dan dianggap sebagai pembaruan dalam kegiatan kepramukaan di dunia.

Presiden Soeharto membuka perkemahan ini dan menandatangani prasasti bertuliskan: “Di sini kau berbakti, di sini kau mengabdi, di sini kau bina perdamaian dunia.” Ribuan pramuka dari dalam dan luar negeri membangun jalan tembus Lebak Harjo ke pantai Licin, jembatan Belly, masjid, gereja, los pasar desa, Puskesmas dan melakukan kegiatan pemberantasan buta huruf.

Pada 26 Juli hingga 8 Agustus 1993, Lebak Harjo menjadi lokasi Community Development Camp. Pramuka utusan dari seluruh dunia membangun jalan tembus Lebak Harjo ke Lebakroto (ibu kota kecamatan Ampelgading dan tempat pelelangan ikan. Mereka juga mengeraskan jalan Lebakharjo-Licin, renovasi masjid dan gereja serta bakti non-fisik.

Kwartir Nasional pada 1989 mengikutsertakan Lebak Harjo dalam ajang World Scout Competition on Habitat mewakili Indonesia dan meraih juara kedua. Lebak Harjo memang sengaja dipilih menjadi lokasi bakti masyarakat pramuka. “Karena daerahnya terpencil dan warga sulit menjual hasil buminya,” kata Haryadi, mantan Ketua Sanggar Kerja Perkemahan Wirakarya Asia yang pertama tahun 1978. Dewan Kerja Daerah Jawa Timur dimana Haryadi menjadi ketuanya, lantas mengusulkan Lebak Harjo sebagai tuan rumah pada kwarda dan kwartir nasional.

Dikutip dari: Tempo Interaktif

(1797) view

SURAT WASIAT BADEN POWELL

baden powell

Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 83, beliau berpesan kepada seluruh Pandu di dunia…

Pesannya adalah sebagai berikut :

“Pramuka-Pramuka yang kucinta :
Jika kamu pernah melihat sandiwara “Peter Pan”, maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikianlah halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri …………..
Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah !

Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !

Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam janji Pramukamu meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi – dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.

Temanmu,

( Ditemukan diantara kertas-kertas Baden Powell sepeninggalnya, pada 8 Januari 1941 )

(484) view

Ulang Tahun Gudep

Sekarang sedikit mengenai tanggal 4 Desember 1961. Anda-anda melihat bahwa cukup lama waktu lewat sebelum saya menuliskan tulisan ini. Itu terutama disebabkan karena saya berupaya menemukan kembali catatan harian saya (berupa agenda-agenda) untuk kurun waktu itu. Tetapi sampai minggu lalu itu upaya tadi tidak berhasil. Yang ketemu cuma berbagai catatan berupa koleksi quotation dan puisi yang sedikit banyak mencerminkan jalan fikiran pada waktu itu. Juga usaha saya untuk mengkontak Kak Reyno buat mencocokan ingatan, tidak berhasil minggu lalu itu, karena beliau, menurut orang di rumahnya, sedang berada di luar kota. Karena itu tulisan ini tidak bisa saya konfirmasikan dengan records yang autentik, dan betul-betul cuma berdasar ingatan seorang tua (menjelang pikun ?) yang menurut kak Jiwatampu sudah kehilangan daya mampu sebagian neuronnya, hehe.

Begitulah menyambung skenario dalam tulisan yang terdahulu, pada perempat tahun terakhir dari tahun 1961 tersebut, kak Reyno dan saya sendiri, sebagai plonco-plonco di PMKRI Sancto Thomas Aquinas (Bandung) bertemu dengan beberapa senior yang juga berasal dari Semarang, dan berasal dari berbagai pasukan Kepanduan Katolik disana. Maka terjadilah diskusi yang hangat mengenai topik yang sedang hangat pada waktu itu: nasib gerakan Kepanduan. Setelah berbagai argumentasi pro dan kontra, kami sampai pada kesimpulan bahwa Kesetiaan pada Janji Pandu bukannya harus dibuktikan dengan sikap kecewa, ngambek (atau “mutung” dalam bahasa Jawa) terhadap gerakan baru yang bernama Pramuka ini, tapi justeru dengan sikap tanggung jawab yang diajarkan Baden Powell yang menuntut kami untuk berusaha memengerti, dan dimana bisa,ikut mengarahkan gerakan baru ini ke jalan yang menurut kami benar, yakni membina generasi muda dalam kemampuan mandiri, tanggung jawab, rasa sosial dan nasional, toleran dan tidak cengeng.
Caranya justeru dengan ikut serta dalam pembentukannya ! Kebetulan para senior itu (kak Hendropranoto, kak Mardi Hartanto dan seorang lagi: kak Tam Auw yang saya tidak tahu nama barunya) sebagai orang-orang yang sudah lebih lama tinggal di Bandung tahu bahwa pada waktu itu praktis semua Pasukan Kepanduan yang mereka kenal di paroki-paroki mereka sudah non-aktif. Satu yang mereka tahu masih ada cuma pasukan Jeanne d’Arc di Santa Angela. Maka kami diajak untuk melihat bagaimana meng”hidupkan kembali” semangat Baden Powell ini. Dengan sedikit (atau banyak?) nekat, kami berkesimpulan bahwa kekosongan yang pasti ada di sekolah-sekolah Katolik yang telah menerima instruksi Pemerintah untuk mendirikan Pramuka di tiap sekolah, merupakan kesempatan baik untuk memulai semua ini, karena menulisi kertas kosong pasti lebih mudah daripada mencobanya pada kertas yang sudah diisi tulisan. Dan disepakati suatu skenario yang “cantik”: Meminta bantuan uskup Bandung waktu itu, Monsigneur Arnzt OSC, untuk menganjurkan kepala-kepala sekolah Katolik di Bandung guna mengirimkan wakil-wakilnya buat kami bantu dalam mempersiapkan Pramuka di sekolah masing-masing. Suatu langkah yang tidak akan mudah, karena bagaimana kami bisa berharap bahwa Uskup berani mempertaruhkan hal sepenting ini pada segelintir pemuda yang bahkan belum dikenalnya, sebab semuanya bukan warga Bandung. Tapi rupaya Tuhan memang menuntun kami, sehingga keluarlah anjuran Uskup yang dimaksud. Maka terlaksanalah apa yang kami namakan “kursus Pembina Pramuka TRIWIKRAMA” (nama ini adalah nama aji Batara Kresna dimana dewa itu berubah menjadi raksasa berkepala dan bertangan banyak menjelang perang Bharatayudha). Sejalan dengan ketentuan yang ada, kami melaporkan hal ini kepada Kwartir Gerakan Pramuka Kodya Bandung yang waktu itu untung diisi oleh bekas-bekas pandu yang simpatik terhadap gagasan kami seperti Kak Idik Sulaiman, Kak Joko Suyoso, Kak mayor Sediatmo dll.) Dan terlaksanalah kursus Triwikrama (ada yang mengistilahkan “Tiwikrama”) di sekolah Trinitas (jalan Waringin, Bandung), dimana sekolah-sekolah Santa Angela, Supratman, Cikutra, Pandu, Waringin, Jalan Jawa dan mungkin beberapa lagi yang saya sudah lupa, mengirimkan guru-guru (bahkan ada kepala sekolah yang ikut sendiri), dan oleh kami-kami beberapa ex-pandu (juga dibantu pimpinan Jeanne d’Arc seperti Kak Ria, Laura, Threes, Fin de Fretes, Sri, Monica, Lian, Murdiatun, dll) di”beri petunjuk” mengenai bagaimana nantinya membentuk pramuka di sekolah masing-masing. Tentunya menurut versi kami-kami, yang sejujurnya juga sendiri belum tahu apa dan bagaimana pramuka itu. Kursus yang berlangsung selama 3 hari itu (Jumat 1/12 s/d Minggu 3/12/ ’61) selesai dengan sukses (!). Keesokan harinya, tanggal 4 Desember 1961, Kakwarcab Bandung, May. Sediatmo meresmikan Gudep Bdg-19 kami, bersamaan dengan Bdg-6, Bdg-80, Bdg 14, Bdg-27, dll dll).

Tahun berikutnya, ketika Yosaphat Sudarso , seorang perwira Katolik, gugur diatas KRI Macan Tutul dalam perjoangan pembebasan Irian Barat pada tanggal 15 Januari 1962, Gugusdepan Bdg-19 mengambil nama tadi sebagai nama resmi Gugusdepan. Adapun Sint Joris (bahasa Belanda), atau Saint George (bahasa Inggris) yang dulu memang dianggap sebagai pelindung Kepanduan Katolik, otomatis juga diambil sebagai Santo pelindung Bdg-19. Itu sekedar dongeng mengenai berdirinya Bandung-19 kita ini. Mengenai Bandung-20, yang bisa berceritera mengenai ini tentunya Kak Toni, Kak Loeke dan rekan-rekan penerus, sebab kejadiannya setelah kami-kami generasi pertama meninggalkan kota Bandung.

Salam Tiga Jari

Kanda George

(342) view

Sejarah Kepramukaan Indonesia

A. Pendahuluan

Pendidikan Kepramukaan di Indonesia merupakan salah satu segi pendidikan nasional yang penting, yang merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Untuk itu perlu diketahui sejarah perkembangan Kepramukaan di Indonesia.

B. Sejarah Singkat Gerakan Pramuka

Gagasan Boden Powell yang cemerlang dan menarik itu akhirnya menyebar ke berbagai negara termasuk Netherland atau Belanda dengan nama Padvinder. Oleh orang Belanda gagasan itu dibawa ke Indonesia dan didirikan organisasi oleh orang Belanda di Indonesia dengan nama NIPV (Nederland Indische Padvinders Vereeniging = Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda).

Oleh pemimpin-pemimpin gerakan nasional dibentuk organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik dan menjadi kader pergerakan nasional. Sehingga muncul bermacam-macam organisasi kepanduan antara lain JPO (Javaanse Padvinders Organizatie) JJP (Jong Java Padvindery), NATIPIJ (Nationale Islamitsche Padvindery), SIAP (Sarekat Islam Afdeling Padvindery), HW (Hisbul Wathon).

Dengan adanya larangan pemerintah Hindia Belanda menggunakan istilah Padvindery maka K.H. Agus Salim menggunakan nama Pandu atau Kepanduan.

Dengan meningkatnya kesadaran nasional setelah Sumpah Pemuda, maka pada tahun 1930 organisasi kepanduan seperti IPO, PK (Pandu Kesultanan), PPS (Pandu Pemuda Sumatra) bergabung menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Kemudian tahun 1931 terbentuklah PAPI (Persatuan Antar Pandu Indonesia) yang berubah menjadi BPPKI (Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia) pada tahun 1938.

Pada waktu pendudukan Jepang Kepanduan di Indonesia dilarang sehingga tokoh Pandu banyak yang masuk Keibondan, Seinendan dan PETA.

Setelah tokoh proklamasi kemerdekaan dibentuklah Pandu Rakyat Indonesia pada tanggal 28 Desember 1945 di Sala sebagai satu-satunya organisasi kepanduan.

Sekitar tahun 1961 kepanduan Indonesia terpecah menjadi 100 organisasi kepanduan yang terhimpun dalam 3 federasi organisasi yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) berdiri 13 September 1951, POPPINDO (Persatuan Pandu Puteri Indonesia) tahun 1954 dan PKPI (Persatuan Kepanduan Puteri Indonesia)

Menyadari kelemahan yang ada maka ketiga federasi melebur menjadi satu dengan nama PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Karena masih adanya rasa golongan yang tinggi membuat Perkindo masih lemah. Kelemahan gerakan kepanduan Indonesia akan dipergunakan oleh pihak komunis agar menjadi gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara komunis. Akan tetapi kekuatan Pancasila dalam Perkindo menentangnya dan dengan bantuan perdana Menteri Ir. Juanda maka perjuangan menghasilkan Keppres No. 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka yang pada tanggal 20 Mei 1961 ditandatangani oleh Pjs Presiden RI Ir Juanda karena Presiden Soekarno sedang berkunjung ke Jepang.

Di dalam Keppres ini gerakan pramuka oleh pemerintah ditetapkan sebagai satu-satunya badan di wilayah Indonesia yang diperkenankan menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, sehingga organisasi lain yang menyerupai dan sama sifatnya dengan gerakan pramuka dilarang keberadaannya.

C. Perkembangan Gerakan Pramuka

Ketentuan dalam Anggaran Dasar gerakan pramuka tentang prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaannya seperti tersebut di atas ternyata banyak membawa perubahan sehingga pramuka mampu mengembangkan kegiatannya. Gerakan pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan cepat berkembang dari kota ke desa.

Kemajuan Gerakan Pramuka akibat dari sistem Majelis Pembimbing yang dijalankan di tiap tingkat, dari tingkat Nasional sampai tingkat Gugus Depan. Mengingat kira-kira 80 % penduduk Indonesia tinggal di pedesaan dan 75 % adalah petani maka tahun 1961 Kwarnas Gerakan Pramuka menganjurkan supaya para pramuka mengadakan kegiatan di bidang pembangunan desa. Pelaksanaan anjuran ini terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat menarik perhatian Pimpinan Masyarakat.

Maka tahun 1966 Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama pembentukan Satuan Karya Taruna Bumi. Kemudian diikuti munculnya saka Bhayangkara, Dirgantara dan Bahari. Untuk menghadapi problema sosial yang muncul maka pada tahun 1970 menteri Transmigrasi dan Koperasi bersama dengan Ka Kwarnas mengeluarkan instruksi bersama tentang partisipasi gerakan pramuka di dalam penyelenggaraan transmigrasi dan koperasi. Kemudian perkembangan gerakan pramuka dilanjutkan dengan berbagai kerjasama untuk peningkatan kegiatan dan pembangunan bangsa dengan berbagai instansi terkait.

dikutip dari: Pramuka Indonesia

(174) view

Sejarah Kepanduan Dunia

A. Pendahuluan
Kalau kita mempelajari sejarah pendidikan kepramukaan kita tidak dapat lepas dari riwayat hidup pendiri gerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Hal ini disebabkan pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara Inggris. Pembinaan remaja inilah yang kemudian tumbuh berkembang menjadi gerakan kepramukaan.

B. Riwayat hidup Baden Powell
Lahir tanggal 22 Pebruari 1857 dengan nama Robert Stephenson Smyth. Ayahnya bernama powell seorang Professor Geometry di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil. Pengalaman Baden Powell yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan banyak sekali dan menarik diantaranya :
Karena ditinggal bapak sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya.
Dari kakaknya mendapat latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain-lainnya.
Sifat Baden Powell yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya.
Pengalaman di India sebagai pembantu Letnan pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang di puncak gunung serta keberhasilan melatih panca indera kepada Kimball O’Hara.
erkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
Pengalaman ini ditulis dalam buku “Aids To Scouting” yang merupakan petunjuk bagi Tentara muda Inggris agar dapat melaksanakan tugas penyelidik dengan baik.
William Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan pengalaman beliau itu. Kemudian dipanggil 21 pemuda dari Boys Brigade di berbagai wilayah Inggris, diajak berkemah dan berlatih di pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari.
Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.

C. Sejarah Kepramukaan Sedunia
Awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan negara-negara lain yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout.
Tahun 1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian diteruskan oleh istri beliau. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai pedoman kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara di hutan oleh induk serigala.
Tahun 1918 beliau membentuk Rover Scout bagi mereka yang telah berusia 17 tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia.
Tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
Tahun 1924 Jambore II di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
Tahun 1929 Jambore III di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
Tahun 1933 Jambore IV di Godollo, Budapest, Hongaria
Tahun 1937 Jambore V di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
Tahun 1947 Jambore VI di Moisson, Perancis
Tahun 1951 Jambore VII di Salz Kamergut, Austria
Tahun 1955 Jambore VIII di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
Tahun 1959 Jambore IX di Makiling, Philipina
Tahun 1963 Jambore X di Marathon, Yunani
Tahun 1967 Jambore XI di Idaho, Amerika Serikat
Tahun 1971 Jambore XII di Asagiri, Jepang
Tahun 1975 Jambore XIII di Lillehammer, Norwegia
Tahun 1979 Jambore XIV di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
Tahun 1983 Jambore XV di Kananaskis, Alberta, Kanada
Tahun 1987 Jambore XVI di Cataract Scout Park, Australia
Tahun 1991 Jambore XVII di Korea Selatan
Tahun 1995 Jambore XVIII di Belanda
Tahun 1999 Jambore XIX di Chili, Amerika Selatan
Tahun 2003 Jambore XX di Thailand
Tahun 2007 Jambore XXI di Inggris
Tahun 2011 Jambore XXII di Swedia

Tahun 1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.
Tahun 1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
Sejak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson (Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen.
Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.

Ditulis oleh : Drs. Ringsung Suratno, M.Pd
Dikutip dari: Pramuka Indonesia
Dilengkapi oleh: tukang web Bandung 19-20

(630) view