TEMU PEMBINA III

TB III TKK MNPK
(Pertemuan Pembina III Tim Kerja Kepramukaan Majelis Nasional Pendidikan Katolik)
20-26 Juni 2016
Klaten @ Pusdiklatpur

Setelah beberapa kali pertemuan untuk berlatih dan mempersiapkan keikutsertaan di TB III ini, kami menghadiri Misa Pemberangkatan yang dipimpin oleh Moderator TKK MPK Bandung Pst.Hilman, Pr.
Pelepasan Sabtu 18 Juni 2016 pk.18.00 dari Santa Angela, Jl. Merdeka Bandung. Sebanyak 24 pembina putri dan 25 pembina putra berangkat menggunakan bus melalui jalur selatan.

Kami mengikuti misa mingguan di Kota baru, Yogyakarta, barulah kemudian kami memasuki kota Klaten.
Tiba di Pusdiklatpur sekitar pukul 10 pagi, kami mendirikan tenda dan mengatur area perkemahan pasukan, yang dilengkapi dengan tenda dapur, pagar, tiang jemuran, tempat sepatu, dll. Sore harinya kami sudah mulai membiasakan diri dengan panasnya udara di Klaten. Kami pun berkoordinasi dengan struktur perkemahan, yaitu dengan Kepala SubCamp Ratu Boko. Koordinasi ini untuk menentukan jadwal pertemuan serta macam panggilan. Subcamp kami dapat alat panggilan berupa kentungan. Kami juga membagi tugas untuk kegiatan subcamp harian yaitu olah raga, misa, apel pagi, dan apel sore.

Untuk perkemahan ini ada empat Subcamp yang dinamai dengan empat nama candi legendaris di Jawa Tengah, yaitu Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, dan Kalasan. Tiap subcamp terdiri dari delapan pasukan. Tiap pasukan terdiri dari empat regu. Pasukan diberi nama sesuai nama-nama pasukan di Keraton Yogyakarta. Pasukan kami mendapatkan nama “Ketanggung”. Penamaan pasukannya menurut saya sangat menarik, apalagi di tiap kantor subcamp dipasangi poster yang menjelaskan asal usul nama pasukan Keraton tersebut. Saya terheran-heran membaca ada nama pasukan ‘Bugis’ dan Daeng’. Ya, karena kedua nama tersebut sangat kental hubungannya dengan daerah Sulawesi. Dan memang ternyata kedua pasukan tersebut memang berasal dari Sulawesi, namun karena perlakuan dan perlindungan dari Sultan maka kedua pasukan tersebut menjadi pasukan yang loyal dan tetap dipertahankan menyandang nama daerah asalnya.

IMG_3705

Senin, 20 Juni 2016
Misa Pembukaan dilanjutkan dengan upacara dan defile dari semua kontingen. Total ada 16 keuskupan yang mengirimkan kontingennya. TKK MPK KAJ mengirimkan paling banyak peserta, yaitu hampir 150 orang.
Selasa, Kamis, Jumat dan Sabtu kami mengikuti kegiatan yang sudah dijadwalkan sesuai buku panduan. Kegiatan di empat hari ini berbentuk wide game. Hal yang unik dalam kegiatan ini adalah penggunaan teknologi berupa pencatatan kehadiran melalui RFID (Radio Frequency Identification Device) dan pelaporan maupun pemberian instruksi melalui aplikasi Dropbox. Kegiatan yang disediakan oleh panitia adalah Educational Tour, Scoutpreneurship, Inter-religion, Multi Culture, Scout Councelling, Pioneering, Wisata Budaya, dan Penjelajahan. Sedangkan Pentas Budaya merupakan kegiatan yang diadakan oleh peserta dan untuk peserta juga, yang menampilkan pertunjukan budaya daerah asal kontingen ybs.

Hari Rabu, 22 Juni 2016 adalah hari Wisata Budaya, dengan tujuan utama ke Keraton Yogyakarta untuk audiensi dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X, kemudian dilanjutkan dengan menyaksikan Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Menyaksikan sendratari juga merupakan pengalaman yang luar biasa, karena saya menyaksikan keindahan gerak tubuh mulai dari yang sangat gemulai hingga yang gesit jenaka maupun ‘kasar’. Apalagi background-nya adalah Candi Prambanan yang megah. Pikiran saya pun melayang, membayangkan peserta didik mengalami hal ini kemudian ada yang terpanggil untuk mendalami olah tubuh dan olah rasa seperti tampilan ini, turut mengharumkan budaya bangsa kita.

Salah satu pesan Sri Sultan untuk para Pembina Pramuka adalah pembina harus dapat kreatif, namun tetap memiliki jati diri bangsa Indonesia. Supaya modern tapi tidak menjadi kebarat-baratan.

IMG-20160625-WA0009

Hari Kamis 23 Juni, regu saya mendapatkan jatah Duty Patrol. Selama sehari ini kami tinggal di perkemahan dengan tugas utama memasak untuk pasukan kami, serta menjaga kebersihan dan kerapian perkemahan. Tugas memasak menjadi menantang karena kami hanya diperbolehkan menggunakan kompor tradisional yaitu anglo, dengan bahan bakar arang. Untungnya ada satu yang pernah memasak mengunakan anglo. Jadi kami pun membagi tugas, ada juru masak, asisten juru masak, juru cuci, juru tenda, dan juru bantu macam-macam.
Tugas kami hari itu menjadi lebih berat daripada Duty Patrol di hari-hari lainnya, karena sehari sebelumnya, hujan deras membasahi perkemahan kami, jadi banyak yang harus kami jemur dan lap. Tapi bagi pramuka, segala situasi bisa dibawakan menjadi menyenangkan. Apalagi karena saat menjalankan tugas Duty Patrol kami dapat kesempatan mengunjungi stand subcamp yang menyajikan pengalaman baru, yaitu membatik, membuat lagu, dan menganyam. Membatik adalah pengalaman yang luar biasa! Melalui membatik, kita melatih diri untuk memiliki perencanaan, kesabaran, ketekunan, dan kemampuan menghargai.

IMG_20160624_181615

Keberadaan WC yang tersebar cukup jauh dan jumlahnya kurang banyak, membuat kami harus antri untuk mandi maupun buang air. Untuk mandi pagi sebagian dari kami harus bangun pk.04.00. Tapi yang saya suka adalah saat mengantri ini kami dapat kesempatan bertukar cerita tentang gudep masing-masing. Kami dapat informasi berharga yang mungkin dapat diterapkan kelak.

Selama perkemahan, kami dibantu oleh adik-adik Penegak yang menyediakan diri menjadi Service Team. Mereka rajin-rajin dan cekatan. Adik-adik penegak ini pun berasal dari berbagai keuskupan.

Kegiatan Multi Culture yang kami ikuti berisi kegiatan ‘mepeed’ yaitu membuat sesajian khas Bali. Tapi saat yang menegangkan adalah saat kami harus memboyong mepeed di atas kepala kami. Kami juga berlatih tari ‘Ndopyak’ yang merupakan tarian khas Klaten. Tarian ini ada bagian yang lincah, namun juga ada yang kalem. Saat menarikan ini, kami diminta memakai stagen dan jarik (kain panjang). Rencananya semua peserta akan menampilkan tarian ini pada malam terakhir Pentas Budaya, namun tidak jadi dilaksanakan karena kendala waktu.

mepeed

Hari Sabtu 25 Juni, kami melakukan Penjelajahan dan Pioneering. Penjelajahan menjadi menarik karena untuk menuju beberapa pos yang sudah ditentukan, kami mengikuti aneka tanda jejak. Wah, boleh juga nih untuk dipraktikkan bersama peserta didik! Selain mengikuti tanda jejak, kami juga diberi tugas membuat peta pita, peta lapangan, dan peta perjalanan. Sebelum pemberangkatan, pelatih berpesan supaya kami mengutamakan proses daripada hasil, dan diharapkan peserta dapat mengalami sungguh proses pembelajaran. Rekan-rekan seregu antusias mempelajari peta pita dan peta lapangan dari saya. Saya yang paling bisa pun ternyata masih ada kekurangan. Tapi dengan menjadi yang paling bisa kemudian berbagi dengan teman-teman membuat saya semakin ingin belajar supaya di lain kali saya bisa membagikan hal yang lebih benar.
Yang menarik lagi dari kegiatan Penjelajahan adalah cara memberikan instruksi yang dikemas dalam narasi tertentu, dan ada tugas dimana kami harus membeli melon. Melon tersebut ternyata sudah dimasukkan pesan, sehingga saat dibelah, pesan tersebut baru dapat kami olah. Seru deh, seakan ini menjadi sebuah misi rahasia.

IMG-20160625-WA0057

Pada pos pioneering kami mendapatkan tugas yang dikemas dalam sebuah narasi yaitu situasi kami terjebak di suatu tempat terpencil dan kami harus membuat sebuah menara pandang untuk memungkinkan kami mengirimkan pesan dengan semaphore. Pelatih kami, kak Prapto, sangat sabar, dan sambil mengamati proses kerja kami, beliau juga memotivasi, memberikan kesempatan kami berbuat ‘salah’ yaitu saat kami memaksakan memakai ikatan palang, bukan ikatan silang, sehingga ikatan kami kurang kuat.

IMG-20160625-WA0086

Banyak sekali yang saya dapatkan selama kegiatan TB III. Dan saya sangat berterima kasih untuk dukungan Pandu Adi B19-20 yang memungkinkan saya mengikuti kegiatan ini. Harapan saya, berikutnya lebih banyak pembina B19-20 yang bisa ikut serta kegiatan seperti ini, supaya pendidikan yang diberikan di Gudep tercinta kita dapat lebih terintegrasi dan berdaya guna bagi peserta didik. VIVAT YOS !

(25) view

Kumpul Kumpul Bandung 20

bandung 20

bandung 19-20

bandung 19-20

Acara kumpul bareng tanpa rencana, terjadi pada tanggal 30 Mei 2015, saat para anggota Bandung 20 mampir ke sanggar. Ayo sering sering mampir ke sanggar.

 

 

(134) view

Perubahan Pengurusan PASPOR RI

Informasi ini di-copy-paste dari surat elektronik dari Kak Djodi P. Dimjati di Milis Keluarga Besar B19 dan B20 . Secara pribadi Kak Djodi belum memeriksa ulang kebenaran berita ini, tetapi ada baiknya juga ditayangkan di Pangkalan Maya kita. Bukan tidak mungkin salah satu pengunjung ada yang dapat memberi kejelasan atau konfirmasi mengenai hal ini.
Update akan dilakukan bila ada informasi terkini mengenai topik pengurusan paspor RI ini.

Selamat membaca.

Selamat pagi semua…selamat memulai aktifitas.

Saya belum periksa, semoga informasi ini benar adanya:

Kepada khayalak ramai diberitahukan bahwa format Paspor RI mulai awal bln Sept mengalami perubahan yg sangat signifikan yakni tdk adanya lagi halaman legalisasi Kepala Kantor Imigrasi. Tdk perlu panik apabila akan ke LN termasuk Umroh dan Haji dgn mendatangi Kantor Imigrasi sehingga terjadi peningkatan pelayanan. Paspor model lama tetap berlaku dgn secara bertahap akan ditarik apabila telah hbs masa berlaku. Paspor model baru mengikuti standard ICAO yg diberlakukan dan diikuti oleh paspor2 neg2 seluruh dunia paling lambat th 2015. Penuh dgn security fiture yg bisa dilihat kasat mata maupun dgn bantuan alat dan dpt dibaca Machine Readable Passport yg terpasang di tempat2 pemeriksaan imigrasi pada negara yg akan dikunjungi. Tolong pemberitahuan ini disebarluaskan kpd seluruh handai taulan untuk menghindari ekses mis penipuan,percaloan dan perbuatan oknum yg tdk bertanggung jawab mengingat konsumen Paspor terdiri dari seluruh lapisan masy dan usia dari mulai tenaga kerja yg rentan menjadi obyek penipuan dan jamaah haji dan umroh yg kurang mendapatkan informasi ttg paspor.

Secara perlahan akhir tahun ini percaloan akan hilang karena permohonan akan diproses melalui system berdasarkan no antrian elektronik dan SEHARI JADI. System akan on line dgn BNI dan pembayaran dilakukan disana. Tdk ada lalu lintas uang lagi di Kantor Imigrasi. Uji coba skg lagi dilakukan di Kantor Img jkt Barat dan jkt Pusat. Pelayanan sehari jadi. Silahkan kunjungi kedua kantor itu.

Salam tiga jari,
Djodi

(321) view

Kursus Mahir Dasar – Minggu 4

Masih ingat KIM pendengaran? Kurang lebih begitulah cara menikmati video berikut ini.

Rekaman disajikan apa adanya. Karena keterbatasan kemampuan kamera, hanya tertangkap nyala api unggun saja. Jadi silakan bayangkan apa yang terjadi melalui suara yang terdengar. Anggap saja KIM pendengaran. 🙂

Untuk melengkapi, silakan lihat juga foto-foto kegiatan camping KMD 2013 berikut ini:

(344) view

Secuplik acara KMD

Kursus Mahir Dasar Bandung 19-20 telah selesai dilaksanakan pada hari Minggu 28 Juli 2013. Banyak ilmu, kenangan dan kemahiran yang didapat dari kursus tersebut. Terima kasih untuk kakak-kakak pelatih, kakak-kakak peserta pelatihan yang jauh jauh datang dari Aloy maupun dari Jakarta. Terima kasih untuk transfer ilmu dan pengalaman, terutama saat api unggun, benar benar seperti acaranya Baden Powell.

Untuk rekan-rekan yang belum ikut, sebaiknya luangkan waktu sekitar 100 jam pelajaran selama 1 bulan, ilmu yang kita dapat pasti sangat bermanfaat.

Berikut, saya sampaikan cuplikan dari penutupan KMD kemarin

(358) view

Happy Birthday Bandung 20

Dear Bros & Sis,

Mohon maaf bahwa email ini dilayangkan setelah matahari terbenam.
Akan lebih baik kiranya apabila pada saat matahari terbit 14 jam yang lalu.

Tanggal 20 Juli 2014 ini sebenarnya adalah suatu hari yang penting bagi kita, yaitu :

HUT Gudep Bandung 07020 yang ke-24.

Disini disertakan cuplikan dari tulisan mengenai Sejarah Bandung 20, sbb :

Juli 1989 :
Menurut keterangan Kak Luke Hilman yang waktu itu menjabat sebagai Pembina Gudep, Kwartir Ranting mulai menerapkan peraturan yang mengharuskan Gugusdepan putra dan putri di satu pangkalan memakai angka yang berurutan.
Dalam penertiban ulang ini, setiap Gugusdepan diberi daftar isian, yang harus dikembalikan pada akhir bulan Juli, supaya sebelum peringatan Hari Pramuka selanjutnya, 14 Agustus 1989, data semua Gugusdepan sudah dapat dilaporkan lengkap ke Kwarnas.
Oleh karena itu pada tanggal 20 Juli 1989, Kak Luke memasukkan formulir isian yang mendaftarkan Bandung 07019 dan 07020 untuk Gugusdepan putra dan putri yang berlatih di pangkalan St. Aloysius. Dengan mengacu kepada peristiwa pendaftaran secara formil ini, Luke menyatakan bahwa Hari Lahir Gugusdepan Bandung 07020 adalah tanggal 20 Juli 1989.
Nama pahlawan nasional beragama Katolik dari Pulau Seram, Christina Martha Tiahahu, diambil sebagai nama Gugusdepan.

Catatan : Seperti yang kita ketahui bersama, sejarah Bandung 20 berkaitan dengan sejarah Bandung 6. Banyak tokoh Bandung 6 yang telah berperan serta dalam kelahiran Bandung 20.

Bersama ini kita ucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke 24 kepada Bandung 20.
Tidak sedikit waktu, pemikiran dan tenaga yang telah dicurahkan dalam mendirikan dan meneruskan sebuah gugusdepan putri bernama Bandung 07020 ini.
Kita berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pembina dan semuanya yang telah bekerja dan bercapai-lelah untuk kelangsungan Bandung 20, dan memberikan hatinya dan kasih sayang kepada anak didik.

Pada tahun depan, tanggal 20 Juli 2014, Bandung 20 akan berusia 25 tahun.
Siapa tahu kita bisa bereuni lagi pada hari Pesta Perak itu 🙂

STJ,
Danny

(344) view

Kursus mahir Dasar – Minggu 2

Walaupun terlambat liputan fotonya, mudah-mudahan tetap bisa menjadi dokumentasi salah satu rangkaian kegiatan penting di Gudep kita tercinta.

(278) view

Kursus Mahir Dasar – Minggu 1

Untuk pertama kali dalam sejarah, Bandung 19-20 mengadakan Kursus Mahir Dasar (KMD) yang digelar pagi tadi di Sanggar Bandung 19-20. Berita selengkapnya akan menyusul dalam minggu ini. Untuk sementara ini, silahkan baca featured news, liputan dari kakak-kakak redaksi Taman Pramuka (media online kwarcab Kota Bandung)

(522) view

Latihan Sabtu 2013

Barusan saja, adik-adik penggalang meninggalkan kota Bandung untuk perkemahan ke Batu Karas yang akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 25 Juni nanti. Oleh karena itu latihan Sabtu tanggal 29 Juni ditiadakan, dan untuk penggalang akan mulai berlatih kembali pada tanggal 5 Juli 2013.

Untuk adik-adik siaga sudah mulai libur latihan sejak hari ini, dan latihan kembali diadakan pada tanggal 20 Juli 2013.

Selamat berlibur.

(263) view

Camp Penutupan Kaderisasi 2013


Bagian I

Perjalanan & Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013
Penggalang Gudep 07019-07020
Batukaras, 22-25 Juni 2013

Berangkat & Perjalanan Malam

Perkemahan pertengahan tahun 2013 pasukan penggalang ini mengambil tema “Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013”. Berjudul demikian, karena kegiatan ini adalah akhir dari program Kaderisasi 2013 yang dimulai di bulan Februari 2013 dengan LT-1. Peserta perkemahan total adalah 25 orang, terdiri dari 16 orang penggalang putra-putri dan 9 orang pembina & penegak. Termasuk dalam tim pembina – penegak adalah bintang tamu kita Kak Saretta N. Paramita yang sedang mudik dalam rangka liburan kuliah. Welcome home Kak Retta!

Satu hal penting yang perlu dilaporkan, ini adalah perkemahan pertama bagi sebagian besar peserta penggalang yang berlokasi lebih dari 2 jam perjalanan dari Bandung, dengan durasi lebih dari semalam, dan tidak bertempat di bumi perkemahan. Lokasi perkemahan adalah Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Letaknya sekitar 35 km di sebelah Barat Pangandaran & berada dalam satu wilayah dengan S. Cijulang, yang memiliki Green Canyon di bagian hulunya.

Perjalanan kami di mulai pada tanggal 22 Juni 2013 yaitu dengan berkumpul di Sanggar pada pukul 19.00. Ya, kami berkumpul malam hari karena perjalanan menuju lokasi hanya tersedia dalam dua pilihan waktu, siang atau malam. Kami memutuskan melakukan perjalanan malam agar dapat tiba di lokasi dalam keadaan terang, sehingga lebih mudah berorientasi. Perjalanan memakan waktu 8-9 jam, cukup panjang, karena ruas jalan terakhir menuju Batu Karas kondisinya menyedihkan. Keadaan ini sudah terjadi selama lebih dari 3 tahun terakhir.

Rencana keberangkatan adalah jam 20.30, dan kami berhasil menepati jadwal ini. Seluruh peserta diangkut menggunakan dua buah mobil elf berkapasitas 13-15 orang. Cukup pas untuk 25 orang dan ransel-ransel yang besar plus tongkat. Sebelum berangkat, kami semua melakukan cek perbekalan, perlengkapan, dan packing. Dari sanggar, kami berjalan kaki menuju ke parkir Sekolah Aloysius di mana elf kami sudah menunggu.

Tiba di parkiran, kami berbaris sebentar untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh Kak Ezra Tandian. Berikutnya, pembina, penegak & peserta membagi diri menjadi dua kelompok elf dan mulai menaikkan barang-barang dan tongkat. Tak lama kemudian, kami pun siap duduk di kabin penumpang. Tampak juga beberapa orang tua penggalang yang ikut mengantar keberangkatan kami, sebagian dengan wajah harap-harap cemas. Wajar saja cemas, karena ini pun pengalaman pertama mereka melepas anak-anaknya pergi jauh dalam kegiatan Pramuka.

Setelah semua naik, kedua elf mulai bergerak menyusuri jalanan Kota Bandung yang ternyata sangat padat malam itu. Maklum, malam itu adalah Malam Minggu. Cuaca cukup cerah, tidak hujan dan udara tidak terlalu panas. Kondisi dalam elf tentu tidak senyaman mobil pribadi atau bis pariwisata. Walaupun demikian, kondisi itu tidak menghalangi para peserta masih untuk menghasilkan keramaian sendiri di dalam elf.

Setelah sekitar 2 jam, barulah kami keluar Kota Bandung di Gerbang Tol Cileunyi. Kedua elf melanjutkan perjalanan menuju Timur lewat Jalan Raya Bandung Sumedang, lalu menuju Tasikmalaya. Elf melaju dengan cukup cepat karena jalan luar kota tidak terlalu ramai. Para pembina dalam tiap elf memastikan bahwa supir tidak melampaui batas kewajaran mengemudi dan tidak mengantuk. Tiap elf diawaki oleh 1 orang pengemudi & 1 orang cadangan.

Tidak banyak yang kami lihat perjalanan malam ini sampai sebelum subuh, karena gelap dan sebagian besar dari kami memang akhirnya tertidur, walaupun “tidur ayam”. Elf sempat berhenti untuk beristirahat di daerah antara Tasikmalaya & Ciamis selama sekitar 1 jam. Istirahat ini sangat berguna untuk makan-minum, menghirup udara segar, meluruskan badan, buang air, dan tentunya meringankan bokong yang mulai mati rasa karena terlalu lama duduk. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menembus gelapnya malam, ditemani sinar bulan yang hampir penuh. Kami pun kembali terkantuk-kantuk dalam elf.

Sekitar jam 03.00 dini hari, kami memasuki daerah Kabupaten Pangandaran. Ya, tahun ini Pangandaran memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis. Jalan aspal masih dalam kondisi baik. Hanya saja kedua elf sudah terpisah sejak dari sebelum waktu istirahat. Elf kedua ternyata mengambil jalan melalui daerah Garut, sehingga tertinggal sekitar 1 jam di belakang elf lainnya. Karena hal ini, jam 04.00 elf pertama memutuskan untuk menunggu di Pangandaran. Elf ini berhenti di sebuah warung surabi yang baru mulai buka.

Kami menyempatkan diri menyantap surabi Pangandaran. Rasanya tidak terlalu berebda dengan yang ada di Bandung. Yang menarik adalah cara makannya. Surabi dihidangkan di nampan seng besar beralas kertas, lengkap dengan semangkok besar sambal oncom. Siapapun yang mau, bisa langsung ‘nyomot’ surabinya, lalu langsung di-‘cocol’ ke sambal oncom dan langsung dilahap. Sebagian dari kami belum pernah makan dengan cara demikian, dan akhirnya tetap minta piring terpisah untuk mewadahi surabi dan sambal yang akan disantap.

Oh ya, usut punya usut ternyata sang supir adalah orang Pangandaran asli dan pemilik warung ini adalah teman SMPnya dulu. Terbukti, sepanjang perjalanan di daerah Pangandaran, Pak Supir ini sering sekali menyapa & melambai ke arah orang-orang yang berpapasan di jalan, dan merekapun menyapa kembali. Berarti supir ini bukan SKSD (sok kenal sok deket) ‘kan?

Singkatnya, elf kedua akhirnya tiba di warung Surabi dan terjadilah reuni dadakan para peserta perkemahan. Waktu saat itu sekitar pukul 05.00. Tak lama kemudian, kami pun kembali naik elf dan meneruskan perjalanan menuju Pantai Batukaras. Langit mulai berganti warna, dari gelap menjadi ungu dengan semburat jingga. Awan bergumpal terlihat berarak sebagian.

Jalan yang berlubang besar dan hancur lapisan aspalnya menjadi sarapan pagi kami setelah surabi sambal oncom. Elf tidak bisa melaju cepat karena hal ini. Kabarnya, jalan di ruas ini hancur karena terlalu banyak dilalui truk pasir yang mengangkut pasir besi dari penambangan di sekitar tempat ini ke Cilacap. Setelah 30 menit pertama, kami semua jadi terbiasa terpental-pental di dalam elf. Selain karena tidak ada pilihan, sepertinya masing-masing sudah menemukan jurus untuk menyiasati guncangan yang terjadi.

Camp up & Hari Pertama

Sekitar pukul 06.30, setelah melalui pos pembayaran tiket masuk daerah, akhirnya kami tiba di Desa Batukaras, tepatnya di pantai Batukaras. Kami langsung disuguhkan pemandangan dan suara debur ombak. Pagi itu laut sedang pasang sehingga air laut berada dekat dengan jalan. Deretan perahu nelayan terparkir rapi di tepi pantai. Tampak pula bahwa Pantai Batukaras sedang mengalami proses abrasi yang cukup parah. Di sepanjang pantai terlihat banyak pohon dan semak yang tumbang karena tanah tempatnya tumbuh sudah habis terkikis air laut.

Kami berhenti di halaman Pondok Maranti. Pondok ini adalah sebuah penginapan milik keluarga Pak Ucup. Pak Ucup adalah tokoh masyarakat setempat yang banyak membantu kami mempersiapkan pelaksanaan perkemahan di Batukaras. Beliau adalah salah satu penggiat dalam organisasi “Darwis” atau sadar wisata, yaitu organisasi masyarakat setempat yang dibentuk untuk memajukan kegiatan pariwisata di Batukaras. Sebagai informasi, Batukaras dikenal sebagai salah satu pantai ideal untuk berselancar.

Sementara barang-barang diturunkan, perwakilan dari pasukan B19-20 bergerak menuju kediaman Pak Ucup untuk laporan dan menyampaikan surat pengantar dari Gudep. Perwakilan yang menghadap adalah Kak B.A. & Kak Ezra sebagai perwakilan dari pembina, lalu Johanes dan Nadia sebagai wakil dari pasukan penggalang. Pak Ucup menerima kami dengan senyum lebar. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun beranjak kembali ke Maranti untuk kemudian bergerak menuju lokasi perkemahan.

Lokasi perkemahan kami terletak sekitar satu kilometer di Utara Pondok Maranti, menempuh jalan aspal datar yang sudah hancur permukaannya. Kami menempuh jarak tersebut dengan berjalan kaki. Di perjalanan inilah keandalan pengemasan (packing) ransel dan setelannya benar-benar diuji. Karena sebagian besar penggalang baru pertama kalinya membawa beban seberat 1/4 berat tubuhnya di punggung, banyak yang cukup kaget terutama karena harus membawanya menempuh jarak yang cukup jauh. Dalam sekejap keringat tampak mengalir deras, membasahi wajah, leher, punggung dan badan. Salah satu peserta, Kemal, mengalami kerusakan pada ranselnya, yaitu putus salah satu tali punggungnya. Akibatnya, ransel Kemal harus digotong menggunakan tongkat.

– bersambung –

(334) view