Happy Birthday Bandung 20

Dear Bros & Sis,

Mohon maaf bahwa email ini dilayangkan setelah matahari terbenam.
Akan lebih baik kiranya apabila pada saat matahari terbit 14 jam yang lalu.

Tanggal 20 Juli 2014 ini sebenarnya adalah suatu hari yang penting bagi kita, yaitu :

HUT Gudep Bandung 07020 yang ke-24.

Disini disertakan cuplikan dari tulisan mengenai Sejarah Bandung 20, sbb :

Juli 1989 :
Menurut keterangan Kak Luke Hilman yang waktu itu menjabat sebagai Pembina Gudep, Kwartir Ranting mulai menerapkan peraturan yang mengharuskan Gugusdepan putra dan putri di satu pangkalan memakai angka yang berurutan.
Dalam penertiban ulang ini, setiap Gugusdepan diberi daftar isian, yang harus dikembalikan pada akhir bulan Juli, supaya sebelum peringatan Hari Pramuka selanjutnya, 14 Agustus 1989, data semua Gugusdepan sudah dapat dilaporkan lengkap ke Kwarnas.
Oleh karena itu pada tanggal 20 Juli 1989, Kak Luke memasukkan formulir isian yang mendaftarkan Bandung 07019 dan 07020 untuk Gugusdepan putra dan putri yang berlatih di pangkalan St. Aloysius. Dengan mengacu kepada peristiwa pendaftaran secara formil ini, Luke menyatakan bahwa Hari Lahir Gugusdepan Bandung 07020 adalah tanggal 20 Juli 1989.
Nama pahlawan nasional beragama Katolik dari Pulau Seram, Christina Martha Tiahahu, diambil sebagai nama Gugusdepan.

Catatan : Seperti yang kita ketahui bersama, sejarah Bandung 20 berkaitan dengan sejarah Bandung 6. Banyak tokoh Bandung 6 yang telah berperan serta dalam kelahiran Bandung 20.

Bersama ini kita ucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke 24 kepada Bandung 20.
Tidak sedikit waktu, pemikiran dan tenaga yang telah dicurahkan dalam mendirikan dan meneruskan sebuah gugusdepan putri bernama Bandung 07020 ini.
Kita berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pembina dan semuanya yang telah bekerja dan bercapai-lelah untuk kelangsungan Bandung 20, dan memberikan hatinya dan kasih sayang kepada anak didik.

Pada tahun depan, tanggal 20 Juli 2014, Bandung 20 akan berusia 25 tahun.
Siapa tahu kita bisa bereuni lagi pada hari Pesta Perak itu πŸ™‚

STJ,
Danny

(344) view

Berita Duka: Ibu Kristianti Pradjasuta

Berita Duka

Telah wafat pada hari Rabu, 17/7/2013,
Ny.Kristianti Pradjasuta (ibunda dari Kanda Reyno)
Disemayamkan di Rumah Duka 9 Naga (Dharmais)
Jl. S.Parman 84-86, ruang J-K.
Kremasi pada Minggu 21/7/2013
Jam 10.00 di Krematorium Heaven
Jl. Gedong Panjang – Jakarta

Keluarga Besar Bandung 19 – 20 menyampaikan duka cita untuk Kanda Reyno sekeluarga
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan

(berita dari Kanda George)

(323) view

Kursus mahir Dasar – Minggu 2

Walaupun terlambat liputan fotonya, mudah-mudahan tetap bisa menjadi dokumentasi salah satu rangkaian kegiatan penting di Gudep kita tercinta.

(277) view

Berita Duka: Bapak N Sugiarto Hartanto

Hari ini, pukul 14.20 WIB, telah berpulang kerumah Allah Bapa di Surga,

Bapak N Sugiarto Hartanto (83 tahun)

Ayahanda dari kak J.M. Arijanto Hartanto
Pembina Siaga B19-20 tahun 1986 – 1991

Almarhum disemayamkan di:
Rumah Duka RS St. Borromeus, Ruang A, jalan Surya Kencana, Bandung

β€œ Kami atas nama keluarga turut berduka atas kepergihan Ayahanda dari kak Yanto, Bapak Sugiarto, semoga kini Ayahanda mendapat ketenangan dan kedamaian, diberiNya terang dan jalan menuju Rumah Allah Bapa di Surga. Semoga keluarga yang ditinggalkan ikhlas dan diberiNya ketabahan, Amin”

(286) view

Kursus Mahir Dasar – Minggu 1

Untuk pertama kali dalam sejarah, Bandung 19-20 mengadakan Kursus Mahir Dasar (KMD) yang digelar pagi tadi di Sanggar Bandung 19-20. Berita selengkapnya akan menyusul dalam minggu ini. Untuk sementara ini, silahkan baca featured news, liputan dari kakak-kakak redaksi Taman Pramuka (media online kwarcab Kota Bandung)

(522) view

Courage Under Fire

Jovan Kelinci

Courageous. Pertama kali jadi pratama, pertama kali perebutan, 1 orang lawan 7, and he did it. Hari ini merebut tongkat regu. Berikutnya bendera regu. Akankah teman2 seregunya datang membantu?

Sore tadi Jovan bisa saja menolak menjalani perebutan, tapi dia melakukannya walaupun khawatir, badan lebam, jempol terpelintir. Dia mau mencoba walaupun rasa takut mendera. And that, my friends, is better than cowering away, pretending that responsibility & honor do not matter, Much better.

Hidup adalah tentang membuat pilihan & konsekuensinya. Ingat Spiderman? With great power comes great responsibility. You want more power? Attention? Ability? Approval? When you’ve got them, learn to live with whatever consequences that come with those.

Sore ini Jovan membuat pilihan dan dia menjalaninya dgn berani, apapun hasilnya. That earned him my respect, dan saya harap Jovan akan selalu berani. Kalian harus dengar raungannya tadi. Akankah Kelinci yang lain berani meraung sekuat Jovan?

original post by M. Budianastas

(448) view

Berita Duka: Bapak Tularso Kuarno

Telah meninggal dunia, Bapak Tularso Kuarno, Ayahanda dari Kak Inez Wandita (pernah membina siaga 07020, seangkatan Kak Saretta N. Paramita cs.) pada tanggal 26 Juni 2013 di Bandung.

Jenazah disemayamkan di Bumi Baru 2, Ruang B. Kamis 27 Juni 2013 akan diadakan kebaktian tutup peti jam 19.00. Jumat 28 Juni 2013 kebaktian penghiburan jam 19.00, dan Sabtu 29 Juni 2013 kebaktian kremasi jam 9.00.

Ijinkan kami mewakili Keluarga Besar Gudep 07019-07020 menyampaikan rasa belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas kepergian Ayahanda Kak Inez. Semoga damai abadi selalu menyertai Pak Tularso & keluarga.

(459) view

Latihan Sabtu 2013

Barusan saja, adik-adik penggalang meninggalkan kota Bandung untuk perkemahan ke Batu Karas yang akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 25 Juni nanti. Oleh karena itu latihan Sabtu tanggal 29 Juni ditiadakan, dan untuk penggalang akan mulai berlatih kembali pada tanggal 5 Juli 2013.

Untuk adik-adik siaga sudah mulai libur latihan sejak hari ini, dan latihan kembali diadakan pada tanggal 20 Juli 2013.

Selamat berlibur.

(262) view

Camp Penutupan Kaderisasi 2013


Bagian I

Perjalanan & Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013
Penggalang Gudep 07019-07020
Batukaras, 22-25 Juni 2013

Berangkat & Perjalanan Malam

Perkemahan pertengahan tahun 2013 pasukan penggalang ini mengambil tema “Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013”. Berjudul demikian, karena kegiatan ini adalah akhir dari program Kaderisasi 2013 yang dimulai di bulan Februari 2013 dengan LT-1. Peserta perkemahan total adalah 25 orang, terdiri dari 16 orang penggalang putra-putri dan 9 orang pembina & penegak. Termasuk dalam tim pembina – penegak adalah bintang tamu kita Kak Saretta N. Paramita yang sedang mudik dalam rangka liburan kuliah. Welcome home Kak Retta!

Satu hal penting yang perlu dilaporkan, ini adalah perkemahan pertama bagi sebagian besar peserta penggalang yang berlokasi lebih dari 2 jam perjalanan dari Bandung, dengan durasi lebih dari semalam, dan tidak bertempat di bumi perkemahan. Lokasi perkemahan adalah Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Letaknya sekitar 35 km di sebelah Barat Pangandaran & berada dalam satu wilayah dengan S. Cijulang, yang memiliki Green Canyon di bagian hulunya.

Perjalanan kami di mulai pada tanggal 22 Juni 2013 yaitu dengan berkumpul di Sanggar pada pukul 19.00. Ya, kami berkumpul malam hari karena perjalanan menuju lokasi hanya tersedia dalam dua pilihan waktu, siang atau malam. Kami memutuskan melakukan perjalanan malam agar dapat tiba di lokasi dalam keadaan terang, sehingga lebih mudah berorientasi. Perjalanan memakan waktu 8-9 jam, cukup panjang, karena ruas jalan terakhir menuju Batu Karas kondisinya menyedihkan. Keadaan ini sudah terjadi selama lebih dari 3 tahun terakhir.

Rencana keberangkatan adalah jam 20.30, dan kami berhasil menepati jadwal ini. Seluruh peserta diangkut menggunakan dua buah mobil elf berkapasitas 13-15 orang. Cukup pas untuk 25 orang dan ransel-ransel yang besar plus tongkat. Sebelum berangkat, kami semua melakukan cek perbekalan, perlengkapan, dan packing. Dari sanggar, kami berjalan kaki menuju ke parkir Sekolah Aloysius di mana elf kami sudah menunggu.

Tiba di parkiran, kami berbaris sebentar untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh Kak Ezra Tandian. Berikutnya, pembina, penegak & peserta membagi diri menjadi dua kelompok elf dan mulai menaikkan barang-barang dan tongkat. Tak lama kemudian, kami pun siap duduk di kabin penumpang. Tampak juga beberapa orang tua penggalang yang ikut mengantar keberangkatan kami, sebagian dengan wajah harap-harap cemas. Wajar saja cemas, karena ini pun pengalaman pertama mereka melepas anak-anaknya pergi jauh dalam kegiatan Pramuka.

Setelah semua naik, kedua elf mulai bergerak menyusuri jalanan Kota Bandung yang ternyata sangat padat malam itu. Maklum, malam itu adalah Malam Minggu. Cuaca cukup cerah, tidak hujan dan udara tidak terlalu panas. Kondisi dalam elf tentu tidak senyaman mobil pribadi atau bis pariwisata. Walaupun demikian, kondisi itu tidak menghalangi para peserta masih untuk menghasilkan keramaian sendiri di dalam elf.

Setelah sekitar 2 jam, barulah kami keluar Kota Bandung di Gerbang Tol Cileunyi. Kedua elf melanjutkan perjalanan menuju Timur lewat Jalan Raya Bandung Sumedang, lalu menuju Tasikmalaya. Elf melaju dengan cukup cepat karena jalan luar kota tidak terlalu ramai. Para pembina dalam tiap elf memastikan bahwa supir tidak melampaui batas kewajaran mengemudi dan tidak mengantuk. Tiap elf diawaki oleh 1 orang pengemudi & 1 orang cadangan.

Tidak banyak yang kami lihat perjalanan malam ini sampai sebelum subuh, karena gelap dan sebagian besar dari kami memang akhirnya tertidur, walaupun “tidur ayam”. Elf sempat berhenti untuk beristirahat di daerah antara Tasikmalaya & Ciamis selama sekitar 1 jam. Istirahat ini sangat berguna untuk makan-minum, menghirup udara segar, meluruskan badan, buang air, dan tentunya meringankan bokong yang mulai mati rasa karena terlalu lama duduk. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menembus gelapnya malam, ditemani sinar bulan yang hampir penuh. Kami pun kembali terkantuk-kantuk dalam elf.

Sekitar jam 03.00 dini hari, kami memasuki daerah Kabupaten Pangandaran. Ya, tahun ini Pangandaran memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis. Jalan aspal masih dalam kondisi baik. Hanya saja kedua elf sudah terpisah sejak dari sebelum waktu istirahat. Elf kedua ternyata mengambil jalan melalui daerah Garut, sehingga tertinggal sekitar 1 jam di belakang elf lainnya. Karena hal ini, jam 04.00 elf pertama memutuskan untuk menunggu di Pangandaran. Elf ini berhenti di sebuah warung surabi yang baru mulai buka.

Kami menyempatkan diri menyantap surabi Pangandaran. Rasanya tidak terlalu berebda dengan yang ada di Bandung. Yang menarik adalah cara makannya. Surabi dihidangkan di nampan seng besar beralas kertas, lengkap dengan semangkok besar sambal oncom. Siapapun yang mau, bisa langsung ‘nyomot’ surabinya, lalu langsung di-‘cocol’ ke sambal oncom dan langsung dilahap. Sebagian dari kami belum pernah makan dengan cara demikian, dan akhirnya tetap minta piring terpisah untuk mewadahi surabi dan sambal yang akan disantap.

Oh ya, usut punya usut ternyata sang supir adalah orang Pangandaran asli dan pemilik warung ini adalah teman SMPnya dulu. Terbukti, sepanjang perjalanan di daerah Pangandaran, Pak Supir ini sering sekali menyapa & melambai ke arah orang-orang yang berpapasan di jalan, dan merekapun menyapa kembali. Berarti supir ini bukan SKSD (sok kenal sok deket) ‘kan?

Singkatnya, elf kedua akhirnya tiba di warung Surabi dan terjadilah reuni dadakan para peserta perkemahan. Waktu saat itu sekitar pukul 05.00. Tak lama kemudian, kami pun kembali naik elf dan meneruskan perjalanan menuju Pantai Batukaras. Langit mulai berganti warna, dari gelap menjadi ungu dengan semburat jingga. Awan bergumpal terlihat berarak sebagian.

Jalan yang berlubang besar dan hancur lapisan aspalnya menjadi sarapan pagi kami setelah surabi sambal oncom. Elf tidak bisa melaju cepat karena hal ini. Kabarnya, jalan di ruas ini hancur karena terlalu banyak dilalui truk pasir yang mengangkut pasir besi dari penambangan di sekitar tempat ini ke Cilacap. Setelah 30 menit pertama, kami semua jadi terbiasa terpental-pental di dalam elf. Selain karena tidak ada pilihan, sepertinya masing-masing sudah menemukan jurus untuk menyiasati guncangan yang terjadi.

Camp up & Hari Pertama

Sekitar pukul 06.30, setelah melalui pos pembayaran tiket masuk daerah, akhirnya kami tiba di Desa Batukaras, tepatnya di pantai Batukaras. Kami langsung disuguhkan pemandangan dan suara debur ombak. Pagi itu laut sedang pasang sehingga air laut berada dekat dengan jalan. Deretan perahu nelayan terparkir rapi di tepi pantai. Tampak pula bahwa Pantai Batukaras sedang mengalami proses abrasi yang cukup parah. Di sepanjang pantai terlihat banyak pohon dan semak yang tumbang karena tanah tempatnya tumbuh sudah habis terkikis air laut.

Kami berhenti di halaman Pondok Maranti. Pondok ini adalah sebuah penginapan milik keluarga Pak Ucup. Pak Ucup adalah tokoh masyarakat setempat yang banyak membantu kami mempersiapkan pelaksanaan perkemahan di Batukaras. Beliau adalah salah satu penggiat dalam organisasi “Darwis” atau sadar wisata, yaitu organisasi masyarakat setempat yang dibentuk untuk memajukan kegiatan pariwisata di Batukaras. Sebagai informasi, Batukaras dikenal sebagai salah satu pantai ideal untuk berselancar.

Sementara barang-barang diturunkan, perwakilan dari pasukan B19-20 bergerak menuju kediaman Pak Ucup untuk laporan dan menyampaikan surat pengantar dari Gudep. Perwakilan yang menghadap adalah Kak B.A. & Kak Ezra sebagai perwakilan dari pembina, lalu Johanes dan Nadia sebagai wakil dari pasukan penggalang. Pak Ucup menerima kami dengan senyum lebar. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun beranjak kembali ke Maranti untuk kemudian bergerak menuju lokasi perkemahan.

Lokasi perkemahan kami terletak sekitar satu kilometer di Utara Pondok Maranti, menempuh jalan aspal datar yang sudah hancur permukaannya. Kami menempuh jarak tersebut dengan berjalan kaki. Di perjalanan inilah keandalan pengemasan (packing) ransel dan setelannya benar-benar diuji. Karena sebagian besar penggalang baru pertama kalinya membawa beban seberat 1/4 berat tubuhnya di punggung, banyak yang cukup kaget terutama karena harus membawanya menempuh jarak yang cukup jauh. Dalam sekejap keringat tampak mengalir deras, membasahi wajah, leher, punggung dan badan. Salah satu peserta, Kemal, mengalami kerusakan pada ranselnya, yaitu putus salah satu tali punggungnya. Akibatnya, ransel Kemal harus digotong menggunakan tongkat.

– bersambung –

(332) view

KECERIAAN COOKING DAY

JUARA LOMBA FOTO
11 MEI 2013

SALAM PRAMUKA,

DARI 19 FOTO YANG PANITIA TERIMA UNTUK DILOMBAKAN, DAN SESUAI DENGAN KRITERIA DAN KETENTUAN LOMBA FOTO – COOKING DAY – TANGGAL 11 MEI 2013, MAKA OLEH JURI TUNGGAL, PHOTOGRAPHER PROFFESIONAL, KAK DARWIS TRIADI, TELAH DIPUTUSKAN JUARA-JUARANYA SEBAGAI BERIKUT:

JUARA KE 1:

DENGAN JUDUL FOTO : ( TIDAK ADA )
NOMOR PESERTA : B5
PHOTOGRAPHER : A. J. GUNAWAN
image-2

JUARA KE 2:

DENGAN JUDUL FOTO : ” HEBOH BERTIGA ”
NOMOR PESERTA : B12
PHOTOGRAPHER : WIDIANA MUTYASARI
image-5

JUARA KE 3:

DENGAN JUDUL FOTO : ( TIDAK ADA )
NOMOR PESERTA : B7
PHOTOGRAPHER : EDWINA MAHARANI
image-1

HADIAH LOMBA AKAN DIKIRIM KE ALAMAT MASING-MASING PEMENANG

” SELAMAT KEPADA PARA PEMENANG…..TERUS PERTAHANKAN DAN KEMBANGKAN KEAHLIAN PHOTOGRAPHY ANDA…..YOU ARE THE BEST….ALWAYS BE THE BEST…!!! ”

SALAM TIGA JARI,

( PANITIA )

image

(299) view