Jambore Internasional – Swedia 27 July – 08 August 2011

Perhelatan akbar “World Scout Jamboree” yang ke 22 akan digelar di Swedia, dan tema untuk acara akbar ini adalah: “Simply Scouting”

Tema ini diharapkan dapat menjawab banyak pertanyaan yang kerap muncul belakangan ini. Bagaimana sih rasanya ikutan jambore? Bagaimana caranya saya dapat berteman dengan banyak orang di sepenjuru dunia? bagaimana kita dapat belajar mengenai perkembangan global? bagaimana semua ini bisa terjadi? Jawabannya mudah saja: “Simply Scouting!”

Adakah rekan-rekan dari Bandung 19 – 20, yang kali ini turut berpartisipasi?

Silahkan kunjungi website resmi Jambore ke 22 untuk keterangan lebih lanjut http://www.worldscoutjamboree.se/

(378) view

Sejarah Kepanduan Dunia

A. Pendahuluan
Kalau kita mempelajari sejarah pendidikan kepramukaan kita tidak dapat lepas dari riwayat hidup pendiri gerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Hal ini disebabkan pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara Inggris. Pembinaan remaja inilah yang kemudian tumbuh berkembang menjadi gerakan kepramukaan.

B. Riwayat hidup Baden Powell
Lahir tanggal 22 Pebruari 1857 dengan nama Robert Stephenson Smyth. Ayahnya bernama powell seorang Professor Geometry di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil. Pengalaman Baden Powell yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan banyak sekali dan menarik diantaranya :
Karena ditinggal bapak sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya.
Dari kakaknya mendapat latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain-lainnya.
Sifat Baden Powell yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya.
Pengalaman di India sebagai pembantu Letnan pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang di puncak gunung serta keberhasilan melatih panca indera kepada Kimball O’Hara.
erkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
Pengalaman ini ditulis dalam buku “Aids To Scouting” yang merupakan petunjuk bagi Tentara muda Inggris agar dapat melaksanakan tugas penyelidik dengan baik.
William Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan pengalaman beliau itu. Kemudian dipanggil 21 pemuda dari Boys Brigade di berbagai wilayah Inggris, diajak berkemah dan berlatih di pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari.
Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.

C. Sejarah Kepramukaan Sedunia
Awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan negara-negara lain yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout.
Tahun 1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian diteruskan oleh istri beliau. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai pedoman kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara di hutan oleh induk serigala.
Tahun 1918 beliau membentuk Rover Scout bagi mereka yang telah berusia 17 tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia.
Tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
Tahun 1924 Jambore II di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
Tahun 1929 Jambore III di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
Tahun 1933 Jambore IV di Godollo, Budapest, Hongaria
Tahun 1937 Jambore V di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
Tahun 1947 Jambore VI di Moisson, Perancis
Tahun 1951 Jambore VII di Salz Kamergut, Austria
Tahun 1955 Jambore VIII di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
Tahun 1959 Jambore IX di Makiling, Philipina
Tahun 1963 Jambore X di Marathon, Yunani
Tahun 1967 Jambore XI di Idaho, Amerika Serikat
Tahun 1971 Jambore XII di Asagiri, Jepang
Tahun 1975 Jambore XIII di Lillehammer, Norwegia
Tahun 1979 Jambore XIV di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
Tahun 1983 Jambore XV di Kananaskis, Alberta, Kanada
Tahun 1987 Jambore XVI di Cataract Scout Park, Australia
Tahun 1991 Jambore XVII di Korea Selatan
Tahun 1995 Jambore XVIII di Belanda
Tahun 1999 Jambore XIX di Chili, Amerika Selatan
Tahun 2003 Jambore XX di Thailand
Tahun 2007 Jambore XXI di Inggris
Tahun 2011 Jambore XXII di Swedia

Tahun 1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.
Tahun 1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
Sejak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson (Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen.
Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.

Ditulis oleh : Drs. Ringsung Suratno, M.Pd
Dikutip dari: Pramuka Indonesia
Dilengkapi oleh: tukang web Bandung 19-20

(632) view

Jambore Keuskupan 2008

Bandung 19 -20 ikut dalam kegiatan Jambore Keuskupan (Pekan Kekerabatan X) di gunung Geulis Adventure Camp yang berlangsung dari tgl 28 Juni – 4 Juli 2008. G pa 10 orang, G pi 7 orang, B pa 1, B pi 1, Service team 5 orang + saya = 25 orang.

Kegiatan yang diadakan mengadopsi dari Jambore Dunia, ditambah wisata ke Taman Safari. Meliputi Religious Activities, Culture Workshop and Scout Exhibition, Evening Activities, City of Science, Scouting Skills, Free Time Activities 1 & 2, Walk In/ Culinary Heritage, Animal Kingdom Excursion, Global Development Village dan Social Community Activity.

Lokasi perkemahan adalah didalam area Padang Golf Gunung Geulis – Puncak, Bogor , tepatnya di Adventure Areanya. Pesertanya sekitar 1500 orang terdiri dari 1100 peserta, dan 400an bindamping, service team dan staf kontingen.Peserta adalah para Pramuka Penggalang dari sekolah sekolah Katolik dari keuskupan Palembang, Tanjung Karang, Bogor, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, dan Bali. Yang tergabung dalam Team Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik (TKK MPK) Jabalambang (Jabalambang = Jawa, Bali, Lampung, Palembang).

Saya tidak bisa sepenuhnya ikut acara karena pada tgl 2 Juli -9 Juli, ikut Kursus Pembina Mahir Lanjutan golongan Siaga di Kwarcab Kabupaten Bandung, Bale Endah (Soreang). (Tapi, tgl 3 bisa ijin balik lagi ke Gn. Geulis, soalnya pada penutupan harus tuker tukeran cindera mata antar Ketua Tim Kerja, dll ). Total hampir 2 minggu camping. Untung masih “diaku” sama yang dirumah juga. he..he..

Kelihatannya anak anak cukup menikmatinya, karena lokasinya cukup representatif dan juga fasilitas acaranya cukup baik.

(838) view

BANGKOK CITY TOUR

Perjalanan City Tour dimulai. Begitu AC mobil dinyalakan, mata langsung tidak tertahankan.Weleh weleh nikmat sekali ! Kita dibangunkan disebuah rumah makan ditengah perjalanan antara Sattahip- Bangkok. Langsung WC nya diserbu. WC yang ada cuma 2, sedangkan yang mau pake ada 4 bus, jadi waktu kita habis buat ngantri ke WC. Eh, ternyata airnya tidak jalan. Akhirnya saya beli air aqua untuk cuci muka dan menyegarkan diri. Lumayan juga, rada “cenghar deui”. Tak lama kemudian kita disuruh untuk kembali ke Bus. Didalam Bus kita diterangkan objek objek yg akan kita kunjungi. Tour Leadernya orang Thailand yg bisa bahasa Indonesia. Walaupun ngomongnya cadel dan logat Thailandnya medok dan bahasa Indonesianya campur dengan bahasa melayu, tapi itu sudah sangat cukup bisa dimengerti.

Pertama tama kita mengunjungi suatu Temple dipinggir sungai Chau Praya. Untuk sampai ke kuil itu kita harus memakai perahu boat dari pusat kota bangkok. Rupanya Temple ini merupakan Meeting Point untuk kita dengan rombongan visitor Indonesia. Maka rombongan bertambah rame dan besar, tampak kegembiraan dari rombongan kita, terutama dari visitor yang kebanyakan adalah pengurus/andalan daerahnya masing masing. Acara foto fotoan jadi marak. Wah, rame deh. Saya sempat berfoto dengan KaKwarda Jabar (ka Didi), KaharKwarda (ka Mochtar) dan ketua kontingen Jamboree (Kontingen Garuda, ka Sundoro Syamsuri). Saya tukeran kamera dengan Arif, jadi dia fotoin saya dan saya fotoin dia. Seperti pelampiasan karena tidak sempet foto di camp saya foto fotoan terus. 🙂

Temple di Thailand berbeda dengan temple di Indonesia, disana lebih Colour full. Mungkin jaman pembuatannya yang berbeda, sehingga temple disana lebih modern dari candi candi di kita. Warna emas banyak mendominasi warna temple temple disana. Penjual cindera mata juga pasang harga gila gilaan. Waktu pertama datang mereka menawarkan harga yang selangit, makin dekat pulang harga terus dibanting, sampai akhir mau naik perahu dibanting habis.. Sehingga bisa bikin shok & dongkol banget buat orang yang beli pertama. Contohnya saja, satu set gantungan kunci dari harga 500 bath, bisa turun sampai 100-200 bath. Disini saya beli foto diri saya yang ditaruh diatas piring, rupanya waktu saya datang dan turun dari perahu, tanpa saya sadari saya difoto dan waktu mau pulang ditawari. Aduh, mau gimana lagi, ngga dibeli gimana yach , tampang ogut udah nyengir diatas piring. Pura pura tidak butuh, saya biarkan saja dulu, terakhir dia kasih 200 bath. Saya pikir sudahlah buat kenang kenangan.
Daripada dikutuk sama sipenjualnya :).

Dari Temple (Anchor wat ? Saya lupa namanya) itu , perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi kampung nelayan, yang kalau kita mah seperti di iklan TV RCTI, dimana ada perahu yang menjajakan dagangannya ditengah sungai. Tapi ramean di iklan TV kita lho. Disana betul betul hanya seperti sandiwara saja. Yang jualan hanya beberapa perahu saja, dan itu juga menurut tour guide kita setiap bulannya mereka dibayar/ disubsidi oleh pemerintah, sehingga jualannya juga asal asal saja dan dagangannya tidak ada apa apa. Paling semacam kerupuk, makanan kecil dan sedikit sayuran .
Tapi saya patut mengacungkan jempol untuk pemerintah Thailand untuk usahanya itu (mengangkat pariwisata daerah), soalnya untuk orang eropa, bisa bisa saja itu merupakan suatu hal yang menarik.

Masih disungai Chao Praya, tidak jauh dari kampung nelayan itu perahu kita diperlambat dan kita diberi kesempatan untuk memberi makan ikan ikan yang dikeramatkan oleh penduduk disana. Ikannya seperti ikan lele dan gede gede, maklum dibiarkan besar dan berkembang biak tanpa ditangkapi. Katanya kalau kita memberi makan ikan itu, seperti memberi sedekah dan bagus buat rejeki kita. Tapi yang namanya anak anak acuh acuh saja, mungkin masa bodoh dan tidak percaya atau persediaan duit sudah sangat menipis, soalnya rotinya harus beli seharga 20 bath. Jadinya yang ngasih makan hanya sedikit saja. Diperjalanan pulang ke pusat kota bangkok kita ketemu dengan pramuka Amerika yang sama sama naik perahu. Hei….!!! Kita saling melambaikan tangan.

Dari perjalanan di sungai ini kita dibawa makan kesebuah restoran di kota Bangkok, disana kita makan buffet (all U can eat), Saya rasa yang punya restoran rada rugi soalnya namanya anak pramuka kalau makan….tahu sendiri saja. Tapi merekapun pintar, rombongan/bus anak anak dipisahkan dengan rombongan andalan nasional (dewasa). Anak anak ditempatkan dilantai 3 sedangkan rombongan bus Andalan dilantai dasar. Menunya beda sekali, kalau dibawah sih ada sushi segala. Tapi menunya cukup variatif dan yang penting buat anak anak enak dan banyak! Setelah puas melampiaskan dendam sama yang namanya makanan, perjalanan dilanjutkan. Tujuannya sekarang adalah Istana (Peristirahatan) Raja, tapi sebelumnya kita mampir dulu di Jewelery Factory. Tour Leader menjelaskan bahwa kita tidak akan lama lama disana, tapi tidak menjelaskan berapa lamanya.

Begitu turun dari bus kita digiring untuk menyaksikan film mengenai pembuatan dan produk permata di perusahaan itu, ruangannya persis seperti bioskop dan sebelum masuk kita disuguhi welcome drink. Ruangan gelap dan ber AC membuat saya terantuk antuk “nundutan”. Filmnya berdurasi hanya 10 menitan dan kita digiring ke ruang produksi diteruskan ke ruang pameran/penjualan yang cukup luas. Di ruang penjualan ini saya agak terlena, karena pengen beliin sesuatu untuk istri di rumah. Bolak balik sana sini, tanya sana sini, akhirnya saya sadar yang pake seragam pramuka udah pada ngilang yang ada hanya pramuka dari Amerika, tapi saya rada terhibur karena masih ada satu ibu andalan nasional dekat saya. Tanpa menunggu lagi saya cepat cepat ke tempat bus, benar saja semua sudah pada naik tinggal saya yang belum hadir. Malu…. sekali !! Dengan perasaan yang tidak puguh saya duduk, tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ah,…. kamera !!! Waduh, mangkaning kamera Digital yang masih gress pisan. Dengan panik dan heboh saya tanya ke Arif, terus ke Sindhu dan Iman. Tapi semua bilang tidak pegang. Wah, udah deh…. lemes. Isi tas tangan dikeluarkan semua tapi nihil, pengen sih supaya bus disuruh balik lagi, tapi ngga enak ke yang lain. Saya curiga jatuh dari kantong celana saya di ruang bioskop perusahaan permata itu. Saya udah pasrah saja, tapi karena penasaran, saya periksa ke pinggir dan kolong kursi bus. Haleluya….. kamera dengan anggunnya nongkrong dikolong kursi. Setelah ketemu saya baru bisa duduk, tapi jadi bener ..bener… ngga enak ! Udah telat, bikin heboh lagi! Ma…lu.. sekali ! Kok ada yach pembina “kepoh” begitu. (pikun kaya ortu). Mungkin karena terlalu cape dan kurang tidur jadi rada ngga connect.Selanjutnya saya cuma bisa diam dan meredakan rasa malu saya. Tapi karena ngantuk maka tidak terasa saya tertidur kembali.

Sampai di Istana raja, kita diberitahu untuk tetap bergerombol dalam 1 kelompok bus, agar tidak ada yg hilang. Untung di istana ini tempatnya tidak terlalu besar dan pintu keluarnya cuma satu sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Ditempat ini kita makin banyak menjumpai pramuka pramuka dari negara lain, rupanya hampir semua kontingen memanfaat kesempatan ini untuk berwisata. Tapi yang pasti pramuka Amerika yg paling sering ketemu, mungkin rutenya hampir sama. Malah saya medengar bahwa kontingen Eropa atau Amerika masih akan ada di Thailand sampai 1 minggu lagi. Di istana ini kita sempat menyaksikan pergantian regu pengawal istana, berfoto dan masuk ke ruang sembahyang raja.

Setelah berkeliling, maka kita menunggu rekan rekan yang lain didekat pintu masuk sambil bersantai ria. Setelah semua berkumpul kita melanjutkan perjalanan ke shoping Centre MaBunKong (MBK), sampai disana jam 17, kita diberi waktu sampai jam 19.30 malam, tapi karena semua sudah kecapaian maka diusulkan hanya sampai jam 19 saja. Jadi waktunya 2 jam saja, itu untuk shoping dan makan malam. Karena saya tidak mau terlambat lagi maka saya memilih untuk tidak shopping, tapi makan dulu. Tempat makan di lantai 5 dan saya santai saja menuju kesana karena 2 jam untuk makan saya rasa cukup. Sistem makannya pake kupon, kita beli kupon seharga makanan di kassa, dan kita bayarkan ke conter makanan dg kupon itu. Tidak bisa pake uang cash. Selesai makan saya langsung kembali ke meeting point, yaitu didepan kanan pintu utama mall. Rupanya saya orang pertama yang nunggu disana, tapi tidak berapa lama kemudian yg lain pada berdatangan. Belum jam 18.30 rombongan hampir lengkap semua. Malah busnya yg belum datang karena parkir ditempat lain dan supirnya juga harus makan malam.

Jam 19 an bus datang, dan semua pada naik ke bus. Bus kita kembali berangkat paling akhir karena harus menunggu yg terlambat. Sekarang yang terlambat adalah……..Arif, Sindhu & Iman. Masya Allah………….!! Bulak balik saya cari mereka, tapi tidak ketemu. Akhirnya mereka muncul, alasannya……..? Sukar dipercaya, mereka tidak bisa menemukan meeting point. Sia sia saya berusaha untuk memperbaiki citra! Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. And no body perfect !!

Dari mall kita menuju hotel. Saya kebagian kamar bertiga dg anak KalTim ( Dengan Feni & Adith ), saya mengalah di ektra bed. Itu yang namanya anak ABG , dari daerah lagi ! Telepon ngga pernah tertutup, connect terus…! Telepon room to room…! Dan komentar mereka :”Wah ka, selama ikut pramuka tidak pernah ada acara pake nginep di hotel segala !” Memang sih tapi inikan Jamboree dan di negeri orang.:)
Kebetulan regu putra dari KalTim ini punya kenangan manis dan hubungan baik dengan regu putri Jawa Tengah, yang keduanya merupakan juara LT V (Indonesia), dan kebetulan saya punya daftar kamar dg nama penghuninya. Sehingga begitu nyampe kamar telepon langsung dipake, nyambung kamar sini , kamar sono, wah rame deh ! Belum lagi acara saling berkunjung kamar ! Pokoknya kalau berharap bisa langsung istirahat sampai di hotel, pasti akan kecewa berat. Tak mungkin !

Kamar Sindhu, Arif & Iman terletak persis didepan kamar saya, dan ada kejadian yg bikin gerr juga. Waktu pertama mereka masuk kamar sih biasa biasa saja, walaupun wangi kaos kaki anak anak mulai dapat tercium, tapi begitu mereka mendapat kunjungan dari anak putri kita (Rusi, Jessica & Yovita) beserta teman seregu mereka, maka bau kamar sudah tidak tertahankan lagi. Itu yang namanya “wangi” kaos kaki basah yang kepengep dari 10 orangan dan ada satu sumber utama dari anak putri Jakarta yg luarrr biasa ! Sampai semua bubar dari kamar dan terpaksa minta petugas hotel untuk menetralisir bau itu pake pengharum ruangan dan pintu tidak bisa ditutup selama 1 jam’an. Itu yang namanya pengen ketawa..kacau deh !! Ada satu lagi kejadian di malam ini. Waktu Sindhu & Iman ke lobbi ngobrol dg yg lainnya dan baru balik lagi kekamar jam 22 an. Itu Arif yg kecapaian tertidur pulas tidak bisa dibangunkan, walaupun sudah diketok ketok dan digedor. Tetap saja bablas ! Terpaksa mereka merepotkan petugas hotel lagi, dg meminta dibukakan pake kunci cadangan. Bener bener kenangan tak terlupakan! Saya sendiri baru bisa tidur jam 1 malam, itupun telepon masih teruuuuus connect ngga tahu sampai jam berapa. Dasar anak anak !

Kamis,9 Jan 2003 – Pulang ke Indonesia
Pagi pagi sekitar jam 7 an kita sudah ada di ruang makan hotel untuk breakfast dan sudah membawa semua day pack kita, jadi kita tidak usah balik lagi ke kamar untuk beres beres, karena jam 8 kita akan berangkat meninggalkan hotel menuju airport. Sampai di airport kita menurunkan semua gear bag kita dan perlengkapan kontingen. Disini tampak segi “positif”nya anak kita, tanpa disuruh anak kita paling sibuk membantu menurunkan barang dari bus dan membawakannya. Ini dari pertama berangkat lho, mereka selalu membantu! Sampai beberapa Andalan Nasional pada saat terakhir mengucapkan terima kasih dan penghargaannya atas perhatian dan bantuan dari kita. Salah satu anggota kita (Darwin) tidak tour & pulang bersama kita karena jadwal dia berbeda dg kita, karena sebagai IST dia datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Jadwal kepulangan Ka Darwin mundur 1 hari, tapi acaranya sama dg kita.
Sore hari kita sudah sampai di Jakarta dan semua peserta harus kembali ke Lemdiknas Cibubur, tapi ada juga beberapa peserta/ pembina dari Jakarta yang berhasil lolos (walaupun jumlahnya tidak banyak). Semua kembali masuk barak, saya langsung kembali ke “bungalow” saya, yang masih gelap gulita karena kosong yang letaknya paling ujung. Setelah memasukkan barang saya penasaran pengen tahu kondisi bungalow lain. Ternyata dari 3 bungalow disisi kiri barak itu “bungalow” saya yg paling jelek kondisinya. Karena hari ini kosong semua, saya pindah saja ke bungalow yg paling dekat barak, bukan yg paling ujung. Disamping lebih dekat juga lebih baik kondisinya. Anak anak semua saya ajak tidur di bungalow. Malam ini walaupun sudah cape melakukan perjalanan jauh, tapi “semangat Jamboree” masih berkobar. Terbukti acara swapping diantara rekan sendiri cukup rame digelar, walaupun transaksi yg terjadi hanya sedikit. Soalnya pada tahan harga :).
Besok paginya kita mengadakan upacara Pembubaran Kontingen Garuda dan siangnya sudah berangkat meninggalkan Cibubur. Malam harinya kita sudah sampai di rumah masing masing. Good bye 20th World Scout Jamboree – Thailand. Kita berharap bisa ikut berpartisipasi kembali dalam Jamboree Dunia ke 21 di Inggris tahun 2007.

Penutup,

Terima kasih atas segala dukungan dan partisipasi semua pihak, sehingga kita bisa ikut dalam acara ini. Anggaplah tulisan saya ini sebagai oleh-oleh dari sana dan kakak kakak semua bisa ikut berjamboree ria walaupun dalam cerita. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan cerita/ laporan Jamboree ini. Sekali lagi “No One Perfect”.
Tanggapan maupun kritik atas cerita ini, tentu saja akan sangat berarti buat saya.

Vivat Yos !

Salam,
Toni S

(201) view

WORLD SCOUT JAMBOREE 2002 – 2003

Dismantling & Closing Seremony.

Hari ini hari terakhir di Perkemahan Sattahip, dari pagi kita disuruh untuk beresin area perkemahan sampai benar benar bersih dan mengembalikan semua peralatan & perlengkapan yang dipinjamkan oleh panitia. Dari Kwarnas kita mendapat instruksi untuk menyiapkan “Gear Bag” kita pada jam 8 malam dan akan mulai diangkut antara jam 8 sampai jam 10 malam. Jadi besok pagi jam 6 kita tinggal membawa “Day pack” yang berisikan pakaian dan barang barang yang perlu untuk 1 hari Tour di Bangkok. Sampai tengah hari kita sudah beresin semua tenda dan perlengkapan pribadi kita, kita tinggal bongkar gapura dan mengembalikan peralatan ke panitia.

Pada siang hari itu saya mendapat telepon dari ka Uben (Ka Kwarcab Bandung) yang datang pada hari itu, tapi tidak bisa masuk ke area perkemahan. Dia dan sekretaris Kwarcab (Ka Deden) datang sebagai visitor tidak resmi dan menggunakan jalur pribadi (tour) dan datang pada saat bukan waktu kunjungan (waktu kunjungan untuk Indonesia adalah kemarin). Jadi dia sekarang tertahan di gate 9 dan ingin sekali bertemu dengan kontingen dari Bandung. Kebetulan waktu petugas gate 9 mengontak ke Head Quarter Indonesia, andalan nasional disana tahu saya dan memberikan no telepon yang bisa menghubungi saya, sehingga ka Uben bisa berbicara langsung dengan saya. Saya jadi kasian juga sama dia, jauh jauh datang ke Bangkok tapi tidak bisa masuk apalagi bertemu dengan anggotanya. Setelah saya perhitungkan maka saya tanya apakah dia bersedia menunggu sekitar 1/2 jam dan saya akan menemui beliau. Dia sangat bergembira dan bersedia menunggu. Maka sayapun segera mengayuh sepeda saya ke gate 9. Setelah sampai di pintu gerbang gate 9 saya mohon ijin kepada petugas disana untuk keluar area, ternyata prosedurnya sangat mudah untuk peserta jambore. Walaupun saya pada saat itu berpakaian bebas (singlet tangan buntung) tapi saya lengkap menggunakan ID saya (ID Card, Scraf & gelang tangan), langsung saya diberi ijin.

Ditempat tunggu, saya temui mereka, mereka menunggu sudah cukup lama dan cukup kucel. Maklum perjalanan dari Bangkok ke Sattahip memakan waktu juga dan di Sattahip panas sekali, sedangkan ditempat tunggu itu tidak ada yang menjual minuman. Saya memang sudah menyiapkan 2 kalengan minuman dingin untuk mereka. Yach sebagai tata krama kalau kita menerima tamu. Tapi minuman kalengan (yang sudah tidak dingin lagi) itu sangat berarti sekali buat mereka yang kepanasan dan kehausan. Dengan gembira mereka menyambut saya. (Sampai sekarang kalau ketemu ka Kwarcab dia selalu ngomong soal itu) Setelah ngobrol sebentar dan berfoto, saya minta ijin untuk kembali ke areal perkemahan. Sebetulnya dia ingin bertemu dengan pembina dari SLTP 14 (Ka Budi) yang nota bene merupakan perwakilan resmi dari Kwarcab Bandung (Dibiayai oleh Kwartir karena juara LT). Saya jelaskan kepada beliau: “kalau kakak mau saya bisa usahakan mencari ka Budi di campnya, tapi dari sini ke tempat ka budi perlu waktu 1/2 jam, dan kalau ka Budi ada & mau, dia harus jalan kaki kesini sekitar 1 jam’an. Jadi kakak harus tunggu lagi sekitar 2 jam’an itupun kalau ka Budi sanggup.” Mendengar penjelasan saya, beliau “sangat sangat mengerti” dan tidak berani mengambil resiko yang tidak pasti itu. Tapi saya yakin sekali beliau sangat senang bertemu dengan saya, karena kalau kata orang sunda tea mah: “Aya tapakna”. Dan beliau bisa membuktikan/ mempertanggung jawabkan kalau sudah datang ke Sattahip dan saya sebagi saksinya. Pada kesempatan itu juga dia memberikan sovenir asal Jawa Barat berupa saputangan Batik untuk dibagikan kepada semua kontingen JaBar (untuk bisa ditukarkan dengan kontingen lain) dan saya kasih kenang kenangan Ring Kacu Resmi Jamboree (saya punya 2). Dan beliau minta dibelikan sovenir Jamboree sambil nitipkan uang sebanyak 1000 bath.

Langsung dari gate 9, saya meluncur ke World Jamboree Sovenir Shop, ditengah jalan saya potret dulu di reservoar untuk kenang kenangan (soalnya saya hampir tidak sempat foto fotoan, kameranya selalu dibawa tapi tidak selalu digunakan, Teu inget untuk mengambil gambar !). (Waktu tadi ketemu ka Kwarcab juga difoto bareng, tapi bukan pake kamera saya, dasar bukan foto grafer ulung !). (Tapi saya udah kirim 50 foto ke AJ ). Saya belum pernah ke Jamboree Shop ini, jadi tugas yang diberikan pada saya ini sepeerti mengingatkan saya untuk kesana. Sovenir yang dijual macam macam, yang belinya juga rame soalnya ini hari terakhir. Sistem jualnya pake katalog, setelah tahu apa yang mau dibeli langsung mengisi form pembelian, ngantri ke kassa, form dicap lunas & diberi struk pembayaran dan mengambil barang dengan menyerahkan copy form dan struknya. Harganya cukup mahal2 juga.
Disana saya ketemu dengan anak anak kita. “Lho, koq ada disini ?” ” Sudah beres kak! Tinggal sedikit lagi beresin perlengkapan pasukan “, katanya. Saya pesan supaya mereka segera kembali ke Sub Camp, dan menuntaskan pekerjaannya.

Dari Sovenir Shop saya mampir dulu ke Head Quarter sebelum ke Sub Camp D3- campnya ka Budi (SLTP 14), karena berdekatan sekali letaknya. Saya ingin tahu apa ada perkembangan baru atau tidak. Ternyata tidak ada berita baru, malah saya dititipi sovenir (berupa kaos dan bolpoint Indonesia) untuk dibagikan ke petugas Sub Camp D1,D3 & B3. Maka penuhlah keranjang sepeda saya dengan sovenir.Setelah menengok anak anak putri kita di D1, dan membagikan sovenir, juga ketemu ka Budi. Maka saya segera pulang ke SubCamp untuk mencek tugas yang harus dikerjakan anak anak.
Ternyata karena waktunya cukup panjang (dari pagi sampai sore) malah membuat anak anak santai santai saja, jadi waktu saya pulang masih belum beres juga. Akhirnya saya turun tangan dan anak anak jadi sibuk lagi. Sore semua perlengkapan sudah dikembalikan dan area sudah beres, tapi kita masih menyisakan 2 plastik besar untuk alas barang dan buat kita istirahat. Hanya tenda Pembina Gontor yg masih belum dibongkar, mungkin masih diperlukan.

Saya masih harus mengembalikan sepeda di belakang Sub Camp D1, untung waktu ditengah perjalan pulang saya bisa naik trem (yang sebenarnya khusus IST dan petugas), soalnya lumayan kalau jalan kaki terus bisa 1/2 jam’an.
Malampun tiba dan saya merasa cape sekali, akhirnya saya putuskan untuk tinggal di Camp, tidak ikut Closing Ceremony, dengan pemikiran sebelum barang dijemput saya bisa istirahat dan setelah barang diangkut saya bisa istirahat lagi.

Saya instruksikan anak anak untuk mengangkut semua gear bag ke jalan, sehingga pada waktu dijemput tidak susah/jauh menaikkannya. Ternyata rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Pasalnya “semua” pada pergi ke Closing Ceremony, tinggal saya sendiri. Jadi mana bisa istirahat, karena harus menjaga/ mengawasi semua barang, apalagi sebagian sudah di jalan (anak Gontor beda angkutan, jadi barangnya tidak ditaruh dijalan, dan merekapun tidak ikut tour bersama kita, mereka pergi jam 4 pagi, sedangkan kita jam 6 pagi). Lewat dari jam 10 jemputan barang tidak datang datang, malah sebagian anak anak ada yang sudah pulang. Karena kesal menunggu, tidak bisa istirahat dan juga penasaran dengan acara Closing Ceremony maka setelah saya titip ke mereka soal jemputan barang itu, saya pergi ke Central Area untuk menyaksikan sisa dari acara Closing Ceremony. Sampai disana acara sudah selesai,tapi lumayan masih ada “kesan”.Sepanjang perjalanan ke sana saya bisa menyaksikan kembang api dan berfoto dengan orang yang pulang ke Campnya.Karena sudah tidak ada acara lagi maka saya kembali lagi ke Camp. Ternyata barang masih belum diangkut juga. Setelah jam 12 lebih tidak diangkut angkut, saya berinisiatif untuk mengecek ke Head Quarter Indonesia, ternyata disana sudah kosong, maka saya mengecek ke Camp Indonesia lainya. Ternyata merekapun belum diambil barangnya, dari informasi yang didapat ternyata ada masalah dengan kendaraan pengangkutnya. Jadi pengangkutan terlambat. Saya sedikit lega karena kekhawatiran utama saya, “hanya” pasukan saya yang tidak diangkut (terlewatkan).

Jam 2 malam angkutan baru datang. Tapi masih ada tugas tambahan buat saya yaitu kita harus punya surat pengembalian perlengkapan dari Sub Camp Officer, supaya kita bisa meninggalkan arena perkemahan. Maka langsung saya urus surat itu, setelah dapat saya pikir saya bisa tidur barang sejenak. Baru merebahkan tubuh, anak anak Gontor ribut membereskan barangnya, karena mereka mau berangkat. Mungkin karena cape dan baru enak tidur, mereka susah diatur, sehingga pembinanya marah marah dan ribut. Kita juga yang kena getahnya, jadi ngga bisa tidur soalnya ribut. Setelah anak Gontor pergi, suasana mendukung untuk tidur, maka saya coba untuk tidur, waktu itu hampir jam 4 pagi . Rasanya baru tidur, pembina Kaltim sudah membangunkan anak anak untuk bersiap siap pergi. Ala mak, baru 1/2 jam juga belum tidurnya. Yach sudah, dengan berat hati saya bangun. Tapi saya rada kesal/tidak setuju, karena jarak dari camp kita ke Gate 6 cuma 10 menitan, cuma untuk menjaga wibawa dia didepan anak anak saya tidak utarakan. Sebenarnya jam 5.30 juga cukup. Benar saja, kita menunggu sangat lama disana dan kita tidak bisa istirahat, karena tempat kita menunggu adalah dipintu gate 6 yang pada pagi itu sangat sibuk dengan banyak Kontingen lain yang juga akan pulang. Boro boro membaringkan tubuh, mau dudukpun susah. Belum lagi kekacauan waktu memasukkan barang ke bus, karena Kontingen Indonesia akan terbagi 2 rute, yang dari Jakarta akan City tour di Bangkok, yang dari Caltex ke Singapore, jadi barang tidak boleh salah masuk bus. Sedangkan semua barang disuruh diangkut ke bus, tanpa pengaturan yang jelas. Bayangkan, yang mengerti/mengurus hanya 2 orang, yang ngatur banyak orang, ngga ngerti lagi! Kan kacau! Yach mbo.. kalau bisa, ngga usah ikut ikutan ngatur! Itulah susahnya kalau para petinggi ikut campur dan informasi tidak sampai ke mereka. Yang kasian sih yang “rakyat jelata” seperti kita, disuruh kesana kesini (ngangkut barang) !

Saya sudah ngga kuat lagi, begitu tahu bus untuk kontingen Indonesia saya masuk dan tidur. Dibangunkan karena salah bus, tapi kondisi sudah mendingan karena bisa “tidur nyaman” dalam beberapa menit, saya pindah bus. Good Bye Sattahip !!

(234) view