Hiking ke Tahura

Latihan Sabtu hari ini cukup spesial bagi para Siaga 07019 dan 07020, karena mereka melakukan perjalanan khusus ke Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Dengan bantuan dari beberapa orang tua Siaga, ka Irene, ka Ely dan  ka Tony memulai perjalanan dari Sanggar menuju Tahura. 32 orang Siaga siap bermain, berpetualang dan bergembira bersama.

Para peserta memulai perjalanan ini dengan perasaan harap harap cemas (sebenarnya lebih para orang tua sih yang cemas, kalau anak anak Siaga pasti maunya hujan hujanan), karena hujan besar sudah menyelimuti kawasan Tahura. Akan tetapi semangat 19-20 tidak pernah surut hanya dikarenakan hujan. The show must go on !! Semesta pun bercerita lain, setibanya para Siaga di Tahura, sekitar pukul 14:35 WIB, hujan mulai mereda. Tampak wajah wajah ceria para siaga yang siap sedia melaksanakan permainan berburu Pokemon di Tahura

Acara dimulai dengan bermain bersama dan berfoto di depan patung Ir H. Djuanda, dilanjutkan dengan perjalanan ke Gua Jepang. Medan yg ditempuh bukan medan yang biasa, apalagi setelah hujan jalan menjadi lebih sulit dan penuh tantangan. Ada yang bertanya, hidup udah enak mengapa di buat susah?

Para peserta didik diberi tantangan agar mereka semua punya pengalaman. Dengan pengalaman tersebut kita semua berharap agar para peserta didik menjadi pribadi yg percaya diri, tangguh dan tidak mudah menyerah di masa yang akan datang.

Terima kasih untuk bapak ibu para orang tua yang bersedia mengantar dan menjemput, bermain bersama dan juga menjaga para Siaga 07019 – 07020

Siaga 07019 - 07020 Hiking ke Tahura




Photo credits: Ibu Heika, Ibu Yenni, Ka Ely dan ibu dari Gerald

 

(37) view

Kemah Kelana G & GS

Selamat malam kakak-kakak semua.
Sejak kemarin, G dan GS Bandung 19- 20 melakukan kemah kelana di area Sukawana. Didampingi oleh kak BA, kak Irene, Ka Augie dan Ka Darwin.

Berita terbaru yang diterima sore ini adalah adik-adik kelelahan karena aktivitas sehari penuh sejak pagi hingga sore tadi, tetapi selesai makan malam, ributnya ngga ketulungan (artinya masih pada waras dan sehat). Masih ada semalam dan sehari lagi perjalanan mereka, semoga keceriaan dan kesehatan bisa mendukung suksesnya perkemahan ini.

Sedikit oleh oleh dari lapangan yang dikirimkan kak BA sore tadi:

photo 2

photo 3

photo 4

photo 5

photo 1

(1465) view

Perubahan Pengurusan PASPOR RI

Informasi ini di-copy-paste dari surat elektronik dari Kak Djodi P. Dimjati di Milis Keluarga Besar B19 dan B20 . Secara pribadi Kak Djodi belum memeriksa ulang kebenaran berita ini, tetapi ada baiknya juga ditayangkan di Pangkalan Maya kita. Bukan tidak mungkin salah satu pengunjung ada yang dapat memberi kejelasan atau konfirmasi mengenai hal ini.
Update akan dilakukan bila ada informasi terkini mengenai topik pengurusan paspor RI ini.

Selamat membaca.

Selamat pagi semua…selamat memulai aktifitas.

Saya belum periksa, semoga informasi ini benar adanya:

Kepada khayalak ramai diberitahukan bahwa format Paspor RI mulai awal bln Sept mengalami perubahan yg sangat signifikan yakni tdk adanya lagi halaman legalisasi Kepala Kantor Imigrasi. Tdk perlu panik apabila akan ke LN termasuk Umroh dan Haji dgn mendatangi Kantor Imigrasi sehingga terjadi peningkatan pelayanan. Paspor model lama tetap berlaku dgn secara bertahap akan ditarik apabila telah hbs masa berlaku. Paspor model baru mengikuti standard ICAO yg diberlakukan dan diikuti oleh paspor2 neg2 seluruh dunia paling lambat th 2015. Penuh dgn security fiture yg bisa dilihat kasat mata maupun dgn bantuan alat dan dpt dibaca Machine Readable Passport yg terpasang di tempat2 pemeriksaan imigrasi pada negara yg akan dikunjungi. Tolong pemberitahuan ini disebarluaskan kpd seluruh handai taulan untuk menghindari ekses mis penipuan,percaloan dan perbuatan oknum yg tdk bertanggung jawab mengingat konsumen Paspor terdiri dari seluruh lapisan masy dan usia dari mulai tenaga kerja yg rentan menjadi obyek penipuan dan jamaah haji dan umroh yg kurang mendapatkan informasi ttg paspor.

Secara perlahan akhir tahun ini percaloan akan hilang karena permohonan akan diproses melalui system berdasarkan no antrian elektronik dan SEHARI JADI. System akan on line dgn BNI dan pembayaran dilakukan disana. Tdk ada lalu lintas uang lagi di Kantor Imigrasi. Uji coba skg lagi dilakukan di Kantor Img jkt Barat dan jkt Pusat. Pelayanan sehari jadi. Silahkan kunjungi kedua kantor itu.

Salam tiga jari,
Djodi

(321) view

Camp Penutupan Kaderisasi 2013


Bagian I

Perjalanan & Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013
Penggalang Gudep 07019-07020
Batukaras, 22-25 Juni 2013

Berangkat & Perjalanan Malam

Perkemahan pertengahan tahun 2013 pasukan penggalang ini mengambil tema “Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013”. Berjudul demikian, karena kegiatan ini adalah akhir dari program Kaderisasi 2013 yang dimulai di bulan Februari 2013 dengan LT-1. Peserta perkemahan total adalah 25 orang, terdiri dari 16 orang penggalang putra-putri dan 9 orang pembina & penegak. Termasuk dalam tim pembina – penegak adalah bintang tamu kita Kak Saretta N. Paramita yang sedang mudik dalam rangka liburan kuliah. Welcome home Kak Retta!

Satu hal penting yang perlu dilaporkan, ini adalah perkemahan pertama bagi sebagian besar peserta penggalang yang berlokasi lebih dari 2 jam perjalanan dari Bandung, dengan durasi lebih dari semalam, dan tidak bertempat di bumi perkemahan. Lokasi perkemahan adalah Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Letaknya sekitar 35 km di sebelah Barat Pangandaran & berada dalam satu wilayah dengan S. Cijulang, yang memiliki Green Canyon di bagian hulunya.

Perjalanan kami di mulai pada tanggal 22 Juni 2013 yaitu dengan berkumpul di Sanggar pada pukul 19.00. Ya, kami berkumpul malam hari karena perjalanan menuju lokasi hanya tersedia dalam dua pilihan waktu, siang atau malam. Kami memutuskan melakukan perjalanan malam agar dapat tiba di lokasi dalam keadaan terang, sehingga lebih mudah berorientasi. Perjalanan memakan waktu 8-9 jam, cukup panjang, karena ruas jalan terakhir menuju Batu Karas kondisinya menyedihkan. Keadaan ini sudah terjadi selama lebih dari 3 tahun terakhir.

Rencana keberangkatan adalah jam 20.30, dan kami berhasil menepati jadwal ini. Seluruh peserta diangkut menggunakan dua buah mobil elf berkapasitas 13-15 orang. Cukup pas untuk 25 orang dan ransel-ransel yang besar plus tongkat. Sebelum berangkat, kami semua melakukan cek perbekalan, perlengkapan, dan packing. Dari sanggar, kami berjalan kaki menuju ke parkir Sekolah Aloysius di mana elf kami sudah menunggu.

Tiba di parkiran, kami berbaris sebentar untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh Kak Ezra Tandian. Berikutnya, pembina, penegak & peserta membagi diri menjadi dua kelompok elf dan mulai menaikkan barang-barang dan tongkat. Tak lama kemudian, kami pun siap duduk di kabin penumpang. Tampak juga beberapa orang tua penggalang yang ikut mengantar keberangkatan kami, sebagian dengan wajah harap-harap cemas. Wajar saja cemas, karena ini pun pengalaman pertama mereka melepas anak-anaknya pergi jauh dalam kegiatan Pramuka.

Setelah semua naik, kedua elf mulai bergerak menyusuri jalanan Kota Bandung yang ternyata sangat padat malam itu. Maklum, malam itu adalah Malam Minggu. Cuaca cukup cerah, tidak hujan dan udara tidak terlalu panas. Kondisi dalam elf tentu tidak senyaman mobil pribadi atau bis pariwisata. Walaupun demikian, kondisi itu tidak menghalangi para peserta masih untuk menghasilkan keramaian sendiri di dalam elf.

Setelah sekitar 2 jam, barulah kami keluar Kota Bandung di Gerbang Tol Cileunyi. Kedua elf melanjutkan perjalanan menuju Timur lewat Jalan Raya Bandung Sumedang, lalu menuju Tasikmalaya. Elf melaju dengan cukup cepat karena jalan luar kota tidak terlalu ramai. Para pembina dalam tiap elf memastikan bahwa supir tidak melampaui batas kewajaran mengemudi dan tidak mengantuk. Tiap elf diawaki oleh 1 orang pengemudi & 1 orang cadangan.

Tidak banyak yang kami lihat perjalanan malam ini sampai sebelum subuh, karena gelap dan sebagian besar dari kami memang akhirnya tertidur, walaupun “tidur ayam”. Elf sempat berhenti untuk beristirahat di daerah antara Tasikmalaya & Ciamis selama sekitar 1 jam. Istirahat ini sangat berguna untuk makan-minum, menghirup udara segar, meluruskan badan, buang air, dan tentunya meringankan bokong yang mulai mati rasa karena terlalu lama duduk. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menembus gelapnya malam, ditemani sinar bulan yang hampir penuh. Kami pun kembali terkantuk-kantuk dalam elf.

Sekitar jam 03.00 dini hari, kami memasuki daerah Kabupaten Pangandaran. Ya, tahun ini Pangandaran memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis. Jalan aspal masih dalam kondisi baik. Hanya saja kedua elf sudah terpisah sejak dari sebelum waktu istirahat. Elf kedua ternyata mengambil jalan melalui daerah Garut, sehingga tertinggal sekitar 1 jam di belakang elf lainnya. Karena hal ini, jam 04.00 elf pertama memutuskan untuk menunggu di Pangandaran. Elf ini berhenti di sebuah warung surabi yang baru mulai buka.

Kami menyempatkan diri menyantap surabi Pangandaran. Rasanya tidak terlalu berebda dengan yang ada di Bandung. Yang menarik adalah cara makannya. Surabi dihidangkan di nampan seng besar beralas kertas, lengkap dengan semangkok besar sambal oncom. Siapapun yang mau, bisa langsung ‘nyomot’ surabinya, lalu langsung di-‘cocol’ ke sambal oncom dan langsung dilahap. Sebagian dari kami belum pernah makan dengan cara demikian, dan akhirnya tetap minta piring terpisah untuk mewadahi surabi dan sambal yang akan disantap.

Oh ya, usut punya usut ternyata sang supir adalah orang Pangandaran asli dan pemilik warung ini adalah teman SMPnya dulu. Terbukti, sepanjang perjalanan di daerah Pangandaran, Pak Supir ini sering sekali menyapa & melambai ke arah orang-orang yang berpapasan di jalan, dan merekapun menyapa kembali. Berarti supir ini bukan SKSD (sok kenal sok deket) ‘kan?

Singkatnya, elf kedua akhirnya tiba di warung Surabi dan terjadilah reuni dadakan para peserta perkemahan. Waktu saat itu sekitar pukul 05.00. Tak lama kemudian, kami pun kembali naik elf dan meneruskan perjalanan menuju Pantai Batukaras. Langit mulai berganti warna, dari gelap menjadi ungu dengan semburat jingga. Awan bergumpal terlihat berarak sebagian.

Jalan yang berlubang besar dan hancur lapisan aspalnya menjadi sarapan pagi kami setelah surabi sambal oncom. Elf tidak bisa melaju cepat karena hal ini. Kabarnya, jalan di ruas ini hancur karena terlalu banyak dilalui truk pasir yang mengangkut pasir besi dari penambangan di sekitar tempat ini ke Cilacap. Setelah 30 menit pertama, kami semua jadi terbiasa terpental-pental di dalam elf. Selain karena tidak ada pilihan, sepertinya masing-masing sudah menemukan jurus untuk menyiasati guncangan yang terjadi.

Camp up & Hari Pertama

Sekitar pukul 06.30, setelah melalui pos pembayaran tiket masuk daerah, akhirnya kami tiba di Desa Batukaras, tepatnya di pantai Batukaras. Kami langsung disuguhkan pemandangan dan suara debur ombak. Pagi itu laut sedang pasang sehingga air laut berada dekat dengan jalan. Deretan perahu nelayan terparkir rapi di tepi pantai. Tampak pula bahwa Pantai Batukaras sedang mengalami proses abrasi yang cukup parah. Di sepanjang pantai terlihat banyak pohon dan semak yang tumbang karena tanah tempatnya tumbuh sudah habis terkikis air laut.

Kami berhenti di halaman Pondok Maranti. Pondok ini adalah sebuah penginapan milik keluarga Pak Ucup. Pak Ucup adalah tokoh masyarakat setempat yang banyak membantu kami mempersiapkan pelaksanaan perkemahan di Batukaras. Beliau adalah salah satu penggiat dalam organisasi “Darwis” atau sadar wisata, yaitu organisasi masyarakat setempat yang dibentuk untuk memajukan kegiatan pariwisata di Batukaras. Sebagai informasi, Batukaras dikenal sebagai salah satu pantai ideal untuk berselancar.

Sementara barang-barang diturunkan, perwakilan dari pasukan B19-20 bergerak menuju kediaman Pak Ucup untuk laporan dan menyampaikan surat pengantar dari Gudep. Perwakilan yang menghadap adalah Kak B.A. & Kak Ezra sebagai perwakilan dari pembina, lalu Johanes dan Nadia sebagai wakil dari pasukan penggalang. Pak Ucup menerima kami dengan senyum lebar. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun beranjak kembali ke Maranti untuk kemudian bergerak menuju lokasi perkemahan.

Lokasi perkemahan kami terletak sekitar satu kilometer di Utara Pondok Maranti, menempuh jalan aspal datar yang sudah hancur permukaannya. Kami menempuh jarak tersebut dengan berjalan kaki. Di perjalanan inilah keandalan pengemasan (packing) ransel dan setelannya benar-benar diuji. Karena sebagian besar penggalang baru pertama kalinya membawa beban seberat 1/4 berat tubuhnya di punggung, banyak yang cukup kaget terutama karena harus membawanya menempuh jarak yang cukup jauh. Dalam sekejap keringat tampak mengalir deras, membasahi wajah, leher, punggung dan badan. Salah satu peserta, Kemal, mengalami kerusakan pada ranselnya, yaitu putus salah satu tali punggungnya. Akibatnya, ransel Kemal harus digotong menggunakan tongkat.

– bersambung –

(332) view

Daftar barang keperluan perkemahan

Berikut ini adalah daftar keperluan yang dapat dan perlu dibawa dalam perkemahan. Jenis, jumlah dan volume disesuaikan dengan durasi dan lokasi perkemahan.

Personal
– makanan siap makan, snack (jangan keripik2an, buang2 tempat di tas) + minuman pribadi
– alat makan pribadi (misting / tempat bekal / rantang + sendok)
– coklat/gula jawa
– beras 5 cangkir
– air minum minimal 2 x 1,5 liter
– obat + p3K pribadi
– baju & celana ganti, pakaian dalam, kaos kaki, celana sontok / PDL yg bisa dibuntungin
– sandal / sandal gunung
– sepatu
– senter + baterai
– pisau lipat
– koran bekas 1 eksemplar
– kantong kresek besar minimal 3 buah
– korek + lilin
– kaleng susu kentel manis/kaleng cat/kaleng buah (leci dll.) minimal 2 buah
– tas pinggang / tas kecil (harus bisa diselempang ato nempel di badan, ga dijinjing)
– tas kemping / carrier / rucksack min. 30 liter
– jaket/baju hangat
– inspeksi (WAJIB!!, jangan ada yg ketinggalan, buku teknik tinggal di rumah)

Sanitary (Personal)
– Sabun mandi + Handuk
– sikat gigi + odol
– Tissue roll
– Lotion anti nyamuk (PENTING!!)

Sanitary (Regu)
– Deterjen + sabun cuci (utk cuci baju dan cuci piring)
– Tissue basah + tissue roll

Pelindung dari cuaca / weather gear (personal)
– Ponco / jas ujan / rain coat
– Topi / scarf / bandana
– Sun screen lotion (sunblock, minimal 30 spf)

Tidur (personal)
– matras dan/atau sleeping bag
– sarung / selimut ringan (jangan yang tebel, jamin ga akan kebawa)

Masak (regu)
– makanan kaleng (ma ling, corned, sarden, dll.)
– telur
– bahan masakan (bahan mentah, misal kentang, wortel, dll. – sesuaikan dengan menu yang kalian atur)
– bumbu masakan (gula, garam, merica, bawang merah – putih, cabe kering, kecap, sambal siap saji, pala, dll yg diperlukan)
– minyak goreng / mentega
– kompor spiritus / parafin / gas mini (jangan coba2 bawa kompor gas portabel yang pake koper plastik.. dijamin ga akan dibawa)

Perlengkapan Regu
– perlengkapan p3k standar + balsem (vicks vaporub, balsem otot)
– tali pramuka (harus yang panjang, bukan yang uda dipotong2)
– tenda (prefer tenda rumah, tolong cek tenda rumah siap apa ngga, kalo tenda dome, jangan yang kecil.. minimal 1 tenda muat ber 5 + barang)
– trash bag
– tongkat sejumlah anggota regu
– bambu pendek u/ pagar
– benang kasur
– parang
– sekop
– kelambu (cek di tenda uda nempel / belum)
– minyak tanah minimal 2 liter (tiap regu harus bawa, kalo ga kita ga bisa kemping)
– Botol YOU C 1000 yang beling, minimal 5 buah per regu
– kain perca

(4914) view

Ada yg tahu kalau TAHURA Ir. H. Djuanda adalah yang pertama di Indonesia?

Hari ini 43 orang siaga didampingi oleh para pembina dan lebih dari setengah lusin orang tua, berjalan-jalan di Tahura Ir. H. Djuanda. Acaranya sangat semarak, dimulai dengan pengarahan yang dilakukan di playground, kemudian para siaga, pembina dan rombongan orang tua mulai berjalan ke gua Belanda, sambil diberi pengarahan tentang sejarah Tahura Ir. H. Djuanda dan juga mengenal tumbuhan serta serangga yang ada di dalam taman yang menarik ini. Sesampai di Gua Belanda, para siaga mulai menyusuri kegelapan gua dan melihat bagian bagian dalam gua, mulai dari tempat penyimpan amunisi, ruang tahanan, sampai pusat komunikasi.

Setelah puas bermain dalam kegelapan, para siaga mulai diuji untuk mendapatkan Tanda Kecakapan Khusus, tema untuk minggu ini adalah TKK Pengamatan. Para Siaga mulai diceritakan tentang Kim (Kimball O’Hara). Setelah cerita pendek dari kak Toni, kemudian mulailah para siaga diberi tantangan permainan KIM. Para siaga diminta untuk memperhatikan dan mengingat 12 benda yang telah dikumpulkan oleh ka Kendrick selama perjalanan. setelah waktu semenit habis, para siaga diminta untuk menyebutkan nama nama benda yang mereka lihat.

Setelah selesai dengan permainan Kim, para siaga kembali diminta menyusuri gua, untuk menemukan “tiket” keluar gua, tanpa tiket tersebut para siaga tidak boleh keluar dari gua. Tak disangka mereka sangat bersemangat dan sangat mahir dalam menemukan tiket yang telah disebar sepanjang gua oleh ka Tony Black. Dengan cepat mereka mengumpulkan tiket dan kemudian mereka langsung pergi mengikuti tanda jejak menuju Gua Jepang dan kemudian kembali ke starting point saat mereka berangkat tadi.

Acara hari ini ditutup dengan pengarahan dari Ka Irene tentang serangga dan jenis jenis laba laba yang mungkin dilihat oleh para siaga, tak lupa juga para siaga melahap roti coklat dan teh manis yang telah disediakan.

Berikut adalah ulasan tentang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang dikutip dari Wikipedia

Tahura Ir. H. Djuanda adalah taman terbesar yang pernah dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda berbentuk hutan lindung dengan nama Hutan Lindung Gunung Pulosari. Perintisan taman ini mungkin sudah dilakukan sejak tahun 1912 bersamaan dengan pembangunan terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung (kemudian hari disebut sebagai Gua Belanda), namun peresmiannya sebagai hutan lindung baru dilakukan pada tahun 1922.
Sejak kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 secara otomatis status kawasan hutan negara dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Djawatan Kehutanan.
Kawasan hutan ini dirintis pembangunannya sejak tahun 1960 oleh Mashudi (Gubernur Jawa Barat) dan Ir. Sambas Wirakusumah yang pada waktu itu menjabat sebagai Administratur Bandung Utara merangkap Direktur Akademi Ilmu Kehutanan, dan mendapat dukungan dari Ismail Saleh (Menteri Kehakiman) dan Soejarwo (Dirjen Kehutanan Departemen Pertanian). Pada tahun 1963 sebagian kawasan hutan lindung tersebut mulai dipersiapkan sebagai Hutan Wisata dan Kebun Raya. Tahun 1963 pada waktu meninggalnya Ir. R. Djoeanda Kartawidjaja (Ir. H. Djuanda) , maka Hutan Lindung tersebut diabadikan namanya menjadi Kebun Raya Rekreasi Ir. H. Djuanda untuk mengenang jasa-jasanya dan waktu itu pula jalan Dago dinamakan jalan Ir. H. Djuanda.
Untuk tujuan tersebut, kawasan tersebut mulai ditanami dengan tanaman koleksi pohon-pohonan yang berasal dari berbagai daerah. Kerjasama pembangunan Kebun Raya Hutan Rekreasi tersebut melibatkan Botanical Garden Bogor (Kebun Raya Bogor) , dengan menanam koleksi tanaman dari di Bogor.
Pada tanggal 23 Agustus 1965 diresmikan oleh Gubernur Mashudi sebagai Kebun Raya Hutan Rekreasi Ir. H. Djuanda yang kemudian menjadi embrio Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang dikelola oleh Dinas Kehutanan (dulu Djawatan Kehutanan Propinsi Jawa Barat).
Tahun 1978 pengelolaan dari Dinas Kehutanan (dulu Djawatan Kehutanan Propinsi Jawa Barat) diserahkan ke Perum Perhutani Jawa Barat.
Pada tahun 1980 Kebun Raya/Hutan Wisata yang merupakan bagian dari komplek Hutan Gunung Pulosari ini ditetapkan sebagai taman wisata, yaitu Taman Wisata Curug Dago seluas 590 ha yang ditetapkan oleh SK. Menteri Pertanian Nomor : 575/Kpts/Um/8/1980 tanggal 6 Agustus 1980.
Pada tahun 1985, Mashudi dan Ismail Saleh sebagai pribadi dan Soedjarwo selaku Menteri Kehutanan mengusulkan untuk mengubah status Taman Wisata Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya.
Usulan tersebut kemudian diterima Presiden Soeharto yang kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1985 tertanggal 12 Januari 1985. Peresmian Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dilakukan pada tanggal 14 Januari 1985 yang bertepatan dengan hari kelahiran Ir. H. Djuanda. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda sebagai Taman Hutan Raya pertama di Indonesia.
Untuk menjamin susksesnya pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Menteri Kehutanan melalui Surat Keputusan Nomor : 192/Kpts-II/1985 membentuk Badan Pembina Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang diketuai oleh Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) serta menunjuk Perum Perhutani sebagai Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pembangunan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.
Tugas Badan Pembina Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda adalah :
Memberikan pengarahan pembangunan dan pengembangan Taman Hutan Raya;
Menyusun rencana jangka panjang dan menengah;
Mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.
Anggota Badan Pembina terdiri atas Wakil Perguruan Tinggi, yaitu :
Rektor Institut Teknologi Bandung,
Rektor Universitas Padjadjaran Bandung, dan
Rektor Institut Pertanian Bogor.
Selain wakil perguruan tinggi juga ditunjuk wakil tokoh masyarakat.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai fungsi untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa baik yang alami maupun buatan, jenis asli dan atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian dan pendidikan serta menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
Sebagai salah satu bentuk pengelolaan kawasan pelestarian alam, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda diharapkan mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis serta pelestarian pemanfaatan sumber daya hayati dan ekosistemnya. Pemanfaatan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda secara optimal akan memberikan pengaruh positif terhadap perlindungan plasma nutfah dan pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar hutan maupun Cekungan Bandung pada umumnya.
Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda menurut Surat Keputusan Direktur Jenderal PHPA Nomor. 129/Kpts/DJ-VI/1996 adalah pada Pemerintah Daerah (Pemda) Tingkat I c.q. Dinas Kehutanan untuk wilayah di luar Jawa, sedangkan di Pulau Jawa diserahkan kepada Perum Perhutani.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 1998, tanggal 23 Juni 1998 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Kehutanan Kepada Daerah, menyebutkan bahwa pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang mencakup kegiatan pembangunan, pemeliharaan, pemanfaatan dan pengembangan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda diserahkan kepada Pemda Tingkat I.
Dalam era otonomi daerah saat ini, sebagaimana diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom, dinyatakan bahwa Pemerintah Propinsi berwenang untuk memberikan pedoman penyelenggaraan pembentukan wilayah dan penyediaan dukungan pengelolaan Taman Hutan Raya. Untuk mempertegas kedua peraturan pemerintah tersebut di atas maka diterbitkan pula Keputusan Menteri Kehutanan nomor : 107/KPTS-UM/2003 tentang Tugas Perbantuan kepada Gubernur, Bupati atau Wali Kota, berkaitan dengan pengelolaan Taman Hutan Raya.
Mengingat lokasi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada pada lintas wilayah Kabupaten dan Kota, yaitu terletak di Kabupaten Bandung (Kecamatan Cimenyan dan Kecamatan Lembang) dan Kota Bandung (Kecamatan Coblong), maka sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2000, kewenangan pengelolaannya berada di Pemerintah Propinsi Jawa Barat, dalam hal ini adalah Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat.
Memperhatikan hal tersebut di atas Pemerintah Propinsi Jawa Barat membentuk Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat yang secara teknis maupun administrasi bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Ketentuan tersebut tercantum dalam Perda No. 5 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Propinsi Jawa Barat Nomor : 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Propinsi Jawa Barat.
Kronologis Peraturan Perundangan Pengelolaan Taman Hutan RayaIr. H. Djuanda
No. PERATURAN PERUNDANGAN URAIAN
1. SK. Mentan Nomor : 575/Kpts/Um/8/1980 Penetapan Taman Wisata Curug Dago seluas 590 Ha
2. Tahun 1984 Penataan Batas kawasan oleh Badan INTAG-Departemen Kehutanan
3. Kepres Nomor : 3/M/1985 Penetapan Taman Wisata Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
4. SK. Menhut Nomor : 192/Kpts-II/1985 Pengaturan Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
5. SK. Menhut Nomor : 193/Kpts-II/1985 Penunjukkan Anggota Badan Pembina Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Wakil PTN dan Tokoh Masyarakat
6. SK. Menhut Nomor : 107/Kpts-II/1985 penunjukan Anggota Badan Pembina Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Wakil PTN dan Tokoh Masyarakat
7. SK. Menhut Nomor : 107/Kpts-II/2003 tgl 24 Maret 2003 Tentang Penyelenggaraan Tugas Pembantuan Pengelolaan Taman Hutan Raya oleh Gubernur atau Bupati/Walikota
8. Perda Propinsi Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2002 Perubahan Perda Propinsi Jawa Barat Nomor 15 Tahun 2000 tentang Dinas Daerah Propinsi Jawa Barat (Terbentuknya UPTD Balai Pengelolalaan Taman Hutan Raya)
9. Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2008 Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
10. Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 120 Tahun 2009 Petunjuk Pelaksanaan Peda Provinsi Jawa Barat Nomor 25 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
[sunting]Objek Wisata di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

Selain hutan alaminya dan untuk berolah-raga lintas alam THR Djuanda juga terdapat objek wisata lainnya:
Monumen Ir. H. Djuanda
Gua Jepang dan Gua Belanda
Kolam Pakar
Air terjun Curug Omas
Air terjun Curug Lalay
Air terjun Curug Dago
Museum Ir. H. Djuanda
Artefak kebudayaan purba yang pernah ditemukan di kawasan Dago Pakar
Prasasti Raja Thailand
Taman bermain
[sunting]

(675) view

Kunjungan Ke YONKAV 4 / TANK

Siang yang agak mendung cukup membuat para siaga dan penggalang resah, karena hari itu mereka sudah punya rencana besar yang sangat ditunggu tunggu, yaitu kunjungan ke Batalyon Kavaleri IV / Tank di daerah Turangga.

Sesudah korve Siaga berangkat diantar para orang tua, dan penggalang berangkat menggunakan angkutan kota. Proses berangkat cukup rumit juga karena total peserta hampir mendekati 90 orang. Tetapi dengan kepiawaian para pembina dan kerjasama dengan para orang tua, hal seperti ini bukanlah suatu masalah. Semua dapat diatur dengan cantik.

Sesampai di Yonkav IV adik-adik S&G disambut dan disuguhi PBB dan senam senjata. Tak kalah menarik, adik adik S&G boleh mencoba memegang dan bertanya mengenai senjata yang mereka lihat. Termasuk belajar dan mencoba memasang sangkur. Tentu saja ini adalah hal yang mengasyikan bagi mereka, bisa “bermain” dengan senjata asli 🙂

Selesai bermain senjata, mereka pindah area, dan saat itu mereka mendapatkan hal yang lebih mengasyikkan lagi, yaitu bermain di atas tank. Tank AMX1 Canon buatan Perancis tahun 1962 memang barang tua, tetapi tidak menghalangi semangat anak-anak naik turun tank tersebut. Sebagian pembina bersyukur bahwa yang didemo-kan hari ini adalah tank, apabila yang dijadikan demo mobil sedan, tentu saja sudah penyok sana sini.

Acara di area tank ini tidak kalah menariknya dengan acara ditempat peragaan senjata tadi, adik adik banyak bertanya masalah teknis dan praktis soal tank. Ada yang bertanya apakah di dalam tank bisa merasakan gempa? ada juga yang bertanya apakah tank bisa jalan di atas jalan biasa? dan berjuta pertanyaan yang membuat para tentara cukup pusing menjawabnya

Tak terasa waktu sudah hampir 3 jam anak anak bermain di YonKav IV ini, walaupun masih tertarik untuk main, kakak-kakak pembina sudah mulai memanggil-manggil untuk segera kembali ke sanggar. Maka latihan seru hari ini diakhiri dengan foto bersama di atas tank. 90 orang berfoto bersama, dan tank-nya tidak terlihat sama sekali 🙂

(2541) view

Gathering & Hiking Sabtu 16 Juli 2011 & 17 Juli 2011

Hiking and Gathering Bandung 19 - 20
Hiking and Gathering Bandung 19 - 20

Kepada Para Kanda, Pandu Adi, Panitia Reuni ,Pembina & Penegak B 19 – 20

Kami mengajak anda semua dalam salah satu kegiatan Road to Golden Reunion, yaitu acara Gathering & Hiking. Kegiatan ini akan diawali dengan acara Gathering (Ngobrol + Nginep di Villa) dari Hari Sabtu tgl 16 Juli 2011. Bagi yang mau berangkat bareng dapat kumpul Pk. 15.00 di Sanggar & Pk 16.00 akan berangkat ke Villa Istana Bunga

Bagi yang mau nyusul langsung ke lokasi dapat langsung ke: Villa Istana Bunga Blok I no 1 (Parompong – Cisarua Lembang)

Biaya Partisipasi yang akan ikut nginap + Hiking min. @ Rp. 150.000/orang (untuk keperluaan bayar villa, makan 3 X + tiket masuk ke CIC)

Perlengkapan yang harap dibawa :
1. Alas tidur + Sleeping bag ( bagi yang punya )
2. Peralatan mandi
3. Obat Pribadi
4. Jaket
5. Peralatan makan kalau gak merasa repot. ( takut di Villa kurang )

Yang muda tidurnya gak di kasur tp pake sleeping bag, bagi yang mau tidur di kamar atau kasur ; yang bawa keluarga mohon segera daftar karena tempat terbatas (Villa nya kecil jadi kalo kurang harus booking villa tambahan)

(Date line yang mau tidur di kamar pake Kasur terakhir tgl 13 Juli 2011)

Biaya Partisipasi yang hanya ikut Hiking saja min @ Rp. 35.000/orang
(untuk keperluan bayar tiket masuk CIC + makan siang)

Perlengkapan yang harap dibawa :
1. Ransel
2. Ponco / jas hujan
3. Topi
4. Minum
5. Snack
6. Obat pribadi

Bagi yang menyusul ikut HIKING saja dapat langsung berkumpul di tempat Parkir CIC ( Ciwangun Indah Camp ) Pk. 07.30 pada Hari Minggu 17 Juli 2011

Kami berharap Panitia Reuni / HUT dapat semua terlibat dalam acara ini + Pandu Adi, Pembina & Penegak B 19 – 20. Karena acara ini selain agar saling mengenal satu sama lainnya juga untuk mempersolit team panitia Reuni / HUT

Bagi yang akan pertisipasi dalam acara ini dapat mendaftar melalui :
FB, milis B 19 – 20 atau sms ke 0812 2020 3080

Pembayaran Biaya Partisipasi dapat ditransfer ke rekening khusus Reuni / HUT

BCA 282 001 4050 an Willi Dwinanta Hartoyo
( stlh tranfer tlg sms ke Willi dengan no HP : 081 2203 3839 )

Panitia HUT / Golden Reunion Bdg 19 – 20

(267) view

Catatan dari Aceh (2/2)

Aceh: Pergantian tahun 2007-2008


Malam tahun baru? Pesta kembang api & terompet kertas yang dihiasi kertas warna-warni, itulah yang langsung terbayangkan. Pergantian tahun kali ini saya lalui di Banda Aceh dan sempat dibuat bertanya-tanya, “Akan seperti apakah malam tahun baru nanti?” Ini dikarenakan beberapa hari sebelum akhir tahun berkembang isu bahwa perayaan tahun baru akan dilarang. Hotel-hotel tidak boleh mengadakan acara apapun malam itu. Tanggal 28 Desember, sempat pula disinggung dalam ceramah Jumat di mesjid dekat rumah yang dipancarkan melalui pengeras suara bahwa perayaan tahun baru tidaklah sesuai dengan Syari’at Islam.

Benar saja, sejak tanggal 30 Desember ada mobil dengan pengeras suara yang berkeliling kota mengumumkan himbauan tentang kegiatan-kegiatan yang dianjurkan dalam menyambut tahun baru. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) NAD juga memasang pengumuman di harian setempat yang melarang kegiatan-kegiatan menyambut tahun baru yang tidak sesuai dengan Syari’at Islam, a.l.: meniup terompet, menyalakan lilin, kembang api dan musik hingar bingar. Kegiatan menyambut tahun baru sebaiknya difokuskan dengan berdoa, dzikir, ceramah agama dan kegiatan keagamaan lainnya yang di pusatkan di mesjid, mushalla ataupun meunasah di sekitar tempat tinggal kita. Terbayanglah kalau suasana malam tahun baru di Aceh akan tenang & damai.

Kebetulan pada tanggal 31 Desember sore ada teman yang baru tiba di Banda Aceh, setelah makan malam saya mengajak dia berkeliling kota. Saat itu baru pk. 21.00 dan jalanan sudah dipenuhi motor & mobil, ada pula beberapa orang yang membawa terompet tahun baru. Di pinggir jalan ada pula terlihat pedagang-pedagang yang menjajakan terompet tahun baru dan kembang api/ mercon, bahkan ada pedagang yang menyalakan kembabg api di pinggir jalan untuk menarik pembeli. Banyak terlihat juga orang yang duduk-duduk di atas sepeda motor yang diparkirkan di tepi jalan, seakan-akan menghabiskan waktu menantikan pergantian tahun.

Setelah mengantarkan teman kembali ke hotelnya, saya pun pulang. Setengah jam menjelang pergantian tahun mulai terdengar bunyi petasan & langit diwarnai oleh warna-warni kembang api. Sempat pula terdengar suara terompet di luar sana. Ramainya suara petasan & kembang api ini berlangsung cukup lama dan baru mereda sejam lewat tengah malam. Dari seorang kawan Aceh yang keluar malam tahun baru itu saya diberitahu bahwa dia “terjebak” dari pk. 23.30 hingga pk.01.00 di lapangan Blang Padang, sebuah lapangan yang menjadi pusat pesta kembang api tidak resmi malam itu. Dia pun mengatakan bahwa pelarangan ini adalah yang pertama kali.

Keseriusan muspida Banda Aceh dalam menjalankan larangan ini terlihat dengan menerjunkan tim khusus untuk pengamanan malam tahun baru yang melibatkan Dinas Syari’at Islam, Wilayatul Hisbah/ Polisi Syari’at, Propam Polda, Pomdam Iskandar Muda, Poltabes, Satpol PP dan Dinas Infokom. Target utama tim khusus ini adalah mengamankan Mesjid Raya Baiturrahman dari tiupan terompet dan petasan/ kembang api. Selain melakukan razia & penyitaan terompet yang mencapai lebih dari 5000 buah, seperti yang diberitakan di koran.

(232) view

Catatan dari Aceh (1/2)

Aceh: Ramadhan dan Lebaran 2007

Serambi Mekah, begitulah julukan Aceh yang diajarkan sewaktu SD dulu. Agak ngeri juga sewaktu saya mau berangkat ke Aceh, akan seperti apakah kondisi & penerapan Syariat Islam di Aceh? Apakah semua wanita harus berjilbab? Semua lelaki mesti berjanggut & pakai jubah? Ternyata keadaannya tidaklah seperti yang dibayangkan. Memang di Aceh ada yang namanya “polisi syariat” yang disebut Wilayatul Hisbah/ penegak Syariat Islam (WH) yg bertugas sperti polisi, memastikan pelaksanaan/ penerapan Syariat Islam oleh umat Islam, bukan bagi yang non-muslim.

Di Banda Aceh, kalau kita melihat perempuan yang tidak ber-jilbab dapat langsung disimpulkan dia adalah non-muslim yang biasanya Cina atau bule. Kadang masih dapat ditemukan juga perempuan berkulit coklat yang tidak berjilbab di jalan, dapat dipastikan mereka adalah pendatang, bukan orang Aceh. Walaupun demikian, di beberapa daerah Aceh non-muslim juga “dimohon toleransi”-nya untuk juga menghormati penerapan Syariat Islam ini. Sepertinya nyaris setiap hari ada berita di koran ttg tindakan2 yang dilakukan WH, a.l.: pasangan yg ditangkap karena kedapatan melakukan khalwat (mesum), razia bagi wanita yang berpakaian non-muslim di jalan (termasuk “jilbab gaul” yang ketat), dll.  Pernah pula operator telepon selular XL mengecat spanduk-spanduk & umbul-umbul yang telah dipasang di jalan-jalan sepanjang Banda Aceh karena menampilkan seorang pria yang diapit oleh 2 orang wanita. Yang dicat adalah kedua wanita yang mengapit karena menampilkan aurat: kulit lengan (karena berkaos tangan pendek) dan rambut. Ada pula konser grup band dari Jakarta (Nidji) yang dilarang tampil sehari sebelum pelaksanaannya karena dianggap dapat menimbulkan maksiat.

Meugang adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh untuk menyantap daging (sapi/ kerbau). Tradisi ini dilakukan sehari sebelum puasa, sehari sebelum lebaran & sehari sebelum idul adha. Pada saat meugang & sehari sebelumnya harga daging di pasar bisa mencapai Rp100.000 per kilo! Saat meugang puasa kemarin Banda Aceh sepi selama beberapa hari karena banyak penduduknya yang mudik ke kampung halaman utk melakukannya bersama keluarga. Tiga hari pertama di bulan Ramadhan Banda Aceh sepi, toko-toko & pasar tutup.

Beberapa toko baru buka menjelang magrib atau selewat tarawih. Bagi mereka yang tidak puasa & tidak masak di rumah selama bulan ramadhan akan terpaksa ikut tidak makan siang karena tidak ada satu pun penjual makanan. Walaupun demikian, selepas azhar (jam 4 sore) banyak sekali pedagang-pedagang kaget di pinggir jalan yang menjual panganan utk berbuka puasa seperti: air tebu, es campur, jajanan pasar yang manis, mie aceh, rujak aceh, lemang (ketan/ ketan hitam/ ubi yang dimasak di dalam bambu). Kota yang sepi seharian mulai hidup saat itu. Akan tetapi keramaian itu tidak berlangsung lama karena menjelang magrib jalanan sepi kembali hingga selepas tarawih (+/- jam 9.30pm). Bahkan ada beberapa tempat belanja yang buka hingga jam 2 pagi selama bulan puasa.

Mesjid sepertinya penuh dengan kegiatan hingga tengah malam. Kita dapat mendengarkan orang-orang yang sedang sholat tarawih & sembahyang setelahnya hingga sekitar jam 1pagi. Lalu ada jeda sekitar 2 jam, di mana selanjutnya pada jam 3 pagi ada panggilan utk sahur dan mulai kembali terdengar kegiatan di mesjid hingga selesai sholat subuh.

Pabrik tempat saya bekerja berada di sebuah desa yang berjarak 30 km dari Banda Aceh. Di sana semua kegiatan berhenti selama bulan puasa, semua orang dewasa berpuasa. Tidak ada toko apalagi warung nasi yang buka, semua libur selama bulan puasa. Jaranglah kita berjumpa orang di jalan, kalau pun kita ada pasti orang tersebut terlihat lesu & lemas. Pabrik pun libur, tidak ada kegiatan. Namun anehnya, pabrik justru lebih ramai dan sering dikunjungi orang-orang desa selama bulan puasa dari pemuda desa, jawara-jawara, tokoh-tokoh GAM juga ada di pabrik. Ini dikarenakan lingkungan pabrik yang tertutup & dikelilingi pagar benteng sangat ideal bagi mereka yang merasa perlu “sahur” lagi agar kuat “berpuasa” hingga magrib, atau hanyalah sebatas menghisap sebatang dua batang rokok.

Tidak adanya kegiatan selama puasa bukannya berarti tidak ada insiden. Sempat terdengar berita ada orang yang dipukuli oleh pemuda desa karena ketahuan masak di hutan. Beberapa hari kemudian ada lagi berita bahwa para pemuda desa mengobrak-abrik dapur alam yang dibuat beberapa orang di pinggir sungai. Ironinya, para pemuda desa yang melakukan semua itu justru pengunjung tetap pabrik selama bulan puasa.

Malam takbiran di Banda Aceh sangatlah berbeda dengan di Bandung. Selama ini setahu saya yang namanya malam takbiran adalah malam di mana kita bisa menikmati “surround sound system” di sekeliling rumah semalam suntuk. Malam takbiran kemarin di Aceh boleh dibilang sepi dalam arti sesungguhnya. Tidak terdengar suara apapun dari mesjid selewat jam 8 malam. Gema takbir baru mulai lagi jam 6 pagi hingga menjelang sholat Ied.

Layaknya hari Lebaran di tempat-tempat lain di Indonesia, hari Lebaran di Aceh pun diwarnai dengan acara sirahturahmi. Para tamu tidak disuguhi ketupat seperti di P. Jawa, tapi ada makanan lain yang khas Lebaran di Aceh yaitu timphan. Timphan ada sejenis panganan manis yang terbuat dari tepung beras ketan yang dibungkus oleh daun pisang muda dan dibentuk seperti otak-otak pipih lalu dikukus. Timphan ini biasanya diisi dengan selai sarikaya, ada pula yg diisi oleh potongan-potongan kecil pisang atau gula merah & kelapa.

Hari Lebaran adalah hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak, selain mereka mendapatkan uang dari para handai taulan yang mereka salami hari itu, khusus para anak laki-laki mendapatkan hadiah lebaran berupa senapan mainan yang berpeluru plastik. Anak-anak itu akan jalan bergerombol, biasanya per kampung dan perang dengan kelompok lainnya. Ada pula anak-anak yang ikut kendaraan umum & duduk di atas atap mobil dengan memegang senapan mereka. Biasanya di persimpangan mereka berjumpa dengan rombongan anak-anak lainnya, mereka akan berloncatan turun dari mobil & dimulailah peperangan. Kegiatan perang-perangan ini sudah menjadi tradisi bagi anak-anak di Aceh. Peperangan ini bukanlah tidak menimbulkan korban, kadang karena saking menjiwai peperangan itu mereka berkelahi sunguhan dan tidak ada orang dewasa yang mengawasi (para orang tua sedang sibuk bersirahturahmi). Selain luka-luka karena berkelahi, ada pula laporan tentang anak yang buta karena matanya kena tembak. Walaupun demikian para orang tua tidak ada larangan dari orang tua. Mereka bilang biarlah anak-anak menikmati lebaran mereka, nanti selewat lebaran baru mereka akan melarang senapan mainan tersebut.

(231) view