Ada 5.000 Sukarelawan Internasional di Jambore Dunia

TEMPO.CO, Kristianstad – Botol Coca-Cola yang digenggam oleh penjepit langsung masuk ke kantong plastik yang ditenteng di tangan kiri. Sore itu, tangan kanan Jose Henrique Goliveira sibuk memungut sampah dengan penjepit di arena perkemahan orang dewasa pada Jambore Pramuka Sedunia di Kristianstad, Swedia.

“Senang sekali dapat bertemu dan bekerja sama dengan pramuka dari negara lain,” kata Goliveira yang menjadi anggota Kontingen Pramuka Brasil di Jambore Dunia ke-22 yang berlangsung 27 Juli sampai 6 Agustus 2011. Jambore ini diikuti 39 ribu pramuka berusia 14-18 tahun.

Di tanah airnya Goliveira menjadi dokter gigi. Pimpinan Kontingen Brasil menempatkannya sebagai International Service Team (IST) atau Sukarelawan Internasional pada Jambore Dunia. Hermawati Suwarna, Toni Suparman, dan Fahri Makasau dari Indonesia juga menjadi sukarelawan yang membantu panitia Jambore.

World Organization of Scout Movement memang mengundang setiap organisasi Pramuka di masing-masing negara mengirim sukarelawan untuk membantu kerja panitia. Pada Jambore kali ini Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengirim 34 sukarelawan dari berbagai daerah.

Para Sukarelawan Internasional itu membiayai sendiri ongkos keberangkatannya ke lokasi Jambore Dunia. Mereka bahkan membayar fee untuk mendirikan tenda dan mendapat makanan tiga kali sehari. Usai acara, Organisasi Pramuka Sedunia akan memberikan piagam penghargaan.

Menurut Hermawati, dirinya mendapat pelajaran berharga dari tugasnya di bagian pasokan makanan. “Mereka benar-benar menjaga kualitas sayuran dan lauk-pauk yang akan dimasak,” kata guru di SMP Kartika, Bandar Lampung, itu.

Dalam kelompoknya ada 12 sukarelawan yang berasal dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Dalam sehari masing-masing bekerja enam jam dan dibagi secara bergiliran. Ada yang bekerja pukul 07.00-13.00; 13.00-19.00; 19.00-01.00; dan 01.00-07.00.

Toni Suparman, anggota Pramuka dari Bandung, mendapat tugas di bagian kegiatan ketangkasan. Sementara Fahri bertugas membantu panitia di arena Global Development Village. Keduanya telah mengikuti Jambore Dunia sejak di Thailand dan Inggris. Fahri bahkan menjadi peserta Jambore Dunia di Kanada, 20 tahun lalu.

“Ini bagian dari pengabdian saya kepada Pramuka,” kata Fahri yang menjadi anggota DPRD di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Toni Suparman yang menjadi pengusaha mengaku banyak menjumpai teman lamanya di arena Jambore.

Hermawati berharap Kwartir Nasional mengadopsi model sukarelawan untuk membantu kerja panitai penyelenggara Jambore Nasional atau kegiatan Pramuka di tingkat nasional lainnya. “Saya yakin kita bisa asal dipersiapkan dengan matang,” kata mantan Ketua Dewan Kerja Penegak dan Pandega Lampung tahun 1974-1976 itu.

Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng dan Ketua Kwarnas Azrul Azwar yang hadir di arena Jambore Dunia setuju dengan usulan tersebut. Para sukarelawan itu, kata Azrul, berasal dari kwartir daerah atau cabang. “Harus diatur, jangan sampai kedatangan mereka sekadar jalan-jalan,” kata Azrul.

Bagi orang dewasa, kata Bapak Pandu Sedunia Lord Baden Powell, Pramuka adalah medan pengabdian. Organisasi ini bukan lahan untuk mencari uang atau mendapat dukungan politik. Sekitar 5.000 Pramuka dari berbagai negara yang menjadi Sukarelawan Internasional di Jambore Dunia ke-22 ini telah menerapkan ajaran Baden Powell.

UNTUNG WIDYANTO (KRISTIANSTAD)
Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/08/05/117350213/Ada-5000-Sukarelawan-Internasional-di-Jambore-Dunia

(242) view

Simply Scouting

TEMPO.CO, Seratus lima puluh satu batang pohon pinus yang daun dan rantingnya dipangkas berjejer membentuk huruf S. Di atasnya berkibar bendera 150 negara peserta Jambore Pramuka Sedunia Ke-22 di Kota Kristianstad, Swedia. Satu lagi adalah bendera World Organization of the Scout Movement (WOSM).

Barisan bendera yang ditambatkan pada pinus setinggi 50 meter tersebut menjadi pusat aktivitas jambore yang diselenggarakan di lahan pertanian Desa Rinkaby. Di lingkaran dalam terdapat tenda pameran setiap negara anggota WOSM. Ada pula pusat media, rumah sakit mini, toko Pramuka, dan kafe.

Pada lingkaran luar berdiri ribuan tenda untuk 39 ribu peserta, anggota Pramuka berusia 14-18 tahun. Mereka akan berkemah hingga 7 Agustus 2011.

“Swedia bangga menjadi tuan rumah peristiwa ini dan saya ucapkan selamat datang kepada orang muda dari berbagai negara,” kata Raja Swedia Carl XVI Gustaf. Dia mengajak para peserta memanfaatkan waktu berharga di jambore untuk membina persahabatan.

Jambore merupakan pertemuan akbar anggota Pramuka dalam bentuk perkemahan. Jambore Pramuka Sedunia yang pertama diselenggarakan di London pada 1920. Kala itu perkemahan yang digagas Lord Baden Powell–Bapak Pramuka Sedunia–dihadiri 8.000 anggota Pramuka dari 34 negara.

Jejeran pohon pinus yang membentuk huruf S adalah akronim dari Simply Scouting. Ini adalah tema jambore di Swedia yang merupakan jawaban dari empat pertanyaan kunci. Pertama, pengalaman apa saja yang bisa diperoleh dari Jambore? Kedua, bagaimana saya memperoleh teman Pramuka sedunia? Ketiga, bagaimana kita dapat memahami perkembangan global? Terakhir, bagaimana agar ini semua terwujud?

Pada jambore kali ini, Indonesia mengirim 191 peserta yang berasal dari 27 provinsi. “Kami akan terapkan pengelolaan perkemahan yang bersih dan ramah lingkungan,” kata Muhamad Ma’ruf, pembina dari Gugus Depan Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur. Dia tertarik pada sarana mandi-cuci-kakus yang bersih, lantaran kotoran manusia diolah menjadi biogas.

UNTUNG WIDYANTO (KRISTIANSTAD)
diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/07/30/117349107/Simply-Scouting-di-Jambore-Pramuka-Sedunia

(215) view

Changing The World

“Changing the world”, the official song for the 22nd World Scout Jamboree 2011 in Sweden, is written by Daniel Lemma (lyrics) together with Pär Klang and the rest of the Jamboree band.

The premiere was at the Head of Contingent meeting, and was broadcasted live. Here you can listen to the studio version of the song.

Daniel Lemma is a Swedish composer and singer from Nyhamnsläge in Skåne. More information about Daniel Lemma may be found at: http://www.daniel-lemma.com/

The Jamboree band consists of Pär Klang, John Söderdahl, Lennie Hansen, Anni Söderdahl, Johan Olsson, Martin Nobel och Anton Berg.

(di copy dari Scoutface )

(200) view

Jambore Internasional – Swedia 27 July – 08 August 2011

Perhelatan akbar “World Scout Jamboree” yang ke 22 akan digelar di Swedia, dan tema untuk acara akbar ini adalah: “Simply Scouting”

Tema ini diharapkan dapat menjawab banyak pertanyaan yang kerap muncul belakangan ini. Bagaimana sih rasanya ikutan jambore? Bagaimana caranya saya dapat berteman dengan banyak orang di sepenjuru dunia? bagaimana kita dapat belajar mengenai perkembangan global? bagaimana semua ini bisa terjadi? Jawabannya mudah saja: “Simply Scouting!”

Adakah rekan-rekan dari Bandung 19 – 20, yang kali ini turut berpartisipasi?

Silahkan kunjungi website resmi Jambore ke 22 untuk keterangan lebih lanjut http://www.worldscoutjamboree.se/

(374) view

Sejarah Kepanduan Dunia

A. Pendahuluan
Kalau kita mempelajari sejarah pendidikan kepramukaan kita tidak dapat lepas dari riwayat hidup pendiri gerakan kepramukaan sedunia Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Hal ini disebabkan pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara Inggris. Pembinaan remaja inilah yang kemudian tumbuh berkembang menjadi gerakan kepramukaan.

B. Riwayat hidup Baden Powell
Lahir tanggal 22 Pebruari 1857 dengan nama Robert Stephenson Smyth. Ayahnya bernama powell seorang Professor Geometry di Universitas Oxford, yang meninggal ketika Stephenson masih kecil. Pengalaman Baden Powell yang berpengaruh pada kegiatan kepramukaan banyak sekali dan menarik diantaranya :
Karena ditinggal bapak sejak kecil, maka mendapatkan pembinaan watak ibunya.
Dari kakaknya mendapat latihan keterampilan berlayar, berenang, berkemah, olah raga dan lain-lainnya.
Sifat Baden Powell yang sangat cerdas, gembira, lucu, suka main musik, bersandiwara, berolah raga, mengarang dan menggambar sehingga disukai teman-temannya.
Pengalaman di India sebagai pembantu Letnan pada Resimen 13 Kavaleri yang berhasil mengikuti jejak kuda yang hilang di puncak gunung serta keberhasilan melatih panca indera kepada Kimball O’Hara.
erkepung bangsa Boer di kota Mafeking, Afrika Selatan selama 127 hari dan kekurangan makan.
Pengalaman mengalahkan Kerajaan Zulu di Afrika dan mengambil kalung manik kayu milik Raja Dinizulu.
Pengalaman ini ditulis dalam buku “Aids To Scouting” yang merupakan petunjuk bagi Tentara muda Inggris agar dapat melaksanakan tugas penyelidik dengan baik.
William Smyth seorang pimpinan Boys Brigade di Inggris minta agar Baden Powell melatih anggotanya sesuai dengan pengalaman beliau itu. Kemudian dipanggil 21 pemuda dari Boys Brigade di berbagai wilayah Inggris, diajak berkemah dan berlatih di pulau Browns Sea pada tanggal 25 Juli 1907 selama 8 hari.
Tahun 1910 BP pensiun dari tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal. Pada tahun 1912 menikah dengan Ovale St. Clair Soames dan dianugerahi 3 orang anak. Beliau mendapat titel Lord dari Raja George pada tahun 1929 Baden Powell meninggal tanggal 8 Januari 1941 di Nyeri, Kenya, Afrika.

C. Sejarah Kepramukaan Sedunia
Awal tahun 1908 Baden Powell menulis pengalamannya untuk acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya ini dibuat buku dengan judul “Scouting For Boys”. Buku ini cepat tersebar di Inggris dan negara-negara lain yang kemudian berdiri organisasi kepramukaan yang semula hanya untuk laki-laki dengan nama Boys Scout.
Tahun 1912 atas bantuan adik perempuan beliau, Agnes didirikan organisasi kepramukaan untuk wanita dengan nama Girl Guides yang kemudian diteruskan oleh istri beliau. Tahun 1916 berdiri kelompok pramuka usia siaga dengan nama CUB (anak serigala) dengan buku The Jungle Book karangan Rudyard Kipling sebagai pedoman kegiatannya. Buku ini bercerita tentang Mowgli si anak rimba yang dipelihara di hutan oleh induk serigala.
Tahun 1918 beliau membentuk Rover Scout bagi mereka yang telah berusia 17 tahun. Tahun 1922 beliau menerbitkan buku Rovering To Success (Mengembara Menuju Bahagia). Buku ini menggambarkan seorang pemuda yang harus mengayuh sampannya menuju ke pantai bahagia.
Tahun 1920 diselenggarakan Jambore Dunia yang pertama di Olympia Hall, London. Beliau mengundang pramuka dari 27 Negara dan pada saat itu Baden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Sedunia (Chief Scout of The World).
Tahun 1924 Jambore II di Ermelunden, Copenhagen, Denmark
Tahun 1929 Jambore III di Arrow Park, Birkenhead, Inggris
Tahun 1933 Jambore IV di Godollo, Budapest, Hongaria
Tahun 1937 Jambore V di Vogelenzang, Blomendaal, Belanda
Tahun 1947 Jambore VI di Moisson, Perancis
Tahun 1951 Jambore VII di Salz Kamergut, Austria
Tahun 1955 Jambore VIII di sutton Park, Sutton Coldfild, Inggris
Tahun 1959 Jambore IX di Makiling, Philipina
Tahun 1963 Jambore X di Marathon, Yunani
Tahun 1967 Jambore XI di Idaho, Amerika Serikat
Tahun 1971 Jambore XII di Asagiri, Jepang
Tahun 1975 Jambore XIII di Lillehammer, Norwegia
Tahun 1979 Jambore XIV di Neishaboor, Iran tetapi dibatalkan
Tahun 1983 Jambore XV di Kananaskis, Alberta, Kanada
Tahun 1987 Jambore XVI di Cataract Scout Park, Australia
Tahun 1991 Jambore XVII di Korea Selatan
Tahun 1995 Jambore XVIII di Belanda
Tahun 1999 Jambore XIX di Chili, Amerika Selatan
Tahun 2003 Jambore XX di Thailand
Tahun 2007 Jambore XXI di Inggris
Tahun 2011 Jambore XXII di Swedia

Tahun 1914 beliau menulis petunjuk untuk kursus Pembina Pramuka dan baru dapat terlaksana tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W.F. de Bois Maclarren, beliau mendapat sebidang tanah di Chingford yang kemudian digunakan sebagai tempat pendidikan Pembina Pramuka dengan nama Gilwell Park.
Tahun 1920 dibentuk Deewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Sekretariatnya di London, Inggris dan tahun 1958 Biro Kepramukaan sedunia dipindahkan dari London ke Ottawa Kanada. Tanggal 1 Mei 1968 Biro kepramukaan Sedunia dipindahkan lagi ke Geneva, Swiss.
Sejak tahun 1920 sampai 19 Kepala Biro Kepramukaan Sedunia dipegang berturut-turut oleh Hebert Martin (Inggris). Kolonel J.S. Nilson (Inggris), Mayjen D.C. Spry (Kanada) yang pada tahun 1965 diganti oleh R.T. Lund 1 Mei 1968 diganti lagi oleh DR. Laszio Nagy sebagai Sekjen.
Biro Kepramukaan sedunia Putra mempunyai 5 kantor kawasan yaitu Costa Rica, Mesir, Philipina, Swiss dan Nigeria. Sedangkan Biro kepramukaan Sedunia Putri bermarkas di London dengan 5 kantor kawasan di Eropa, Asia Pasifik, Arab, Afrika dan Amerika Latin.

Ditulis oleh : Drs. Ringsung Suratno, M.Pd
Dikutip dari: Pramuka Indonesia
Dilengkapi oleh: tukang web Bandung 19-20

(631) view

Jambore Keuskupan 2008

Bandung 19 -20 ikut dalam kegiatan Jambore Keuskupan (Pekan Kekerabatan X) di gunung Geulis Adventure Camp yang berlangsung dari tgl 28 Juni – 4 Juli 2008. G pa 10 orang, G pi 7 orang, B pa 1, B pi 1, Service team 5 orang + saya = 25 orang.

Kegiatan yang diadakan mengadopsi dari Jambore Dunia, ditambah wisata ke Taman Safari. Meliputi Religious Activities, Culture Workshop and Scout Exhibition, Evening Activities, City of Science, Scouting Skills, Free Time Activities 1 & 2, Walk In/ Culinary Heritage, Animal Kingdom Excursion, Global Development Village dan Social Community Activity.

Lokasi perkemahan adalah didalam area Padang Golf Gunung Geulis – Puncak, Bogor , tepatnya di Adventure Areanya. Pesertanya sekitar 1500 orang terdiri dari 1100 peserta, dan 400an bindamping, service team dan staf kontingen.Peserta adalah para Pramuka Penggalang dari sekolah sekolah Katolik dari keuskupan Palembang, Tanjung Karang, Bogor, Jakarta, Bandung, Purwokerto, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, dan Bali. Yang tergabung dalam Team Kerja Kepramukaan Majelis Pendidikan Katolik (TKK MPK) Jabalambang (Jabalambang = Jawa, Bali, Lampung, Palembang).

Saya tidak bisa sepenuhnya ikut acara karena pada tgl 2 Juli -9 Juli, ikut Kursus Pembina Mahir Lanjutan golongan Siaga di Kwarcab Kabupaten Bandung, Bale Endah (Soreang). (Tapi, tgl 3 bisa ijin balik lagi ke Gn. Geulis, soalnya pada penutupan harus tuker tukeran cindera mata antar Ketua Tim Kerja, dll ). Total hampir 2 minggu camping. Untung masih “diaku” sama yang dirumah juga. he..he..

Kelihatannya anak anak cukup menikmatinya, karena lokasinya cukup representatif dan juga fasilitas acaranya cukup baik.

(826) view

BANGKOK CITY TOUR

Perjalanan City Tour dimulai. Begitu AC mobil dinyalakan, mata langsung tidak tertahankan.Weleh weleh nikmat sekali ! Kita dibangunkan disebuah rumah makan ditengah perjalanan antara Sattahip- Bangkok. Langsung WC nya diserbu. WC yang ada cuma 2, sedangkan yang mau pake ada 4 bus, jadi waktu kita habis buat ngantri ke WC. Eh, ternyata airnya tidak jalan. Akhirnya saya beli air aqua untuk cuci muka dan menyegarkan diri. Lumayan juga, rada “cenghar deui”. Tak lama kemudian kita disuruh untuk kembali ke Bus. Didalam Bus kita diterangkan objek objek yg akan kita kunjungi. Tour Leadernya orang Thailand yg bisa bahasa Indonesia. Walaupun ngomongnya cadel dan logat Thailandnya medok dan bahasa Indonesianya campur dengan bahasa melayu, tapi itu sudah sangat cukup bisa dimengerti.

Pertama tama kita mengunjungi suatu Temple dipinggir sungai Chau Praya. Untuk sampai ke kuil itu kita harus memakai perahu boat dari pusat kota bangkok. Rupanya Temple ini merupakan Meeting Point untuk kita dengan rombongan visitor Indonesia. Maka rombongan bertambah rame dan besar, tampak kegembiraan dari rombongan kita, terutama dari visitor yang kebanyakan adalah pengurus/andalan daerahnya masing masing. Acara foto fotoan jadi marak. Wah, rame deh. Saya sempat berfoto dengan KaKwarda Jabar (ka Didi), KaharKwarda (ka Mochtar) dan ketua kontingen Jamboree (Kontingen Garuda, ka Sundoro Syamsuri). Saya tukeran kamera dengan Arif, jadi dia fotoin saya dan saya fotoin dia. Seperti pelampiasan karena tidak sempet foto di camp saya foto fotoan terus. 🙂

Temple di Thailand berbeda dengan temple di Indonesia, disana lebih Colour full. Mungkin jaman pembuatannya yang berbeda, sehingga temple disana lebih modern dari candi candi di kita. Warna emas banyak mendominasi warna temple temple disana. Penjual cindera mata juga pasang harga gila gilaan. Waktu pertama datang mereka menawarkan harga yang selangit, makin dekat pulang harga terus dibanting, sampai akhir mau naik perahu dibanting habis.. Sehingga bisa bikin shok & dongkol banget buat orang yang beli pertama. Contohnya saja, satu set gantungan kunci dari harga 500 bath, bisa turun sampai 100-200 bath. Disini saya beli foto diri saya yang ditaruh diatas piring, rupanya waktu saya datang dan turun dari perahu, tanpa saya sadari saya difoto dan waktu mau pulang ditawari. Aduh, mau gimana lagi, ngga dibeli gimana yach , tampang ogut udah nyengir diatas piring. Pura pura tidak butuh, saya biarkan saja dulu, terakhir dia kasih 200 bath. Saya pikir sudahlah buat kenang kenangan.
Daripada dikutuk sama sipenjualnya :).

Dari Temple (Anchor wat ? Saya lupa namanya) itu , perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi kampung nelayan, yang kalau kita mah seperti di iklan TV RCTI, dimana ada perahu yang menjajakan dagangannya ditengah sungai. Tapi ramean di iklan TV kita lho. Disana betul betul hanya seperti sandiwara saja. Yang jualan hanya beberapa perahu saja, dan itu juga menurut tour guide kita setiap bulannya mereka dibayar/ disubsidi oleh pemerintah, sehingga jualannya juga asal asal saja dan dagangannya tidak ada apa apa. Paling semacam kerupuk, makanan kecil dan sedikit sayuran .
Tapi saya patut mengacungkan jempol untuk pemerintah Thailand untuk usahanya itu (mengangkat pariwisata daerah), soalnya untuk orang eropa, bisa bisa saja itu merupakan suatu hal yang menarik.

Masih disungai Chao Praya, tidak jauh dari kampung nelayan itu perahu kita diperlambat dan kita diberi kesempatan untuk memberi makan ikan ikan yang dikeramatkan oleh penduduk disana. Ikannya seperti ikan lele dan gede gede, maklum dibiarkan besar dan berkembang biak tanpa ditangkapi. Katanya kalau kita memberi makan ikan itu, seperti memberi sedekah dan bagus buat rejeki kita. Tapi yang namanya anak anak acuh acuh saja, mungkin masa bodoh dan tidak percaya atau persediaan duit sudah sangat menipis, soalnya rotinya harus beli seharga 20 bath. Jadinya yang ngasih makan hanya sedikit saja. Diperjalanan pulang ke pusat kota bangkok kita ketemu dengan pramuka Amerika yang sama sama naik perahu. Hei….!!! Kita saling melambaikan tangan.

Dari perjalanan di sungai ini kita dibawa makan kesebuah restoran di kota Bangkok, disana kita makan buffet (all U can eat), Saya rasa yang punya restoran rada rugi soalnya namanya anak pramuka kalau makan….tahu sendiri saja. Tapi merekapun pintar, rombongan/bus anak anak dipisahkan dengan rombongan andalan nasional (dewasa). Anak anak ditempatkan dilantai 3 sedangkan rombongan bus Andalan dilantai dasar. Menunya beda sekali, kalau dibawah sih ada sushi segala. Tapi menunya cukup variatif dan yang penting buat anak anak enak dan banyak! Setelah puas melampiaskan dendam sama yang namanya makanan, perjalanan dilanjutkan. Tujuannya sekarang adalah Istana (Peristirahatan) Raja, tapi sebelumnya kita mampir dulu di Jewelery Factory. Tour Leader menjelaskan bahwa kita tidak akan lama lama disana, tapi tidak menjelaskan berapa lamanya.

Begitu turun dari bus kita digiring untuk menyaksikan film mengenai pembuatan dan produk permata di perusahaan itu, ruangannya persis seperti bioskop dan sebelum masuk kita disuguhi welcome drink. Ruangan gelap dan ber AC membuat saya terantuk antuk “nundutan”. Filmnya berdurasi hanya 10 menitan dan kita digiring ke ruang produksi diteruskan ke ruang pameran/penjualan yang cukup luas. Di ruang penjualan ini saya agak terlena, karena pengen beliin sesuatu untuk istri di rumah. Bolak balik sana sini, tanya sana sini, akhirnya saya sadar yang pake seragam pramuka udah pada ngilang yang ada hanya pramuka dari Amerika, tapi saya rada terhibur karena masih ada satu ibu andalan nasional dekat saya. Tanpa menunggu lagi saya cepat cepat ke tempat bus, benar saja semua sudah pada naik tinggal saya yang belum hadir. Malu…. sekali !! Dengan perasaan yang tidak puguh saya duduk, tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ah,…. kamera !!! Waduh, mangkaning kamera Digital yang masih gress pisan. Dengan panik dan heboh saya tanya ke Arif, terus ke Sindhu dan Iman. Tapi semua bilang tidak pegang. Wah, udah deh…. lemes. Isi tas tangan dikeluarkan semua tapi nihil, pengen sih supaya bus disuruh balik lagi, tapi ngga enak ke yang lain. Saya curiga jatuh dari kantong celana saya di ruang bioskop perusahaan permata itu. Saya udah pasrah saja, tapi karena penasaran, saya periksa ke pinggir dan kolong kursi bus. Haleluya….. kamera dengan anggunnya nongkrong dikolong kursi. Setelah ketemu saya baru bisa duduk, tapi jadi bener ..bener… ngga enak ! Udah telat, bikin heboh lagi! Ma…lu.. sekali ! Kok ada yach pembina “kepoh” begitu. (pikun kaya ortu). Mungkin karena terlalu cape dan kurang tidur jadi rada ngga connect.Selanjutnya saya cuma bisa diam dan meredakan rasa malu saya. Tapi karena ngantuk maka tidak terasa saya tertidur kembali.

Sampai di Istana raja, kita diberitahu untuk tetap bergerombol dalam 1 kelompok bus, agar tidak ada yg hilang. Untung di istana ini tempatnya tidak terlalu besar dan pintu keluarnya cuma satu sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Ditempat ini kita makin banyak menjumpai pramuka pramuka dari negara lain, rupanya hampir semua kontingen memanfaat kesempatan ini untuk berwisata. Tapi yang pasti pramuka Amerika yg paling sering ketemu, mungkin rutenya hampir sama. Malah saya medengar bahwa kontingen Eropa atau Amerika masih akan ada di Thailand sampai 1 minggu lagi. Di istana ini kita sempat menyaksikan pergantian regu pengawal istana, berfoto dan masuk ke ruang sembahyang raja.

Setelah berkeliling, maka kita menunggu rekan rekan yang lain didekat pintu masuk sambil bersantai ria. Setelah semua berkumpul kita melanjutkan perjalanan ke shoping Centre MaBunKong (MBK), sampai disana jam 17, kita diberi waktu sampai jam 19.30 malam, tapi karena semua sudah kecapaian maka diusulkan hanya sampai jam 19 saja. Jadi waktunya 2 jam saja, itu untuk shoping dan makan malam. Karena saya tidak mau terlambat lagi maka saya memilih untuk tidak shopping, tapi makan dulu. Tempat makan di lantai 5 dan saya santai saja menuju kesana karena 2 jam untuk makan saya rasa cukup. Sistem makannya pake kupon, kita beli kupon seharga makanan di kassa, dan kita bayarkan ke conter makanan dg kupon itu. Tidak bisa pake uang cash. Selesai makan saya langsung kembali ke meeting point, yaitu didepan kanan pintu utama mall. Rupanya saya orang pertama yang nunggu disana, tapi tidak berapa lama kemudian yg lain pada berdatangan. Belum jam 18.30 rombongan hampir lengkap semua. Malah busnya yg belum datang karena parkir ditempat lain dan supirnya juga harus makan malam.

Jam 19 an bus datang, dan semua pada naik ke bus. Bus kita kembali berangkat paling akhir karena harus menunggu yg terlambat. Sekarang yang terlambat adalah……..Arif, Sindhu & Iman. Masya Allah………….!! Bulak balik saya cari mereka, tapi tidak ketemu. Akhirnya mereka muncul, alasannya……..? Sukar dipercaya, mereka tidak bisa menemukan meeting point. Sia sia saya berusaha untuk memperbaiki citra! Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. And no body perfect !!

Dari mall kita menuju hotel. Saya kebagian kamar bertiga dg anak KalTim ( Dengan Feni & Adith ), saya mengalah di ektra bed. Itu yang namanya anak ABG , dari daerah lagi ! Telepon ngga pernah tertutup, connect terus…! Telepon room to room…! Dan komentar mereka :”Wah ka, selama ikut pramuka tidak pernah ada acara pake nginep di hotel segala !” Memang sih tapi inikan Jamboree dan di negeri orang.:)
Kebetulan regu putra dari KalTim ini punya kenangan manis dan hubungan baik dengan regu putri Jawa Tengah, yang keduanya merupakan juara LT V (Indonesia), dan kebetulan saya punya daftar kamar dg nama penghuninya. Sehingga begitu nyampe kamar telepon langsung dipake, nyambung kamar sini , kamar sono, wah rame deh ! Belum lagi acara saling berkunjung kamar ! Pokoknya kalau berharap bisa langsung istirahat sampai di hotel, pasti akan kecewa berat. Tak mungkin !

Kamar Sindhu, Arif & Iman terletak persis didepan kamar saya, dan ada kejadian yg bikin gerr juga. Waktu pertama mereka masuk kamar sih biasa biasa saja, walaupun wangi kaos kaki anak anak mulai dapat tercium, tapi begitu mereka mendapat kunjungan dari anak putri kita (Rusi, Jessica & Yovita) beserta teman seregu mereka, maka bau kamar sudah tidak tertahankan lagi. Itu yang namanya “wangi” kaos kaki basah yang kepengep dari 10 orangan dan ada satu sumber utama dari anak putri Jakarta yg luarrr biasa ! Sampai semua bubar dari kamar dan terpaksa minta petugas hotel untuk menetralisir bau itu pake pengharum ruangan dan pintu tidak bisa ditutup selama 1 jam’an. Itu yang namanya pengen ketawa..kacau deh !! Ada satu lagi kejadian di malam ini. Waktu Sindhu & Iman ke lobbi ngobrol dg yg lainnya dan baru balik lagi kekamar jam 22 an. Itu Arif yg kecapaian tertidur pulas tidak bisa dibangunkan, walaupun sudah diketok ketok dan digedor. Tetap saja bablas ! Terpaksa mereka merepotkan petugas hotel lagi, dg meminta dibukakan pake kunci cadangan. Bener bener kenangan tak terlupakan! Saya sendiri baru bisa tidur jam 1 malam, itupun telepon masih teruuuuus connect ngga tahu sampai jam berapa. Dasar anak anak !

Kamis,9 Jan 2003 – Pulang ke Indonesia
Pagi pagi sekitar jam 7 an kita sudah ada di ruang makan hotel untuk breakfast dan sudah membawa semua day pack kita, jadi kita tidak usah balik lagi ke kamar untuk beres beres, karena jam 8 kita akan berangkat meninggalkan hotel menuju airport. Sampai di airport kita menurunkan semua gear bag kita dan perlengkapan kontingen. Disini tampak segi “positif”nya anak kita, tanpa disuruh anak kita paling sibuk membantu menurunkan barang dari bus dan membawakannya. Ini dari pertama berangkat lho, mereka selalu membantu! Sampai beberapa Andalan Nasional pada saat terakhir mengucapkan terima kasih dan penghargaannya atas perhatian dan bantuan dari kita. Salah satu anggota kita (Darwin) tidak tour & pulang bersama kita karena jadwal dia berbeda dg kita, karena sebagai IST dia datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Jadwal kepulangan Ka Darwin mundur 1 hari, tapi acaranya sama dg kita.
Sore hari kita sudah sampai di Jakarta dan semua peserta harus kembali ke Lemdiknas Cibubur, tapi ada juga beberapa peserta/ pembina dari Jakarta yang berhasil lolos (walaupun jumlahnya tidak banyak). Semua kembali masuk barak, saya langsung kembali ke “bungalow” saya, yang masih gelap gulita karena kosong yang letaknya paling ujung. Setelah memasukkan barang saya penasaran pengen tahu kondisi bungalow lain. Ternyata dari 3 bungalow disisi kiri barak itu “bungalow” saya yg paling jelek kondisinya. Karena hari ini kosong semua, saya pindah saja ke bungalow yg paling dekat barak, bukan yg paling ujung. Disamping lebih dekat juga lebih baik kondisinya. Anak anak semua saya ajak tidur di bungalow. Malam ini walaupun sudah cape melakukan perjalanan jauh, tapi “semangat Jamboree” masih berkobar. Terbukti acara swapping diantara rekan sendiri cukup rame digelar, walaupun transaksi yg terjadi hanya sedikit. Soalnya pada tahan harga :).
Besok paginya kita mengadakan upacara Pembubaran Kontingen Garuda dan siangnya sudah berangkat meninggalkan Cibubur. Malam harinya kita sudah sampai di rumah masing masing. Good bye 20th World Scout Jamboree – Thailand. Kita berharap bisa ikut berpartisipasi kembali dalam Jamboree Dunia ke 21 di Inggris tahun 2007.

Penutup,

Terima kasih atas segala dukungan dan partisipasi semua pihak, sehingga kita bisa ikut dalam acara ini. Anggaplah tulisan saya ini sebagai oleh-oleh dari sana dan kakak kakak semua bisa ikut berjamboree ria walaupun dalam cerita. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan cerita/ laporan Jamboree ini. Sekali lagi “No One Perfect”.
Tanggapan maupun kritik atas cerita ini, tentu saja akan sangat berarti buat saya.

Vivat Yos !

Salam,
Toni S

(201) view