Simply Scouting

TEMPO.CO, Seratus lima puluh satu batang pohon pinus yang daun dan rantingnya dipangkas berjejer membentuk huruf S. Di atasnya berkibar bendera 150 negara peserta Jambore Pramuka Sedunia Ke-22 di Kota Kristianstad, Swedia. Satu lagi adalah bendera World Organization of the Scout Movement (WOSM).

Barisan bendera yang ditambatkan pada pinus setinggi 50 meter tersebut menjadi pusat aktivitas jambore yang diselenggarakan di lahan pertanian Desa Rinkaby. Di lingkaran dalam terdapat tenda pameran setiap negara anggota WOSM. Ada pula pusat media, rumah sakit mini, toko Pramuka, dan kafe.

Pada lingkaran luar berdiri ribuan tenda untuk 39 ribu peserta, anggota Pramuka berusia 14-18 tahun. Mereka akan berkemah hingga 7 Agustus 2011.

“Swedia bangga menjadi tuan rumah peristiwa ini dan saya ucapkan selamat datang kepada orang muda dari berbagai negara,” kata Raja Swedia Carl XVI Gustaf. Dia mengajak para peserta memanfaatkan waktu berharga di jambore untuk membina persahabatan.

Jambore merupakan pertemuan akbar anggota Pramuka dalam bentuk perkemahan. Jambore Pramuka Sedunia yang pertama diselenggarakan di London pada 1920. Kala itu perkemahan yang digagas Lord Baden Powell–Bapak Pramuka Sedunia–dihadiri 8.000 anggota Pramuka dari 34 negara.

Jejeran pohon pinus yang membentuk huruf S adalah akronim dari Simply Scouting. Ini adalah tema jambore di Swedia yang merupakan jawaban dari empat pertanyaan kunci. Pertama, pengalaman apa saja yang bisa diperoleh dari Jambore? Kedua, bagaimana saya memperoleh teman Pramuka sedunia? Ketiga, bagaimana kita dapat memahami perkembangan global? Terakhir, bagaimana agar ini semua terwujud?

Pada jambore kali ini, Indonesia mengirim 191 peserta yang berasal dari 27 provinsi. “Kami akan terapkan pengelolaan perkemahan yang bersih dan ramah lingkungan,” kata Muhamad Ma’ruf, pembina dari Gugus Depan Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur. Dia tertarik pada sarana mandi-cuci-kakus yang bersih, lantaran kotoran manusia diolah menjadi biogas.

UNTUNG WIDYANTO (KRISTIANSTAD)
diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/07/30/117349107/Simply-Scouting-di-Jambore-Pramuka-Sedunia

(215) view

Jambore Internasional – Swedia 27 July – 08 August 2011

Perhelatan akbar “World Scout Jamboree” yang ke 22 akan digelar di Swedia, dan tema untuk acara akbar ini adalah: “Simply Scouting”

Tema ini diharapkan dapat menjawab banyak pertanyaan yang kerap muncul belakangan ini. Bagaimana sih rasanya ikutan jambore? Bagaimana caranya saya dapat berteman dengan banyak orang di sepenjuru dunia? bagaimana kita dapat belajar mengenai perkembangan global? bagaimana semua ini bisa terjadi? Jawabannya mudah saja: “Simply Scouting!”

Adakah rekan-rekan dari Bandung 19 – 20, yang kali ini turut berpartisipasi?

Silahkan kunjungi website resmi Jambore ke 22 untuk keterangan lebih lanjutย http://www.worldscoutjamboree.se/

(374) view

BANGKOK CITY TOUR

Perjalanan City Tour dimulai. Begitu AC mobil dinyalakan, mata langsung tidak tertahankan.Weleh weleh nikmat sekali ! Kita dibangunkan disebuah rumah makan ditengah perjalanan antara Sattahip- Bangkok. Langsung WC nya diserbu. WC yang ada cuma 2, sedangkan yang mau pake ada 4 bus, jadi waktu kita habis buat ngantri ke WC. Eh, ternyata airnya tidak jalan. Akhirnya saya beli air aqua untuk cuci muka dan menyegarkan diri. Lumayan juga, rada “cenghar deui”. Tak lama kemudian kita disuruh untuk kembali ke Bus. Didalam Bus kita diterangkan objek objek yg akan kita kunjungi. Tour Leadernya orang Thailand yg bisa bahasa Indonesia. Walaupun ngomongnya cadel dan logat Thailandnya medok dan bahasa Indonesianya campur dengan bahasa melayu, tapi itu sudah sangat cukup bisa dimengerti.

Pertama tama kita mengunjungi suatu Temple dipinggir sungai Chau Praya. Untuk sampai ke kuil itu kita harus memakai perahu boat dari pusat kota bangkok. Rupanya Temple ini merupakan Meeting Point untuk kita dengan rombongan visitor Indonesia. Maka rombongan bertambah rame dan besar, tampak kegembiraan dari rombongan kita, terutama dari visitor yang kebanyakan adalah pengurus/andalan daerahnya masing masing. Acara foto fotoan jadi marak. Wah, rame deh. Saya sempat berfoto dengan KaKwarda Jabar (ka Didi), KaharKwarda (ka Mochtar) dan ketua kontingen Jamboree (Kontingen Garuda, ka Sundoro Syamsuri). Saya tukeran kamera dengan Arif, jadi dia fotoin saya dan saya fotoin dia. Seperti pelampiasan karena tidak sempet foto di camp saya foto fotoan terus. ๐Ÿ™‚

Temple di Thailand berbeda dengan temple di Indonesia, disana lebih Colour full. Mungkin jaman pembuatannya yang berbeda, sehingga temple disana lebih modern dari candi candi di kita. Warna emas banyak mendominasi warna temple temple disana. Penjual cindera mata juga pasang harga gila gilaan. Waktu pertama datang mereka menawarkan harga yang selangit, makin dekat pulang harga terus dibanting, sampai akhir mau naik perahu dibanting habis.. Sehingga bisa bikin shok & dongkol banget buat orang yang beli pertama. Contohnya saja, satu set gantungan kunci dari harga 500 bath, bisa turun sampai 100-200 bath. Disini saya beli foto diri saya yang ditaruh diatas piring, rupanya waktu saya datang dan turun dari perahu, tanpa saya sadari saya difoto dan waktu mau pulang ditawari. Aduh, mau gimana lagi, ngga dibeli gimana yach , tampang ogut udah nyengir diatas piring. Pura pura tidak butuh, saya biarkan saja dulu, terakhir dia kasih 200 bath. Saya pikir sudahlah buat kenang kenangan.
Daripada dikutuk sama sipenjualnya :).

Dari Temple (Anchor wat ? Saya lupa namanya) itu , perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi kampung nelayan, yang kalau kita mah seperti di iklan TV RCTI, dimana ada perahu yang menjajakan dagangannya ditengah sungai. Tapi ramean di iklan TV kita lho. Disana betul betul hanya seperti sandiwara saja. Yang jualan hanya beberapa perahu saja, dan itu juga menurut tour guide kita setiap bulannya mereka dibayar/ disubsidi oleh pemerintah, sehingga jualannya juga asal asal saja dan dagangannya tidak ada apa apa. Paling semacam kerupuk, makanan kecil dan sedikit sayuran .
Tapi saya patut mengacungkan jempol untuk pemerintah Thailand untuk usahanya itu (mengangkat pariwisata daerah), soalnya untuk orang eropa, bisa bisa saja itu merupakan suatu hal yang menarik.

Masih disungai Chao Praya, tidak jauh dari kampung nelayan itu perahu kita diperlambat dan kita diberi kesempatan untuk memberi makan ikan ikan yang dikeramatkan oleh penduduk disana. Ikannya seperti ikan lele dan gede gede, maklum dibiarkan besar dan berkembang biak tanpa ditangkapi. Katanya kalau kita memberi makan ikan itu, seperti memberi sedekah dan bagus buat rejeki kita. Tapi yang namanya anak anak acuh acuh saja, mungkin masa bodoh dan tidak percaya atau persediaan duit sudah sangat menipis, soalnya rotinya harus beli seharga 20 bath. Jadinya yang ngasih makan hanya sedikit saja. Diperjalanan pulang ke pusat kota bangkok kita ketemu dengan pramuka Amerika yang sama sama naik perahu. Hei….!!! Kita saling melambaikan tangan.

Dari perjalanan di sungai ini kita dibawa makan kesebuah restoran di kota Bangkok, disana kita makan buffet (all U can eat), Saya rasa yang punya restoran rada rugi soalnya namanya anak pramuka kalau makan….tahu sendiri saja. Tapi merekapun pintar, rombongan/bus anak anak dipisahkan dengan rombongan andalan nasional (dewasa). Anak anak ditempatkan dilantai 3 sedangkan rombongan bus Andalan dilantai dasar. Menunya beda sekali, kalau dibawah sih ada sushi segala. Tapi menunya cukup variatif dan yang penting buat anak anak enak dan banyak! Setelah puas melampiaskan dendam sama yang namanya makanan, perjalanan dilanjutkan. Tujuannya sekarang adalah Istana (Peristirahatan) Raja, tapi sebelumnya kita mampir dulu di Jewelery Factory. Tour Leader menjelaskan bahwa kita tidak akan lama lama disana, tapi tidak menjelaskan berapa lamanya.

Begitu turun dari bus kita digiring untuk menyaksikan film mengenai pembuatan dan produk permata di perusahaan itu, ruangannya persis seperti bioskop dan sebelum masuk kita disuguhi welcome drink. Ruangan gelap dan ber AC membuat saya terantuk antuk “nundutan”. Filmnya berdurasi hanya 10 menitan dan kita digiring ke ruang produksi diteruskan ke ruang pameran/penjualan yang cukup luas. Di ruang penjualan ini saya agak terlena, karena pengen beliin sesuatu untuk istri di rumah. Bolak balik sana sini, tanya sana sini, akhirnya saya sadar yang pake seragam pramuka udah pada ngilang yang ada hanya pramuka dari Amerika, tapi saya rada terhibur karena masih ada satu ibu andalan nasional dekat saya. Tanpa menunggu lagi saya cepat cepat ke tempat bus, benar saja semua sudah pada naik tinggal saya yang belum hadir. Malu…. sekali !! Dengan perasaan yang tidak puguh saya duduk, tapi saya merasa ada sesuatu yang kurang. Ah,…. kamera !!! Waduh, mangkaning kamera Digital yang masih gress pisan. Dengan panik dan heboh saya tanya ke Arif, terus ke Sindhu dan Iman. Tapi semua bilang tidak pegang. Wah, udah deh…. lemes. Isi tas tangan dikeluarkan semua tapi nihil, pengen sih supaya bus disuruh balik lagi, tapi ngga enak ke yang lain. Saya curiga jatuh dari kantong celana saya di ruang bioskop perusahaan permata itu. Saya udah pasrah saja, tapi karena penasaran, saya periksa ke pinggir dan kolong kursi bus. Haleluya….. kamera dengan anggunnya nongkrong dikolong kursi. Setelah ketemu saya baru bisa duduk, tapi jadi bener ..bener… ngga enak ! Udah telat, bikin heboh lagi! Ma…lu.. sekali ! Kok ada yach pembina “kepoh” begitu. (pikun kaya ortu). Mungkin karena terlalu cape dan kurang tidur jadi rada ngga connect.Selanjutnya saya cuma bisa diam dan meredakan rasa malu saya. Tapi karena ngantuk maka tidak terasa saya tertidur kembali.

Sampai di Istana raja, kita diberitahu untuk tetap bergerombol dalam 1 kelompok bus, agar tidak ada yg hilang. Untung di istana ini tempatnya tidak terlalu besar dan pintu keluarnya cuma satu sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Ditempat ini kita makin banyak menjumpai pramuka pramuka dari negara lain, rupanya hampir semua kontingen memanfaat kesempatan ini untuk berwisata. Tapi yang pasti pramuka Amerika yg paling sering ketemu, mungkin rutenya hampir sama. Malah saya medengar bahwa kontingen Eropa atau Amerika masih akan ada di Thailand sampai 1 minggu lagi. Di istana ini kita sempat menyaksikan pergantian regu pengawal istana, berfoto dan masuk ke ruang sembahyang raja.

Setelah berkeliling, maka kita menunggu rekan rekan yang lain didekat pintu masuk sambil bersantai ria. Setelah semua berkumpul kita melanjutkan perjalanan ke shoping Centre MaBunKong (MBK), sampai disana jam 17, kita diberi waktu sampai jam 19.30 malam, tapi karena semua sudah kecapaian maka diusulkan hanya sampai jam 19 saja. Jadi waktunya 2 jam saja, itu untuk shoping dan makan malam. Karena saya tidak mau terlambat lagi maka saya memilih untuk tidak shopping, tapi makan dulu. Tempat makan di lantai 5 dan saya santai saja menuju kesana karena 2 jam untuk makan saya rasa cukup. Sistem makannya pake kupon, kita beli kupon seharga makanan di kassa, dan kita bayarkan ke conter makanan dg kupon itu. Tidak bisa pake uang cash. Selesai makan saya langsung kembali ke meeting point, yaitu didepan kanan pintu utama mall. Rupanya saya orang pertama yang nunggu disana, tapi tidak berapa lama kemudian yg lain pada berdatangan. Belum jam 18.30 rombongan hampir lengkap semua. Malah busnya yg belum datang karena parkir ditempat lain dan supirnya juga harus makan malam.

Jam 19 an bus datang, dan semua pada naik ke bus. Bus kita kembali berangkat paling akhir karena harus menunggu yg terlambat. Sekarang yang terlambat adalah……..Arif, Sindhu & Iman. Masya Allah………….!! Bulak balik saya cari mereka, tapi tidak ketemu. Akhirnya mereka muncul, alasannya……..? Sukar dipercaya, mereka tidak bisa menemukan meeting point. Sia sia saya berusaha untuk memperbaiki citra! Tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. And no body perfect !!

Dari mall kita menuju hotel. Saya kebagian kamar bertiga dg anak KalTim ( Dengan Feni & Adith ), saya mengalah di ektra bed. Itu yang namanya anak ABG , dari daerah lagi ! Telepon ngga pernah tertutup, connect terus…! Telepon room to room…! Dan komentar mereka :”Wah ka, selama ikut pramuka tidak pernah ada acara pake nginep di hotel segala !” Memang sih tapi inikan Jamboree dan di negeri orang.:)
Kebetulan regu putra dari KalTim ini punya kenangan manis dan hubungan baik dengan regu putri Jawa Tengah, yang keduanya merupakan juara LT V (Indonesia), dan kebetulan saya punya daftar kamar dg nama penghuninya. Sehingga begitu nyampe kamar telepon langsung dipake, nyambung kamar sini , kamar sono, wah rame deh ! Belum lagi acara saling berkunjung kamar ! Pokoknya kalau berharap bisa langsung istirahat sampai di hotel, pasti akan kecewa berat. Tak mungkin !

Kamar Sindhu, Arif & Iman terletak persis didepan kamar saya, dan ada kejadian yg bikin gerr juga. Waktu pertama mereka masuk kamar sih biasa biasa saja, walaupun wangi kaos kaki anak anak mulai dapat tercium, tapi begitu mereka mendapat kunjungan dari anak putri kita (Rusi, Jessica & Yovita) beserta teman seregu mereka, maka bau kamar sudah tidak tertahankan lagi. Itu yang namanya “wangi” kaos kaki basah yang kepengep dari 10 orangan dan ada satu sumber utama dari anak putri Jakarta yg luarrr biasa ! Sampai semua bubar dari kamar dan terpaksa minta petugas hotel untuk menetralisir bau itu pake pengharum ruangan dan pintu tidak bisa ditutup selama 1 jam’an. Itu yang namanya pengen ketawa..kacau deh !! Ada satu lagi kejadian di malam ini. Waktu Sindhu & Iman ke lobbi ngobrol dg yg lainnya dan baru balik lagi kekamar jam 22 an. Itu Arif yg kecapaian tertidur pulas tidak bisa dibangunkan, walaupun sudah diketok ketok dan digedor. Tetap saja bablas ! Terpaksa mereka merepotkan petugas hotel lagi, dg meminta dibukakan pake kunci cadangan. Bener bener kenangan tak terlupakan! Saya sendiri baru bisa tidur jam 1 malam, itupun telepon masih teruuuuus connect ngga tahu sampai jam berapa. Dasar anak anak !

Kamis,9 Jan 2003 – Pulang ke Indonesia
Pagi pagi sekitar jam 7 an kita sudah ada di ruang makan hotel untuk breakfast dan sudah membawa semua day pack kita, jadi kita tidak usah balik lagi ke kamar untuk beres beres, karena jam 8 kita akan berangkat meninggalkan hotel menuju airport. Sampai di airport kita menurunkan semua gear bag kita dan perlengkapan kontingen. Disini tampak segi “positif”nya anak kita, tanpa disuruh anak kita paling sibuk membantu menurunkan barang dari bus dan membawakannya. Ini dari pertama berangkat lho, mereka selalu membantu! Sampai beberapa Andalan Nasional pada saat terakhir mengucapkan terima kasih dan penghargaannya atas perhatian dan bantuan dari kita. Salah satu anggota kita (Darwin) tidak tour & pulang bersama kita karena jadwal dia berbeda dg kita, karena sebagai IST dia datang lebih awal dan pulang lebih akhir. Jadwal kepulangan Ka Darwin mundur 1 hari, tapi acaranya sama dg kita.
Sore hari kita sudah sampai di Jakarta dan semua peserta harus kembali ke Lemdiknas Cibubur, tapi ada juga beberapa peserta/ pembina dari Jakarta yang berhasil lolos (walaupun jumlahnya tidak banyak). Semua kembali masuk barak, saya langsung kembali ke “bungalow” saya, yang masih gelap gulita karena kosong yang letaknya paling ujung. Setelah memasukkan barang saya penasaran pengen tahu kondisi bungalow lain. Ternyata dari 3 bungalow disisi kiri barak itu “bungalow” saya yg paling jelek kondisinya. Karena hari ini kosong semua, saya pindah saja ke bungalow yg paling dekat barak, bukan yg paling ujung. Disamping lebih dekat juga lebih baik kondisinya. Anak anak semua saya ajak tidur di bungalow. Malam ini walaupun sudah cape melakukan perjalanan jauh, tapi “semangat Jamboree” masih berkobar. Terbukti acara swapping diantara rekan sendiri cukup rame digelar, walaupun transaksi yg terjadi hanya sedikit. Soalnya pada tahan harga :).
Besok paginya kita mengadakan upacara Pembubaran Kontingen Garuda dan siangnya sudah berangkat meninggalkan Cibubur. Malam harinya kita sudah sampai di rumah masing masing. Good bye 20th World Scout Jamboree – Thailand. Kita berharap bisa ikut berpartisipasi kembali dalam Jamboree Dunia ke 21 di Inggris tahun 2007.

Penutup,

Terima kasih atas segala dukungan dan partisipasi semua pihak, sehingga kita bisa ikut dalam acara ini. Anggaplah tulisan saya ini sebagai oleh-oleh dari sana dan kakak kakak semua bisa ikut berjamboree ria walaupun dalam cerita. Saya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan cerita/ laporan Jamboree ini. Sekali lagi “No One Perfect”.
Tanggapan maupun kritik atas cerita ini, tentu saja akan sangat berarti buat saya.

Vivat Yos !

Salam,
Toni S

(201) view

WORLD SCOUT JAMBOREE 2002 – 2003

Dismantling & Closing Seremony.

Hari ini hari terakhir di Perkemahan Sattahip, dari pagi kita disuruh untuk beresin area perkemahan sampai benar benar bersih dan mengembalikan semua peralatan & perlengkapan yang dipinjamkan oleh panitia. Dari Kwarnas kita mendapat instruksi untuk menyiapkan “Gear Bag” kita pada jam 8 malam dan akan mulai diangkut antara jam 8 sampai jam 10 malam. Jadi besok pagi jam 6 kita tinggal membawa “Day pack” yang berisikan pakaian dan barang barang yang perlu untuk 1 hari Tour di Bangkok. Sampai tengah hari kita sudah beresin semua tenda dan perlengkapan pribadi kita, kita tinggal bongkar gapura dan mengembalikan peralatan ke panitia.

Pada siang hari itu saya mendapat telepon dari ka Uben (Ka Kwarcab Bandung) yang datang pada hari itu, tapi tidak bisa masuk ke area perkemahan. Dia dan sekretaris Kwarcab (Ka Deden) datang sebagai visitor tidak resmi dan menggunakan jalur pribadi (tour) dan datang pada saat bukan waktu kunjungan (waktu kunjungan untuk Indonesia adalah kemarin). Jadi dia sekarang tertahan di gate 9 dan ingin sekali bertemu dengan kontingen dari Bandung. Kebetulan waktu petugas gate 9 mengontak ke Head Quarter Indonesia, andalan nasional disana tahu saya dan memberikan no telepon yang bisa menghubungi saya, sehingga ka Uben bisa berbicara langsung dengan saya. Saya jadi kasian juga sama dia, jauh jauh datang ke Bangkok tapi tidak bisa masuk apalagi bertemu dengan anggotanya. Setelah saya perhitungkan maka saya tanya apakah dia bersedia menunggu sekitar 1/2 jam dan saya akan menemui beliau. Dia sangat bergembira dan bersedia menunggu. Maka sayapun segera mengayuh sepeda saya ke gate 9. Setelah sampai di pintu gerbang gate 9 saya mohon ijin kepada petugas disana untuk keluar area, ternyata prosedurnya sangat mudah untuk peserta jambore. Walaupun saya pada saat itu berpakaian bebas (singlet tangan buntung) tapi saya lengkap menggunakan ID saya (ID Card, Scraf & gelang tangan), langsung saya diberi ijin.

Ditempat tunggu, saya temui mereka, mereka menunggu sudah cukup lama dan cukup kucel. Maklum perjalanan dari Bangkok ke Sattahip memakan waktu juga dan di Sattahip panas sekali, sedangkan ditempat tunggu itu tidak ada yang menjual minuman. Saya memang sudah menyiapkan 2 kalengan minuman dingin untuk mereka. Yach sebagai tata krama kalau kita menerima tamu. Tapi minuman kalengan (yang sudah tidak dingin lagi) itu sangat berarti sekali buat mereka yang kepanasan dan kehausan. Dengan gembira mereka menyambut saya. (Sampai sekarang kalau ketemu ka Kwarcab dia selalu ngomong soal itu) Setelah ngobrol sebentar dan berfoto, saya minta ijin untuk kembali ke areal perkemahan. Sebetulnya dia ingin bertemu dengan pembina dari SLTP 14 (Ka Budi) yang nota bene merupakan perwakilan resmi dari Kwarcab Bandung (Dibiayai oleh Kwartir karena juara LT). Saya jelaskan kepada beliau: “kalau kakak mau saya bisa usahakan mencari ka Budi di campnya, tapi dari sini ke tempat ka budi perlu waktu 1/2 jam, dan kalau ka Budi ada & mau, dia harus jalan kaki kesini sekitar 1 jam’an. Jadi kakak harus tunggu lagi sekitar 2 jam’an itupun kalau ka Budi sanggup.” Mendengar penjelasan saya, beliau “sangat sangat mengerti” dan tidak berani mengambil resiko yang tidak pasti itu. Tapi saya yakin sekali beliau sangat senang bertemu dengan saya, karena kalau kata orang sunda tea mah: “Aya tapakna”. Dan beliau bisa membuktikan/ mempertanggung jawabkan kalau sudah datang ke Sattahip dan saya sebagi saksinya. Pada kesempatan itu juga dia memberikan sovenir asal Jawa Barat berupa saputangan Batik untuk dibagikan kepada semua kontingen JaBar (untuk bisa ditukarkan dengan kontingen lain) dan saya kasih kenang kenangan Ring Kacu Resmi Jamboree (saya punya 2). Dan beliau minta dibelikan sovenir Jamboree sambil nitipkan uang sebanyak 1000 bath.

Langsung dari gate 9, saya meluncur ke World Jamboree Sovenir Shop, ditengah jalan saya potret dulu di reservoar untuk kenang kenangan (soalnya saya hampir tidak sempat foto fotoan, kameranya selalu dibawa tapi tidak selalu digunakan, Teu inget untuk mengambil gambar !). (Waktu tadi ketemu ka Kwarcab juga difoto bareng, tapi bukan pake kamera saya, dasar bukan foto grafer ulung !). (Tapi saya udah kirim 50 foto ke AJ ). Saya belum pernah ke Jamboree Shop ini, jadi tugas yang diberikan pada saya ini sepeerti mengingatkan saya untuk kesana. Sovenir yang dijual macam macam, yang belinya juga rame soalnya ini hari terakhir. Sistem jualnya pake katalog, setelah tahu apa yang mau dibeli langsung mengisi form pembelian, ngantri ke kassa, form dicap lunas & diberi struk pembayaran dan mengambil barang dengan menyerahkan copy form dan struknya. Harganya cukup mahal2 juga.
Disana saya ketemu dengan anak anak kita. “Lho, koq ada disini ?” ” Sudah beres kak! Tinggal sedikit lagi beresin perlengkapan pasukan “, katanya. Saya pesan supaya mereka segera kembali ke Sub Camp, dan menuntaskan pekerjaannya.

Dari Sovenir Shop saya mampir dulu ke Head Quarter sebelum ke Sub Camp D3- campnya ka Budi (SLTP 14), karena berdekatan sekali letaknya. Saya ingin tahu apa ada perkembangan baru atau tidak. Ternyata tidak ada berita baru, malah saya dititipi sovenir (berupa kaos dan bolpoint Indonesia) untuk dibagikan ke petugas Sub Camp D1,D3 & B3. Maka penuhlah keranjang sepeda saya dengan sovenir.Setelah menengok anak anak putri kita di D1, dan membagikan sovenir, juga ketemu ka Budi. Maka saya segera pulang ke SubCamp untuk mencek tugas yang harus dikerjakan anak anak.
Ternyata karena waktunya cukup panjang (dari pagi sampai sore) malah membuat anak anak santai santai saja, jadi waktu saya pulang masih belum beres juga. Akhirnya saya turun tangan dan anak anak jadi sibuk lagi. Sore semua perlengkapan sudah dikembalikan dan area sudah beres, tapi kita masih menyisakan 2 plastik besar untuk alas barang dan buat kita istirahat. Hanya tenda Pembina Gontor yg masih belum dibongkar, mungkin masih diperlukan.

Saya masih harus mengembalikan sepeda di belakang Sub Camp D1, untung waktu ditengah perjalan pulang saya bisa naik trem (yang sebenarnya khusus IST dan petugas), soalnya lumayan kalau jalan kaki terus bisa 1/2 jam’an.
Malampun tiba dan saya merasa cape sekali, akhirnya saya putuskan untuk tinggal di Camp, tidak ikut Closing Ceremony, dengan pemikiran sebelum barang dijemput saya bisa istirahat dan setelah barang diangkut saya bisa istirahat lagi.

Saya instruksikan anak anak untuk mengangkut semua gear bag ke jalan, sehingga pada waktu dijemput tidak susah/jauh menaikkannya. Ternyata rencana saya tidak berjalan dengan mulus. Pasalnya “semua” pada pergi ke Closing Ceremony, tinggal saya sendiri. Jadi mana bisa istirahat, karena harus menjaga/ mengawasi semua barang, apalagi sebagian sudah di jalan (anak Gontor beda angkutan, jadi barangnya tidak ditaruh dijalan, dan merekapun tidak ikut tour bersama kita, mereka pergi jam 4 pagi, sedangkan kita jam 6 pagi). Lewat dari jam 10 jemputan barang tidak datang datang, malah sebagian anak anak ada yang sudah pulang. Karena kesal menunggu, tidak bisa istirahat dan juga penasaran dengan acara Closing Ceremony maka setelah saya titip ke mereka soal jemputan barang itu, saya pergi ke Central Area untuk menyaksikan sisa dari acara Closing Ceremony. Sampai disana acara sudah selesai,tapi lumayan masih ada “kesan”.Sepanjang perjalanan ke sana saya bisa menyaksikan kembang api dan berfoto dengan orang yang pulang ke Campnya.Karena sudah tidak ada acara lagi maka saya kembali lagi ke Camp. Ternyata barang masih belum diangkut juga. Setelah jam 12 lebih tidak diangkut angkut, saya berinisiatif untuk mengecek ke Head Quarter Indonesia, ternyata disana sudah kosong, maka saya mengecek ke Camp Indonesia lainya. Ternyata merekapun belum diambil barangnya, dari informasi yang didapat ternyata ada masalah dengan kendaraan pengangkutnya. Jadi pengangkutan terlambat. Saya sedikit lega karena kekhawatiran utama saya, “hanya” pasukan saya yang tidak diangkut (terlewatkan).

Jam 2 malam angkutan baru datang. Tapi masih ada tugas tambahan buat saya yaitu kita harus punya surat pengembalian perlengkapan dari Sub Camp Officer, supaya kita bisa meninggalkan arena perkemahan. Maka langsung saya urus surat itu, setelah dapat saya pikir saya bisa tidur barang sejenak. Baru merebahkan tubuh, anak anak Gontor ribut membereskan barangnya, karena mereka mau berangkat. Mungkin karena cape dan baru enak tidur, mereka susah diatur, sehingga pembinanya marah marah dan ribut. Kita juga yang kena getahnya, jadi ngga bisa tidur soalnya ribut. Setelah anak Gontor pergi, suasana mendukung untuk tidur, maka saya coba untuk tidur, waktu itu hampir jam 4 pagi . Rasanya baru tidur, pembina Kaltim sudah membangunkan anak anak untuk bersiap siap pergi. Ala mak, baru 1/2 jam juga belum tidurnya. Yach sudah, dengan berat hati saya bangun. Tapi saya rada kesal/tidak setuju, karena jarak dari camp kita ke Gate 6 cuma 10 menitan, cuma untuk menjaga wibawa dia didepan anak anak saya tidak utarakan. Sebenarnya jam 5.30 juga cukup. Benar saja, kita menunggu sangat lama disana dan kita tidak bisa istirahat, karena tempat kita menunggu adalah dipintu gate 6 yang pada pagi itu sangat sibuk dengan banyak Kontingen lain yang juga akan pulang. Boro boro membaringkan tubuh, mau dudukpun susah. Belum lagi kekacauan waktu memasukkan barang ke bus, karena Kontingen Indonesia akan terbagi 2 rute, yang dari Jakarta akan City tour di Bangkok, yang dari Caltex ke Singapore, jadi barang tidak boleh salah masuk bus. Sedangkan semua barang disuruh diangkut ke bus, tanpa pengaturan yang jelas. Bayangkan, yang mengerti/mengurus hanya 2 orang, yang ngatur banyak orang, ngga ngerti lagi! Kan kacau! Yach mbo.. kalau bisa, ngga usah ikut ikutan ngatur! Itulah susahnya kalau para petinggi ikut campur dan informasi tidak sampai ke mereka. Yang kasian sih yang “rakyat jelata” seperti kita, disuruh kesana kesini (ngangkut barang) !

Saya sudah ngga kuat lagi, begitu tahu bus untuk kontingen Indonesia saya masuk dan tidur. Dibangunkan karena salah bus, tapi kondisi sudah mendingan karena bisa “tidur nyaman” dalam beberapa menit, saya pindah bus. Good Bye Sattahip !!

(234) view

WORLD SCOUT JAMBOREE 2002 โ€“ 2003

Acara hari ini yaitu Community Action Day (Bakti Sosial) & Indonesian Days. Makan pagi berupa Lunch Box harus sudah diambil pada jam 6 pagi dan jam 7 kita harus sudah berangkat ke Central Area. Jalan kaki ke Central Area +/- 20 menit dari sana kita dijemput Bus kecil ke Gate 9. Disana kita naik bus besar ke lokasi Bakti Sosial. Tugas kita yaitu memperbaiki sekolah SD.

Rombongan yang ke SD ini ada 3 bus, kita dibagi tugas sesuai regunya. Kita kebagian tugas mengecat tembok/ benteng SD bagian luar, karena memang yang belum dicat tinggal bagian luarnya saja, itupun sudah dicat sebagian. Panjang bidang yang harus dicat +/- 60 meteran dan tingginya 2 meteran, yang mengerjakannya 3 regu, yaitu dari kita Indonesia, Belgia dan Jerman (kalau tidak salah).

Setiap regu disuruh mengambil 1 galon cat dan beberapa alat untuk mencat. Kita bergiliran mengecatnya. Pertama sih kita mengeluh karena peralatan yang terbatas, sehingga tidak semua bisa mengecat, tapi rupanya panitia sudah memperhitungkannya. Karena panas dan juga bukan tukang cat original tentu saja kita cepat capai sehingga perlu istirahat. Peluh bercucuran dan badan belepotan cat, tidak menghalangi semangat kita untuk mencat. Lagi asyik asyiknya kita mencat, catnya habis. Panitia rupanya baru akan menyediakan kembali setelah kita makan siang, tapi karena kita semangat kerjanya maka sebelum makan siangpun catnya sudah habis. Jadi kita disuruh menunggu mereka membeli cat dulu, sambil disuguhi kelapa muda.
Wah, itu kepala muda yang namanya enak, bener bener “eu..nak tenan !”. Air kelapanya itu manis sekali rasanya (kaya yang dikasih gula dan pandan), dan mereka orang Thailand hanya meminum airnya saja isinya jarang dimakan. Maka dalam sekejap persediaan kelapa itu langsung bablas.

Sambil menunggu suplay cat , anak anak main sepak bola, sebelumnya juga ada yang main sepak bola dan basket tapi pada saat itu saya melarang anak anak saya untuk ikut main karena kita sedang kerja bakti, bukan mau main bola disana. (Saya tidak tahu mengapa mereka bisa main bola, sedangkan mereka ada tugas masing masing, apakah tidak dicegah oleh Pembina pendampingnya atau bagaimana, saya tidak tahu dan tidak bisa menegur mereka).

Setelah makan siang kita melanjutkan kembali kerja kita dan sebelum pulang kita sudah bisa menuntaskan tugas kita mengecat seluruh sisa tembok luar yang belum tercat itu. Dan catnya habis pisan, bener bener ludes. Bidang terakhir kita harus susah payah ngirit ngirit. Arif kebagian dicat mukanya oleh anak anak Belgia, pertamanya sih diantara mereka sendiri, tapi karena Arif dekat mereka maka dia kebagian juga. Yach namanya rejeki kali yach. ๐Ÿ™‚

Dari lokasi itu kita pulang kembali ke Camp, anak KalTim sudah ditunggu untuk mengisi acara Indonesian Days. Lokasi Indonesian Days dekat dengan Central Area, tapi karena kostumnya tidak dibawa ke Bakti Sosial, maka mereka harus ambil dulu ke tenda dan balik lagi. Lumayan lama juga nunggu mereka ganti baju ( hampir 1 jam) .Kita sampai deg degan, acara dari KalTim ini sudah ditukar keacara paling akhir dan ketika semua acara sudah ditampilkan mereka masih belum datang juga. Akhirnya mereka datang juga dan bisa tampil.

Hari ini juga adalah hari kunjungan untuk Indonesia, tapi para visitor itu cuma diberi waktu sampai jam 16.00, jadi jam 15.30 mereka harus berangkat lagi menuju gate 9. Karena saya dari Bakti Sosial langsung ke lokasi Indonesian Days yg letaknya dekat dengan Head Quarter Indonesia, maka saya sempat bertemu dengan beberapa visitor, yaitu diantaranya Ka Kwarda Jabar beserta rombongan. Mereka sempat menanyakan pula kontingen Jabar lainnya dan menitip salam, karena tidak bisa ketemu mereka langsung. (regu dari SLTP 14 Bandung yg di camp D3, jadwalnya sama dengan kita yaitu acara Bakti Sosial ).

Kisah sedih regu dari SLTP 14 ini bukan hanya ini saja, mereka membutuhkan dana Rp. 7 juta/ orang untuk bisa ikut ke Thailand itupun melalui jalan darat (5 hari perjalanan). (Kita habis 6,5 jutaan/orang lewat udara). Ngga tahu bagaimana mengurusnya. Yang saya tahu mereka dibiayai oleh Pemda Jabar Rp 55 juta dan mereka masih kekurangan uang 10 juta untuk biaya pulang. (Untung pada saat akhir mereka bisa dapat tumpangan pulang dengan Hercules AU ke Bandung, kalau tidak?) Kemudian mereka tidak kebagian Voucher makan selama Jamboree, bayangkan sudah tidak punya uang tidak kebagian Voucher lagi, untungnya lagi (orang Indonesia banyak untungnya) teman teman secampnya membagi mereka Voucher. (katanya sih diambil oleh regu Indonesia yang datang duluan ke lokasi perkemahan mereka, kacau !)

Ok, kita balik lagi ke cerita Indonesian Days.
Regu putri kita kebagian untuk menjadi penerima tamu, mereka sibuk melayani dan membantu Kwarnas untuk acara ini. Dengan pakaian daerah dan bersama rekan rekannya yang lain dari Jakarta mereka kelihatan ceria sekali.
Indonesian Days sendiri adalah acara untuk mempromosikan Indonesia dengan cara mengundang Staff Kontingen negara lain, dimana pada acara ini kita menampilkan acara tari Poco Poco & tari Sajojo (yang mengajak para tamu untuk menari bersama), juga tarian dari Jateng & Kaltim, kita juga menghidangkan makanan khas kita yaitu Gado gado. Yang buat saya orang Indonesia juga sangat nikmat sekali waktu itu.
Malamnya kita acara bebas dan dalam rapat Troop Leader yang diadakan pada jam 8 malam ini, kita dibagikan Jamboree Award. Semua anak regu saya dapat dan saya dengar juga bahwa semua anak Indonesia dapat Award. Hidup Indonesia !

Cerita Iman:
8. COMMUNITY ACTION DAY
Acara ini merupakan acara kerja bakti. Waktu itu kami bekerja bakti membantu suatu sekolah yg sedang dalam tahap pembangunan. Kebetulan regu saya mendapatkan pekerjaan mengecat. Kami mencat tembok luar sekolah tersebut. Karena kuasnya terbatas maka kami mencatnya bergantian. Walaupun melelahkan tetapi pekerjaan ini cukup menarik sebab di situ terlihat solidaritas dari sesama pramuka bukan hanya dari Indonesia ternyata pramuka-pramuka lain pun ingin membantu menggantikan yg lainuntuk mengecat. Malah kebanyakan teman seregu kami justru bersantai dan tidak mengecat. Dan itu membuat saya sadar bahwa prmauka lai njustru lebih solidar dibanding temang seregu saya yang tidak memiliki rasa solidaritas yang hanya mau bersantai-santai dan bermain bola. Kami pun bermain bola tapi itu hanya pada waktu istirahat. Saya sempat kesal sama mereka sebab mereka hanya bersantai-santai dan tidak mau bekerja meskipun sudah ditegur pembina saya. Pada wkt itu yang benar-benar kerja hanya Arif, Sindhu, K Toni dan saya. Pada akhir acara mencat pramuka-pramuka lain bermain cat dan Arif pun kena rambutnya dan mukanya. Untungnya saya sedang istirahat sehingga saya tidak kena.

Cerita Arif:
Community A D Kita dikirim ke sekolahan. Tugasnya sih gak susah cuman suruh nge-cet tembok. Yah lumayan panjang sih tapi tengah-tengah cet-nya abis jadi kita maen bola dulu. Pas terakhir-terakhir, beres kan kerjaan tuh, ada bule jail, tiba-tiba saya di-cet belakang kepalanya, pas saya yang bawa roll-an cetnya, saya keluarin 2 roll, saya kejar, dia ngacir manggil temen-temennya, 5 lawan satu jelas aja siapa yang keok! (biasa chicken cuman beraninya rempugan!) Muka saya kena cet, yah untung ilang.

Cerita Rusi:
6 januari 2003
Acara kita hari ini Heritage. kita pergi ke kebun bunga,liat gajah,bikin keramik. tapi kita ga pergi krn diminta bantuan untuk Indonesian Day (ID). hari ini kita bantu2 kk untuk nyiapin acara ID. kita sempet maen dulu di stand ind. kita poco2 & sajojo dulu sama k rika(dokternya ind) cukup menarik juga krn byk orang yg mampir wkt kita lg nari2. trus kita ngajarin mrk juga! abis kita nari2 kita juga sempet bikin scarf dulu! caranya kita dikasih kaen putih yg ada lambang kontingen ind nya,trus kaennya kita iket2 trus dicelupin ke pewarna. pewarnanya khusus.(k kita coba sekali2 di sgr! menarik lho)trus jd deh scarf yg bermotif batik! bagus juga tuh!
di acara ID kita jd penerima tamu! kita hrs pake baju daerah. acaranya ada nari(kaltim,jatim,papua)trus ada poco2,sajojo bersama.Trus ada makanan khas in spt: gado2(indonesian salad:) ),kripik2,bandrek. acara ini bukan untuk umum. undangannya jg khusus. perwakilan dari tiap negara! rata2 mereka suka bgt sama gado2! sipppp! acara ini cuman kurang lbh 1 jam.krn ada negara lain juga yg akan pake tempat! abis itu kita foto2 deh!

abis acara ID kita free! kita pulang ke camp trus ngobrol2 sama anak2 thai! kita kan 1 pasukan sma mrk! biasalah pa iseng2 gt! kita jg belajar beberapa kata dlm bhs thailand! abis kita ngobrol2 kita ke scout shop! bareng sama anak thailand! trus kita sempet tuker2an badge sama orang jepang! di hari2 terakhir ky gini byk yg ngegelar badge2nya untuk ditukerin! ada arena khususnya! swappig area! badge bagus2 ada yg emang buat ditukerin ada yg cuman pemeran doang! asik deh

(215) view

WORLD SCOUT JAMBOREE 2002 โ€“ 2003

Free time and Thai Festival.

Acara pagi dan siang hari ini adalah acara free buat Sub Camp kami. Tapi pengurus Sub Camp membuat acara sendiri di subcamp yaitu Flag Parade, yang dilaksanakan pada pukul 8.30 pagi, setiap pasukan diminta mengirimkan 10 orang dengan pakaian seragam lengkap dan membawa bendera negara masing masing. Untuk acara ini disepakati regu dari Gontor yang akan mewakili pasukan kita, karena pada hari ini mereka juga sudah ada janji dg COC bagian Islamic Centrenya untuk kesana dg berseragam lengkap. Jadi sekalian hari ini acara formil formilan buat mereka. Rencananya Flag Parade ini akan dilakukan di Sub Camp dilanjutkan dengan berkeliling Camping area.

Buat yang tidak ikut, acaranya bener bener bebas. Tapi mereka diharuskan membuat kesan di selembar kertas kecil yang akan digantungkan di sebuah pohon kecil didekat Sub Camp office, dan ditulis dalam bahasa Inggris. Itu merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan Sub Camp sticker. Sub Camp sticker akan dibagikan nanti malam pada saat rapat Troop Leader. Karena malam hari ini akan diadakan Thai Festival , maka anak anak dilarang bermain bola dari mulai jam 4 sore ( biasanya jam segitu anak anak ramai main bola, dasar euweuh kacape, dan mainnya bagus bagus lagi ). Malah diharapkan partisipasinya pada jam itu untuk ikut “nyeboran/ ngepretan” lapangan supaya tidak terlalu berdebu untuk acara nanti malam.

Pada saat Free time ini saya manfaatkan untuk melengkapi koleksi Badge Jamboree saya, ada beberapa Badge kontingen negara tertentu yang susah di”pasaran Swapping”, sehingga mau tidak mau kita harus mendatangi Camp mereka.( Biasanya mereka kontingen kecil atau persediaan badgenya sedikit) dan yang paling saya cari yaitu Badge Jamboree Museum. Soalnya Badge ini sangat bagus dan
sebetulnya sangat mudah didapatkan. Asal kita datang ke Stand Jamboree Museum, mengisi Quisioner dan kita bisa dapat. (Menurut saya stand ini “wajib” didatangi oleh peserta Jamboree, karena “bagus”.) Tetapi ada masalah dengan saya ! Waktu saya mengunjungi Stand tersebut beberapa hari yang lalu, saya tidak diberi Badge, maklum pada hari itu pengunjung sangat membeludak dan pembina pendamping yang datang pada hari itu tidak diberi badge. Yach kita sih rakyat kecil, mau apalagi kalau tiba tiba aturannya dirubah mendadak. Nerimo saja.
Makanya hari ini saya datangin lagi dan akhirnya saya dapat juga Badge itu. Seharian muterin Camp camp, lumayan juga ada beberapa badge yang saya dapatkan.
Setiap ada kesempatan Free seperti ini saya juga gunakan untuk melihat dan mendatangi tempat tempat yang belum saya kunjungi/tidak ada dijadwal acara seperti Prayer Valley (Pusat Keagamaan), WOSM Exibition (Stand Stand negara negara peserta Jambore) atau mengunjungi Camp Putri kita (nengokin, walaupun ada pembina pendampingnya) dan ngumpulin badge di Swapping area.

Di Prayer Valley saya mengunjungi stand agama Katolik, disana saya diberi Scraf, badge dan gambar tempel dan petugasnya baik baik dan ramah. Saya yakin distand agama lainpun demikian.

Di WOSM Exibition, saya datangi semua stand negara negara itu, ada yang ramah ada yang cuek, macam macamlah. Maklum pramuka juga orang, kalau lagi moodnya jelek, pasti tidak menyenangkan. Disini saya mengumpulkan Stamp (Cap) setiap negara sambil mencoba untuk Swapping Badge mereka. Ada juga sih petugasnya yang mau tukeran, tetapi biasanya mereka menyarankan untuk Swapping dg peserta negara mereka di campnya. (Kebanyakan petugas di WOSM Exibition adalah Andalan Nasional negaranya). Yang paling ramai dikunjungi adalah Stand Amerika Serikat, karena mereka memberikan semacam Sertifikat yang berisikan nama kita dan dituliskan disana bahwa mereka adalah Peserta World Scout Jamboree (dalam huruf besar) yang telah mengunjungi Stand Amerika Serikat. Sertifikatnya kita bikin sendiri di computer dan bagus hasilnya. Jadi banyak yang ingin buat, soalnya peserta menganggap itu semacam sertifikat Jamboree. (Sertifikat Jamboree yang resmi aja kalah bagus ).
Karenanya Ngantrinya panjang sekali……, walaupun disana disediakan cukup banyak computer. Kalau mau bikin sertifikat harus ngorbanin waktu 2 jam, karena saya tidak punya cukup waktu maka saya tidak buat.

Hari ini hari Minggu ke 2 saya di Jamboree dan kesempatan ini saya gunakan juga untuk mengikuti misa, hari ini saya bisa mengikuti misa lengkap dengan semua anak didik (pa,pi kecuali Darwin). Tapi saya agak malu juga soalnya saya terlambat datangnya, soalnya saya harus makan dulu. Dan panitia sebelumnya sudah tahu saya akan datang (waktu saya nanya lokasi misa ke mereka). Anak anak sih tepat datangnya, soalnya informasinya sudah saya beri tahu ke mereka. Sampai sampai misa ditunda 5 menit nunggu saya, coba maluin engga. Untung cuma panitia dan anak anak yang tahu saya. Setelah misa kita potret bareng dengan pastor dan panitianya.
Anak anak putra masih mau maen di camp putri, jadi saya pulang dulu ke Camp untuk melihat pasukan / Thai Festival. Ternyata di tenda kosong melongpong , mereka bener bener tidak menyia nyiakan acara bebas hari ini. Jadi waktu Thai Festival dari Indonesia cuma saya sendiri, terakhir pak Bagio dari Kaltim ikut gabung itu juga acaranya mau udahan.

Acara Thai Festival sendiri sebetulnya cukup menarik, mereka mempertunjukkan tarian mereka ( semacam Jaipongan dan tari Lilin kita) dan kita semua diajak untuk ikut serta menari. Para penari mereka turun untuk mengajak penonton untuk ikut menari berkeliling, jadilah lingkaran tarian besar yang membawa lilin. Cara membawa lilinnya yaitu dengan diselipkan diantara jari dan selama menari tidak boleh mati. Jadilah saya “ngibing” muter muterran. Siapa takut ! ๐Ÿ™‚

Jam 10 acara Troop Leader Meetting, disana dibagikan Sub Camp Sticker, setiap peserta mendapatkan 2 lembar sticker dan dibagi juga Sub-Camp Life Activity sticker (Salah satu Sticker yang merupakan syarat untuk mendapatkan Jamboree Award.)

(208) view

WORLD SCOUT JAMBOREE 2002 โ€“ 2003

Acara hari ini yaitu Face the Waves, Crossroads of Culture (COC) dan malamnya acara di Sub Camp yaitu Youth are the World.

Berikut pengalaman anak anak :
Pengalaman Iman:
FACE THE WAVE
Module ini adalah kegiatan yang berhubungan dengan air dan bertempat di pantai.
Mula-mula kami seregu mendapat kegiatan rafting. Rafting ini cukup menarik karena sangat sederhana dan juga membuat sendiri dengan bahan yg sudah disiapakan. Rafting ini bukan seperti biasanya dengan perahu karet tetapi dengan menggunakan ban dalam mobil yang diikatkan pada bambu. Kami diperbolehkan mencoba nya di daerah pantai. Kami capai mendayung. Dalam perjalanan pulang karena kami kecapaian kami meniup peluit dan meminta perahui boat untuk menarik kami. Ternyata mereka hanya menarik sampai ke dekat pantai dan kami harus mendayung lg untuk sampai ke pantai. Ketika susah dekat pantai, salah satu teman kami dari Papua meninggalkan kami. Kami semua cukup kesal karenannya sebab sewaktu kami mendayung dai malah meninggalkan perahunya dan berenang. Sesudah rafting kami melakukan kegiatan perseorangan. Kebetulan saya mendapat Wind Surfing. Saya belum pernah bermain Wind Surfing. Saya diajarkan. Karena 1 papan Wind Surfing dipakai 4 orang maka kami berempat tidak begitu bisa hanya bisa sedikit. sampai wakltu nya habis.

CROSSROAD OF CULTURES
Module ini merupakan module seperti GDV dan COC yaitu seperti stand. Kebetulan regu saya mendapatkan tiket kebudayaan. Saya mengikuti kegiatan di mana kami diajarkan kesenian Thailand. Kesenian Thailand yaitu memukulkan 2 batok kelapa dengan iringan irama musik dan gaya-gaya yang berbeda. Setelah acara itu selesai saya dan Arif pergi ke stand agama Kristen disitu kami diajarkan untuk membuat hiasan dari kertas.

Pengalaman Arif
COC Kita kebagian yang garing lagi, kita disuruh nari pake batok kelapa?!?! Siangnya dari pada bosen, saya jalan-jalan ke world scout center sama ke prayer valley.
Face the Wave Pertama-tama kebagian rafting (ke laut make rakit kaya korban Titanic) ngedayungnya cape tenan, sampe pas mo balik manggil kapal motor buat narik (sebenernya sih cuman iseng niup-niup peluit, taunya penjaganya nyamperin). Saya kan gak dapet tiket, eh pas ada orang ngebuang tiketnya. Saya ambil tulisannya sih Festival boat, saya kira bakal nyantai, ternyata lebih parah! Yang ini sih bukan cuman rakit, tapi perahu naga yang buat lomba! DAYUNG TERUS sampe jontor.

Pengalaman Rusi
Acara: Face the waves(F the W),COC
Pertama2 kita F the W kita dpt rafting sama festival boat!
pertama2 kita rafting! mrk sdh menyediakan ban2 yg diiket jd 1( 5 ban) & rakit dari bambu. Nah kita harus membuat perahunya sendiri. pertama ban diletakan di atas bambu trus kita ikat. setelah selesai kita mulai jalan deh dilaut! Nah kita ditemenin 1 guide orang thailand! 1 rakit hrs 8 orang. nah ditengah2 kita ketemu anak thailand.Tp anak thailandnya rese gt! mrk teh iseng gt! si joj ma si lala (anak jkt) pd digangguin yg tdnya mau berenang2 di laut ga jd gara2 mrknya iseng! trus ditambah aku teh agak pusing mabok laut gitulah! hehehhe. kita cuma dikasih wkt 30 mnt. tp ga kerasa lho cepet juga! abis rafting selese kita festival boat!

Disini juga rame dan aku udah ga mabok lg! udah sehat walafiat! di sini kita naik perahu yg kaya di iklan dji sam soe itu ! cuman lbh kecil lha! kita seperahu sama anak2 jepang & bengkalis. tp tiap kita lomba sama perahu laen kita kalah ajah! gara2nya anak2 jepangnya teh males pisan ga mau ngedayung! padahal mereka cowo lho! hehehehhehe yah walaupun kalah ajah tp asik lho! gara2 kalah ajah guide yg dr thailand yg nemenin kita jd nyiram2in kita! dasar iseng banget! tp acaranya asik bgt deh! kebetulan juga anak2 jepangnya 1 sub camp ama kita!

Abis F the W kita COC (Crossword of Culture)
Disini saya&che2 (anak jkt) kebagian Religion! garing pisan acaranya! saya cuman ngeliatin upacara perkawinan ala muslim udah gitu ada perjamuannya. kita disuru nyobain makanannya gitu! udah ajah! trus kita dpt sticker! tp lumayan juga seeh! Abis workshop kita walk in! nah disini rame! saya belajar buat bukin wayang! mirip2 wayang kulit gitu tp ini mah di bolong2in pake paku! itu asik juga! trus abis itu kita bikin kipas dari semacem daun gitu! itu juga asik. Terakhir kita diajarin maen permainan thailand mirip2 gasing gitu! tp lumayan susah juga seeh!

Abis selese kita balik ke camp untuk nyapin sea festival Carabian sea (Nama sub camp kita) Nah acara ini asik bgt! kita hrs harus nyanyiin ato mau bikin acara apa ajah asal berhubungan sama laut! akhirnya kita nyanyi lagu lancang kuning! lagunya anak bengkalis! lumayan juga eeh! klo acar2 malem gitu biasany aanak2 kaledonia bagus2 pokoknyamah asik2 gitu!

Pengalaman Jessica :
CROASSROAD OF CULTURE
Hai! Hari ini kita dapet C.O.C alias Croassroad Of Cultere. Kita pergi ke arena C.O.C setelah makan siang. Sekitar pk 12.30. Pagi-paginya kita face the waves terlebih dahulu. (Kalo mau tau ceritanya, bisa liat yang punya rusi). Karena tiket acara yang dibagikan diacak, maka kami acaranya terpisah-pisah. Kebetulan saya dapet tiket Art Of Languages. Jadi belajar tentang bahasa negara lain. Karena tiketnya cuma 1, jadi saya pergi sendiri. Yang lain pad pergi berdua.
Sesampainya di sana, saya kira bakal ketemu sama orang Indonesia lainnya dari troop lain. Eh..,, ga taunya cuma saya doang yang orang Indonesia. Di sana, kita boleh milih mau belajar bahasa yang kita sukai. Ada bahasa Thailand, India, Mesir, Perancis, Cina, Jepang, dan lain-lain. Untuk mendapatkan stiker workshop Art Of Languages, kita harus mengumpulkan 3 tanda tangan yang diperoleh dengan cara mempelajari bahasa sebanyak 3 bahasa.
Pertama saya belajar bahasa Thailand. Di sana saya udah was-was aja ga ada yang kenal ama takut ga ngerti bahasanya. Ga taunya ada IST yang nyamperin terus nanya pake bahasa Inggris, saya dari mana. Dia kira saya dari Thailand. Pas saya bilang saya dari Indonesia, tiba-tiba dia langsung ngomong pake bahasa Indonesia. Ngiranya sama-sama dari Thailand, eh… ga taunya sama-sama dari Indonesia. Huehuehue…!!! Untung aja. Jadi saya diteranginnya pake bahasa Indonesia.
Udah dari bahasa Thailand, saya ke workshop bahasa Cina. Di sana saya berkenalan sama orang Jepang. Terus kami diajarin nulis huruf cina menggunakan koas. Saya ngeliat orang Jepang yang tadi kenalan tuh, nulisnya bagus dan lancar banget. Beda jauh kalo dibandingin sama tulisan saya deh! Mungkin karena udah bisa nulis kanji kali ya. Mana koas saya sempet coplok lagi bulunya. Malu deh ah diliatin sama orang scotland yang duduk di depan saya. Tapi anehnya coach nya tiba-tiba nanya begini ล“ Kamu udah pernah belajar nulis huruf ini sebelumnya belum? Terang aja saya jawab Belum. Saya udah mikir jangan-jangan ini tulisan jelek abis! Tapi ga taunya coach nya bilang tulisan saya itu bagus. Hehehe…berbakat juga ternyata ya.
Selesai dari situ, saya pergi ke tulisan Mesir. Di sana saya duduk, terus dikasih kertas, kemudian suruh nulis nama sendiri pake simbol gambar. Aneh deh orang Mesirnya. Ga nerangin dulu, ujuk-ujuk langsung disuruh berkreasi sendiri. Ya udah gambar aja apa adanya.
Setelah selesai Art Of Languages, saya jalan-jalan sendirian mengunjungi walk-in C.O.C. Sewaktu jalan-jalan, saya bertemu anak Gontor yang namanya Jessica. Dia ngajak saya jalan bersama. Lalu kame mencoba cuisin.(Padahal saya tidak punya tiketnya. Tapi akhirnya nyelusup diam-diam). Di sana saya belajar cara membuat thai pancake. Setelah dari sana, kami belajar membuat bunga dari pelepah bambu. Orang yang ngajarinnya ga sabaran. Kalau sedikit saja kami salah, pasti dia akan mengomel. Huh! Cerewet lagi! Tak terasa waktu sudah menunjukkan pk17.15. Sudah waktunya pulang. Soalnya, kalau tidak cepat-cepat pulang bisa kena marah Ka Elly. Kami semua janji jam 6 sore sudah berkumpul untuk membicarakan sea festival yang akan diadakan nanti malam. Jadi, kami berpisah di sini. Saya pun kembali ke subcamp.

Itulah pengalaman dari sebagian anak anak kita yang ikut acara ini, walaupun tidak dilakukan pada hari yang sama untuk putra dan putri, karena jadwal untuk putri pada sabtu ini adalah Community Action Day.

Malamnya diadakan acara Youth are the World di Sub Camp masing, dimana kita saling bertukar games & lagu. Setiap pasukan mengirimkan 2 regu ke pasukan lain , dan kita menerima 2 regu pasukan lain. Kita kebagian menerima 2 regu dari pasukan Thailand. Sebagai tuan rumah kita yang harus lebih berinisiatif dalam memberikan lagu ataupun games. Kita memberikan lagu “Gumbaya” dan lagu “Waiya” lengkap dengan gerakannya, Gontor memberikan lagu “Gumbaya” & games “Tembak tembakkan”, Thailand memberikan lagu & permainan persis Ular naga. ” Ular naga panjangnya bukan kepalang……sd…..Ini dianya yang terbelakang” (tentunya dalam bahasa Thailand), terus kita disuruh milih apel atau jeruk ke yang jaga. Yang parah bahasa Inggris mereka. Jadi kita cari permainan yang gampang saja.Yang tidak butuh banyak aturan. Acara berakhir pukul 10 malam, dan kita disuruh untuk istirahat.

(242) view

WORLD SCOUT JAMBOREE 2002 โ€“ 2003

Hari ini adalah acara Exploring Nature. Yaitu acara semacam Hiking ke gunung. Dibagi dalam 2 kategori yaitu Moderate and Difficult. Untuk acara ini kita sudah sepakat tidak usah ambil yang Difficult tapi ambil yang moderate saja, mengingat kondisi kita yang tidak begitu baik (Cape dan kurang tidur) dan juga menjaga kondisi tubuh kita. Ada 12 hiking rote, jaraknya dari 4 Km sampai 12 Km. Kondisi medan mempengaruhi jarak, jadi makin “gila” medannya makin kecil jaraknya. Tapi pada akhirnya memakan waktu yang relatif sama. (3-4 jam perjalanan). Saya mengambil keputusan untuk mengambil medan yang sedang, dimana jaraknya + 8 km. (flat ground, 2 hills). Kita disuruh untuk kumpul di West Parking Area jam 7.45 dan dari sana kita dibawa oleh bus ke hiking area. Perjalanan ke hiking area cukup lama juga memakan waktu + 1.5 jam.

Sesampainya disana kita disuruh berkumpul. Dari titik start ini ada + 10 regu. Setiap regu diberi pinjam 1 buah kompas, 1 lembar peta contour, 1 lembar kertas petunjuk (+ 250 titik :arah, jarak,keterangan). Semacam keterangan untuk peta pita. Setiap regu mempunyai route yang berbeda, walaupun titik finisnya sama. + jam 10 kita mulai start, kita bagi tugas 1 orang membacakan arah dan jarak, 1 orang membidik, 1 orang menjadi pionir ( mencari titik petunjuk), sementara yang lain mengikuti dan 1 orang menyisir dari belakang. Medannya cukup menantang, karena kita benar benar menerabas hutan, bukan jalan dijalan setapak. Untungnya jarak dari satu titik kesatu titik yang lainnya tidak begitu jauh hanya dalam jarak puluh meteran saja, sehingga kita bisa tetap kontak dari satu titik ke titik yg lain, walaupun teriak teriak.
Misalnya si pembaca membacakan arah 40 derajat dan jarak 50 meter, si pembidik membidik dan si pionir lari kesana untuk mencari petunjuk, apabila sudah ditemukan kita mulai lagi melakukan hal yang sama. Disetiap tanda jejak ada nomor regu kita jadi apabila salah,maka tidak ada nomor kita disana. Menyenangkan dan menantang sekali sebetulnya, sayangnya tidak semua anak kebagian tugas itu, sehingga yang tidak kebagian bosan. Apalagi ada sebuah titik yang menyesatkan (salah cetak), seharusnya 140 derajat tertulis 40 derajat dan kebetulan ada nomor kita disana sehingga cukup mengacaukan. Untung kita bertindak cepat dan kembali lagi ke titik titik sebelumnya, karena derajat ini salah kita cukup kebingungan mengambil arah, akhirnya diambil arah 140 derajat, karena sebelumnya kita berbarengan dengan regu 3, dan dititik itu kita pisah. Setelah itu kita bergabung lagi dengan regu 3 dan melanjutkan perjalanan bersama. Sebetulnya ransel yang kita bawa tidak begitu berat, isinya hanya lunch box, baju ganti, botol minum dan ponco, tetapi karena mungkin medannya cukup menantang, jadi kerasa juga capenya. Selama perjalanan ada beberapa pos yang dijaga oleh panitia, disalah satu pos kita disuruh berhenti untuk makan siang. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan lagi. Jam 1 siang kita sudah sampai di titik Finish. Dan merupakan regu ke 2 yang sampai. (regu pertama dari Thailand). Regu regu yang lain menyusul berdatangan. Tapi ada satu regu yaitu dari Amerika yang tidak muncul muncul, dikabarkan mereka tersesat masuk ke gunung sebelah. Sesuai ketentuan kita tidak akan meninggalkan lokasi sampai semua regu lengkap. Maka kita menunggu regu itu sampai 3 jam lebih. Untung saya bawa snack/persediaan makanan yang cukup banyak sehingga bisa buat ganjal seregu selama menunggu. Anak anak minta supaya saya menanyakan ke panitia. Saya tanyakan dan jawaban panitia cukup membuat saya dan juga anak anak menjadi lebih sabar menunggu & menahan diri. ” You maybe boring wait here, but you must know they are in difficult there!”. Nah lho ! Kena engga? Apalagi disampaikan dengan simpati, tentu saja membuat saya “KO”. Setelah saya sampaikan dan jelaskan ke anak anak, maka tidak ada yang ngomel lagi dan lebih sabar menunggu. Akhirnya dikhabarkan telah ditemukan dan diantar ketitik finish terdekat, sehingga kita tidak perlu menunggu lagi. (Itu mungkin karena arogansi mereka juga, terlalu memandang enteng medan dan tidak mengikuti prosedur dengan benar).(Hal itu saya tahu karena waktu milih, mereka milih yang difficult). Yach tapi kita ikut prihatin juga lah.
Sore sekali kita baru sampai di Camp lagi. Dan karena acara malam ini free, maka malam ini anak anak dibebaskan untuk acara masing masing. Tapi tidak untuk para pembina pendamping, rapat, rapat and rapat lagi ! (Jadwal rapat jam 17 di sub camp untuk activity , jam 20 di head Quarter & jam 22 patrol leader di sub camp).

(159) view