Stand Pameran Gudep Bandung 19 – 20

Gugus Depan Bandung 19 -20 akan berpartisipasi dalam Reuni Akbar St. Aloysius tanggal 13 – 15 Februari 2009, dan akan membuka stand dalam pameran reuni akbar tsb. Tema pameran kita adalah: “Menyongsong 50 thn Gerakan Pramuka Bandung 19 – 20” Berdasarkan rancangan dari BA (budi) stand Bandung 19 -20 di bagi menjadi 2 tema, uraian dari yang bersangkutan adalah sebagai berikut:

===============================================

“Pada dasarnya ada 2 tema di booth itu: 1. tema nostalgia (for old time sake); 2. tema promosi (for present time sake).. aktivitas lain seperti bikin pin ato cetak foto bisa diakomodir di bagian tema yg promosi, tapi mungkin harus konfrm dulu teknis mesin dan alat2 utk cetak dan print dll.

b19-booth-1

ka toni smpt nyebutin pengen pake infocus, bisa aja, tapi saya ga bikin layar khusus karena 1. infocus biasanya ga bole nyala terus2an (kecuali klo ada tipe yg mmg dirancang utk itu) 2. barang mahal, klo ditempatkan sepanjang pameran tergantung banget sama kehadiran dan keawasan petugas piket yg jaga pameran .. dipertimbangkan dgn peran dia yang kalo harus dobel ngelayanin permintaan foto ato bikin pin (— tenaga / manpowernya ada/cukup jumlahnya / ga? ato mau bayar SPG / SPB ?). Jadi utk proyektor saya rasa sifatnya dadakan aja, termasuk layarnya, dan lokasinya di area promosi.
budget saya ancer2 sekitar 3 jt utk bikin large print (background photo, editing/cetak2/scan foto2, alat2 persiapan pameran, konsumsi personil, transport, panel tripleks dadakan, bayar tukang 1-2 org utk 1-2 hari kerja)

b19-booth-2
utk kelancaran, perlu segera dipastikan siapa yg milihin foto2 yg akan dipajang (katanya sekardus indomi, yang sampe angkatan 80an doang), penginventaris dan yg milih barang2 display (memorabilia, alat latihan, buku2, emblem, patches/badge, bendera, patung, dll), siapa yg tanggung jawab utk penyiapan cetak pin, print foto, dll. ujungnya adalah daftar inventory benda2 dan foto2 yg akan dipamerkan dan alat2 yg diperlukan selama pameran.”

 

b19-booth-3

Salam 3 Jari 

Budi

===============================================

Sampai dengan hari ini dana yang terkumpul untuk acara pameran ini baru Rp. 400.000, kami harapkan partisipasi teman teman dalam acara ini, berikut adalah pesan sponsor dari bendahara:

===============================================

“Seperti yang kita ketahui bahwa sekolah Santo Aloysius akan melakukan reuni akbar semua angkatan, kiranya kita telah diberi tau bahwa kita telah diberikan 1 stand untuk pameran dengan gratis, dan tentunya kita harus menggunakannya sebaik mungkin yang mana kiranya target dari pameran Gudep kita ini kurang lebih untuk

1.       Menarik minat orang tua yang memiliki anaknya untuk bisa masuk kembali ke Pramuka kita B19-B20, yang mana saat ini kita punya Gudep sedang krisis pengikut Pramuka nya / sangat minim

2.       Menampilkan atribut atribut yang kita miliki yang mana atribut tsb dapat merangsang orang tua melihat prestasi Pramuka kita yang telah kita miliki baik event Nasional & International

3.       Mendisplay melalui invocus / projector  kita punya acara baik Nasional & International

4.       Mendistribusikan brosur selama reuni berlangsung dan jika memungkinkan cedera mata

5.       Memberikan informasi bagaimana untuk menjadi Pramuka di B19-B20 bersama para Pembina di Gudep kita, dan para penggalang yang masih aktif di gudep kita

Untuk hal tsb diatas kiranya Bapak/Ibu ex maupun yg masih di B19-B20 kiranya dapat membantu dananya, dan kiranya tidak begitu besar karena hanya untuk mendekor layout/dinding, mencetak brosur, konsumsi saat acara dimulai untuk penjaga stand panitia, namun walaupun sedikit tentunya sangat berarti bagi para relawan yang akan bertugas dilapang nantinya.

Kiranya ada dari para Senior kita yang mau membantu menyumbang dapat di transferkan ke rekening tsb dibawah ini,

Atas nama :   Budyman Tanuwidjaja   – BCA Setiabudi –  acc no : 2331370691  (Mohon cantumkan nama pengirimnya yg jelas)

                      Waktu  transfer dari Tgl : 1 Febuari s/d 13 Feb

Jumlah final dan detail sumbangan akan diposting terbuka di email B19-20, dan kelebihan dana akan dimasukkan ke kas Gudep B19-20 yang kita cintai ini, untuk digunakan sebaik baiknya demi pengembangan gugus depan B19-20 yang kita cintai ini.

Atas nama bendahara sementara kegiatan ini kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerjasamanya, tanpa dukungan rekan rekan acara ini tidak dapat berjalan dengan baik.

Salam 3 Jari,

Budyman Tanuwidjaja”

==============================================

(470) view

Catatan dari Aceh (2/2)

Aceh: Pergantian tahun 2007-2008


Malam tahun baru? Pesta kembang api & terompet kertas yang dihiasi kertas warna-warni, itulah yang langsung terbayangkan. Pergantian tahun kali ini saya lalui di Banda Aceh dan sempat dibuat bertanya-tanya, “Akan seperti apakah malam tahun baru nanti?” Ini dikarenakan beberapa hari sebelum akhir tahun berkembang isu bahwa perayaan tahun baru akan dilarang. Hotel-hotel tidak boleh mengadakan acara apapun malam itu. Tanggal 28 Desember, sempat pula disinggung dalam ceramah Jumat di mesjid dekat rumah yang dipancarkan melalui pengeras suara bahwa perayaan tahun baru tidaklah sesuai dengan Syari’at Islam.

Benar saja, sejak tanggal 30 Desember ada mobil dengan pengeras suara yang berkeliling kota mengumumkan himbauan tentang kegiatan-kegiatan yang dianjurkan dalam menyambut tahun baru. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) NAD juga memasang pengumuman di harian setempat yang melarang kegiatan-kegiatan menyambut tahun baru yang tidak sesuai dengan Syari’at Islam, a.l.: meniup terompet, menyalakan lilin, kembang api dan musik hingar bingar. Kegiatan menyambut tahun baru sebaiknya difokuskan dengan berdoa, dzikir, ceramah agama dan kegiatan keagamaan lainnya yang di pusatkan di mesjid, mushalla ataupun meunasah di sekitar tempat tinggal kita. Terbayanglah kalau suasana malam tahun baru di Aceh akan tenang & damai.

Kebetulan pada tanggal 31 Desember sore ada teman yang baru tiba di Banda Aceh, setelah makan malam saya mengajak dia berkeliling kota. Saat itu baru pk. 21.00 dan jalanan sudah dipenuhi motor & mobil, ada pula beberapa orang yang membawa terompet tahun baru. Di pinggir jalan ada pula terlihat pedagang-pedagang yang menjajakan terompet tahun baru dan kembang api/ mercon, bahkan ada pedagang yang menyalakan kembabg api di pinggir jalan untuk menarik pembeli. Banyak terlihat juga orang yang duduk-duduk di atas sepeda motor yang diparkirkan di tepi jalan, seakan-akan menghabiskan waktu menantikan pergantian tahun.

Setelah mengantarkan teman kembali ke hotelnya, saya pun pulang. Setengah jam menjelang pergantian tahun mulai terdengar bunyi petasan & langit diwarnai oleh warna-warni kembang api. Sempat pula terdengar suara terompet di luar sana. Ramainya suara petasan & kembang api ini berlangsung cukup lama dan baru mereda sejam lewat tengah malam. Dari seorang kawan Aceh yang keluar malam tahun baru itu saya diberitahu bahwa dia “terjebak” dari pk. 23.30 hingga pk.01.00 di lapangan Blang Padang, sebuah lapangan yang menjadi pusat pesta kembang api tidak resmi malam itu. Dia pun mengatakan bahwa pelarangan ini adalah yang pertama kali.

Keseriusan muspida Banda Aceh dalam menjalankan larangan ini terlihat dengan menerjunkan tim khusus untuk pengamanan malam tahun baru yang melibatkan Dinas Syari’at Islam, Wilayatul Hisbah/ Polisi Syari’at, Propam Polda, Pomdam Iskandar Muda, Poltabes, Satpol PP dan Dinas Infokom. Target utama tim khusus ini adalah mengamankan Mesjid Raya Baiturrahman dari tiupan terompet dan petasan/ kembang api. Selain melakukan razia & penyitaan terompet yang mencapai lebih dari 5000 buah, seperti yang diberitakan di koran.

(232) view

Catatan dari Aceh (1/2)

Aceh: Ramadhan dan Lebaran 2007

Serambi Mekah, begitulah julukan Aceh yang diajarkan sewaktu SD dulu. Agak ngeri juga sewaktu saya mau berangkat ke Aceh, akan seperti apakah kondisi & penerapan Syariat Islam di Aceh? Apakah semua wanita harus berjilbab? Semua lelaki mesti berjanggut & pakai jubah? Ternyata keadaannya tidaklah seperti yang dibayangkan. Memang di Aceh ada yang namanya “polisi syariat” yang disebut Wilayatul Hisbah/ penegak Syariat Islam (WH) yg bertugas sperti polisi, memastikan pelaksanaan/ penerapan Syariat Islam oleh umat Islam, bukan bagi yang non-muslim.

Di Banda Aceh, kalau kita melihat perempuan yang tidak ber-jilbab dapat langsung disimpulkan dia adalah non-muslim yang biasanya Cina atau bule. Kadang masih dapat ditemukan juga perempuan berkulit coklat yang tidak berjilbab di jalan, dapat dipastikan mereka adalah pendatang, bukan orang Aceh. Walaupun demikian, di beberapa daerah Aceh non-muslim juga “dimohon toleransi”-nya untuk juga menghormati penerapan Syariat Islam ini. Sepertinya nyaris setiap hari ada berita di koran ttg tindakan2 yang dilakukan WH, a.l.: pasangan yg ditangkap karena kedapatan melakukan khalwat (mesum), razia bagi wanita yang berpakaian non-muslim di jalan (termasuk “jilbab gaul” yang ketat), dll.  Pernah pula operator telepon selular XL mengecat spanduk-spanduk & umbul-umbul yang telah dipasang di jalan-jalan sepanjang Banda Aceh karena menampilkan seorang pria yang diapit oleh 2 orang wanita. Yang dicat adalah kedua wanita yang mengapit karena menampilkan aurat: kulit lengan (karena berkaos tangan pendek) dan rambut. Ada pula konser grup band dari Jakarta (Nidji) yang dilarang tampil sehari sebelum pelaksanaannya karena dianggap dapat menimbulkan maksiat.

Meugang adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh untuk menyantap daging (sapi/ kerbau). Tradisi ini dilakukan sehari sebelum puasa, sehari sebelum lebaran & sehari sebelum idul adha. Pada saat meugang & sehari sebelumnya harga daging di pasar bisa mencapai Rp100.000 per kilo! Saat meugang puasa kemarin Banda Aceh sepi selama beberapa hari karena banyak penduduknya yang mudik ke kampung halaman utk melakukannya bersama keluarga. Tiga hari pertama di bulan Ramadhan Banda Aceh sepi, toko-toko & pasar tutup.

Beberapa toko baru buka menjelang magrib atau selewat tarawih. Bagi mereka yang tidak puasa & tidak masak di rumah selama bulan ramadhan akan terpaksa ikut tidak makan siang karena tidak ada satu pun penjual makanan. Walaupun demikian, selepas azhar (jam 4 sore) banyak sekali pedagang-pedagang kaget di pinggir jalan yang menjual panganan utk berbuka puasa seperti: air tebu, es campur, jajanan pasar yang manis, mie aceh, rujak aceh, lemang (ketan/ ketan hitam/ ubi yang dimasak di dalam bambu). Kota yang sepi seharian mulai hidup saat itu. Akan tetapi keramaian itu tidak berlangsung lama karena menjelang magrib jalanan sepi kembali hingga selepas tarawih (+/- jam 9.30pm). Bahkan ada beberapa tempat belanja yang buka hingga jam 2 pagi selama bulan puasa.

Mesjid sepertinya penuh dengan kegiatan hingga tengah malam. Kita dapat mendengarkan orang-orang yang sedang sholat tarawih & sembahyang setelahnya hingga sekitar jam 1pagi. Lalu ada jeda sekitar 2 jam, di mana selanjutnya pada jam 3 pagi ada panggilan utk sahur dan mulai kembali terdengar kegiatan di mesjid hingga selesai sholat subuh.

Pabrik tempat saya bekerja berada di sebuah desa yang berjarak 30 km dari Banda Aceh. Di sana semua kegiatan berhenti selama bulan puasa, semua orang dewasa berpuasa. Tidak ada toko apalagi warung nasi yang buka, semua libur selama bulan puasa. Jaranglah kita berjumpa orang di jalan, kalau pun kita ada pasti orang tersebut terlihat lesu & lemas. Pabrik pun libur, tidak ada kegiatan. Namun anehnya, pabrik justru lebih ramai dan sering dikunjungi orang-orang desa selama bulan puasa dari pemuda desa, jawara-jawara, tokoh-tokoh GAM juga ada di pabrik. Ini dikarenakan lingkungan pabrik yang tertutup & dikelilingi pagar benteng sangat ideal bagi mereka yang merasa perlu “sahur” lagi agar kuat “berpuasa” hingga magrib, atau hanyalah sebatas menghisap sebatang dua batang rokok.

Tidak adanya kegiatan selama puasa bukannya berarti tidak ada insiden. Sempat terdengar berita ada orang yang dipukuli oleh pemuda desa karena ketahuan masak di hutan. Beberapa hari kemudian ada lagi berita bahwa para pemuda desa mengobrak-abrik dapur alam yang dibuat beberapa orang di pinggir sungai. Ironinya, para pemuda desa yang melakukan semua itu justru pengunjung tetap pabrik selama bulan puasa.

Malam takbiran di Banda Aceh sangatlah berbeda dengan di Bandung. Selama ini setahu saya yang namanya malam takbiran adalah malam di mana kita bisa menikmati “surround sound system” di sekeliling rumah semalam suntuk. Malam takbiran kemarin di Aceh boleh dibilang sepi dalam arti sesungguhnya. Tidak terdengar suara apapun dari mesjid selewat jam 8 malam. Gema takbir baru mulai lagi jam 6 pagi hingga menjelang sholat Ied.

Layaknya hari Lebaran di tempat-tempat lain di Indonesia, hari Lebaran di Aceh pun diwarnai dengan acara sirahturahmi. Para tamu tidak disuguhi ketupat seperti di P. Jawa, tapi ada makanan lain yang khas Lebaran di Aceh yaitu timphan. Timphan ada sejenis panganan manis yang terbuat dari tepung beras ketan yang dibungkus oleh daun pisang muda dan dibentuk seperti otak-otak pipih lalu dikukus. Timphan ini biasanya diisi dengan selai sarikaya, ada pula yg diisi oleh potongan-potongan kecil pisang atau gula merah & kelapa.

Hari Lebaran adalah hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak, selain mereka mendapatkan uang dari para handai taulan yang mereka salami hari itu, khusus para anak laki-laki mendapatkan hadiah lebaran berupa senapan mainan yang berpeluru plastik. Anak-anak itu akan jalan bergerombol, biasanya per kampung dan perang dengan kelompok lainnya. Ada pula anak-anak yang ikut kendaraan umum & duduk di atas atap mobil dengan memegang senapan mereka. Biasanya di persimpangan mereka berjumpa dengan rombongan anak-anak lainnya, mereka akan berloncatan turun dari mobil & dimulailah peperangan. Kegiatan perang-perangan ini sudah menjadi tradisi bagi anak-anak di Aceh. Peperangan ini bukanlah tidak menimbulkan korban, kadang karena saking menjiwai peperangan itu mereka berkelahi sunguhan dan tidak ada orang dewasa yang mengawasi (para orang tua sedang sibuk bersirahturahmi). Selain luka-luka karena berkelahi, ada pula laporan tentang anak yang buta karena matanya kena tembak. Walaupun demikian para orang tua tidak ada larangan dari orang tua. Mereka bilang biarlah anak-anak menikmati lebaran mereka, nanti selewat lebaran baru mereka akan melarang senapan mainan tersebut.

(232) view