Catatan dari Aceh (2/2)

Aceh: Pergantian tahun 2007-2008


Malam tahun baru? Pesta kembang api & terompet kertas yang dihiasi kertas warna-warni, itulah yang langsung terbayangkan. Pergantian tahun kali ini saya lalui di Banda Aceh dan sempat dibuat bertanya-tanya, “Akan seperti apakah malam tahun baru nanti?” Ini dikarenakan beberapa hari sebelum akhir tahun berkembang isu bahwa perayaan tahun baru akan dilarang. Hotel-hotel tidak boleh mengadakan acara apapun malam itu. Tanggal 28 Desember, sempat pula disinggung dalam ceramah Jumat di mesjid dekat rumah yang dipancarkan melalui pengeras suara bahwa perayaan tahun baru tidaklah sesuai dengan Syari’at Islam.

Benar saja, sejak tanggal 30 Desember ada mobil dengan pengeras suara yang berkeliling kota mengumumkan himbauan tentang kegiatan-kegiatan yang dianjurkan dalam menyambut tahun baru. Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) NAD juga memasang pengumuman di harian setempat yang melarang kegiatan-kegiatan menyambut tahun baru yang tidak sesuai dengan Syari’at Islam, a.l.: meniup terompet, menyalakan lilin, kembang api dan musik hingar bingar. Kegiatan menyambut tahun baru sebaiknya difokuskan dengan berdoa, dzikir, ceramah agama dan kegiatan keagamaan lainnya yang di pusatkan di mesjid, mushalla ataupun meunasah di sekitar tempat tinggal kita. Terbayanglah kalau suasana malam tahun baru di Aceh akan tenang & damai.

Kebetulan pada tanggal 31 Desember sore ada teman yang baru tiba di Banda Aceh, setelah makan malam saya mengajak dia berkeliling kota. Saat itu baru pk. 21.00 dan jalanan sudah dipenuhi motor & mobil, ada pula beberapa orang yang membawa terompet tahun baru. Di pinggir jalan ada pula terlihat pedagang-pedagang yang menjajakan terompet tahun baru dan kembang api/ mercon, bahkan ada pedagang yang menyalakan kembabg api di pinggir jalan untuk menarik pembeli. Banyak terlihat juga orang yang duduk-duduk di atas sepeda motor yang diparkirkan di tepi jalan, seakan-akan menghabiskan waktu menantikan pergantian tahun.

Setelah mengantarkan teman kembali ke hotelnya, saya pun pulang. Setengah jam menjelang pergantian tahun mulai terdengar bunyi petasan & langit diwarnai oleh warna-warni kembang api. Sempat pula terdengar suara terompet di luar sana. Ramainya suara petasan & kembang api ini berlangsung cukup lama dan baru mereda sejam lewat tengah malam. Dari seorang kawan Aceh yang keluar malam tahun baru itu saya diberitahu bahwa dia “terjebak” dari pk. 23.30 hingga pk.01.00 di lapangan Blang Padang, sebuah lapangan yang menjadi pusat pesta kembang api tidak resmi malam itu. Dia pun mengatakan bahwa pelarangan ini adalah yang pertama kali.

Keseriusan muspida Banda Aceh dalam menjalankan larangan ini terlihat dengan menerjunkan tim khusus untuk pengamanan malam tahun baru yang melibatkan Dinas Syari’at Islam, Wilayatul Hisbah/ Polisi Syari’at, Propam Polda, Pomdam Iskandar Muda, Poltabes, Satpol PP dan Dinas Infokom. Target utama tim khusus ini adalah mengamankan Mesjid Raya Baiturrahman dari tiupan terompet dan petasan/ kembang api. Selain melakukan razia & penyitaan terompet yang mencapai lebih dari 5000 buah, seperti yang diberitakan di koran.

(232) view

Catatan dari Aceh (1/2)

Aceh: Ramadhan dan Lebaran 2007

Serambi Mekah, begitulah julukan Aceh yang diajarkan sewaktu SD dulu. Agak ngeri juga sewaktu saya mau berangkat ke Aceh, akan seperti apakah kondisi & penerapan Syariat Islam di Aceh? Apakah semua wanita harus berjilbab? Semua lelaki mesti berjanggut & pakai jubah? Ternyata keadaannya tidaklah seperti yang dibayangkan. Memang di Aceh ada yang namanya “polisi syariat” yang disebut Wilayatul Hisbah/ penegak Syariat Islam (WH) yg bertugas sperti polisi, memastikan pelaksanaan/ penerapan Syariat Islam oleh umat Islam, bukan bagi yang non-muslim.

Di Banda Aceh, kalau kita melihat perempuan yang tidak ber-jilbab dapat langsung disimpulkan dia adalah non-muslim yang biasanya Cina atau bule. Kadang masih dapat ditemukan juga perempuan berkulit coklat yang tidak berjilbab di jalan, dapat dipastikan mereka adalah pendatang, bukan orang Aceh. Walaupun demikian, di beberapa daerah Aceh non-muslim juga “dimohon toleransi”-nya untuk juga menghormati penerapan Syariat Islam ini. Sepertinya nyaris setiap hari ada berita di koran ttg tindakan2 yang dilakukan WH, a.l.: pasangan yg ditangkap karena kedapatan melakukan khalwat (mesum), razia bagi wanita yang berpakaian non-muslim di jalan (termasuk “jilbab gaul” yang ketat), dll. Β Pernah pula operator telepon selular XL mengecat spanduk-spanduk & umbul-umbul yang telah dipasang di jalan-jalan sepanjang Banda Aceh karena menampilkan seorang pria yang diapit oleh 2 orang wanita. Yang dicat adalah kedua wanita yang mengapit karena menampilkan aurat: kulit lengan (karena berkaos tangan pendek) dan rambut. Ada pula konser grup band dari Jakarta (Nidji) yang dilarang tampil sehari sebelum pelaksanaannya karena dianggap dapat menimbulkan maksiat.

Meugang adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh untuk menyantap daging (sapi/ kerbau). Tradisi ini dilakukan sehari sebelum puasa, sehari sebelum lebaran & sehari sebelum idul adha. Pada saat meugang & sehari sebelumnya harga daging di pasar bisa mencapai Rp100.000 per kilo! Saat meugang puasa kemarin Banda Aceh sepi selama beberapa hari karena banyak penduduknya yang mudik ke kampung halaman utk melakukannya bersama keluarga. Tiga hari pertama di bulan Ramadhan Banda Aceh sepi, toko-toko & pasar tutup.

Beberapa toko baru buka menjelang magrib atau selewat tarawih. Bagi mereka yang tidak puasa & tidak masak di rumah selama bulan ramadhan akan terpaksa ikut tidak makan siang karena tidak ada satu pun penjual makanan. Walaupun demikian, selepas azhar (jam 4 sore) banyak sekali pedagang-pedagang kaget di pinggir jalan yang menjual panganan utk berbuka puasa seperti: air tebu, es campur, jajanan pasar yang manis, mie aceh, rujak aceh, lemang (ketan/ ketan hitam/ ubi yang dimasak di dalam bambu). Kota yang sepi seharian mulai hidup saat itu. Akan tetapi keramaian itu tidak berlangsung lama karena menjelang magrib jalanan sepi kembali hingga selepas tarawih (+/- jam 9.30pm). Bahkan ada beberapa tempat belanja yang buka hingga jam 2 pagi selama bulan puasa.

Mesjid sepertinya penuh dengan kegiatan hingga tengah malam. Kita dapat mendengarkan orang-orang yang sedang sholat tarawih & sembahyang setelahnya hingga sekitar jam 1pagi. Lalu ada jeda sekitar 2 jam, di mana selanjutnya pada jam 3 pagi ada panggilan utk sahur dan mulai kembali terdengar kegiatan di mesjid hingga selesai sholat subuh.

Pabrik tempat saya bekerja berada di sebuah desa yang berjarak 30 km dari Banda Aceh. Di sana semua kegiatan berhenti selama bulan puasa, semua orang dewasa berpuasa. Tidak ada toko apalagi warung nasi yang buka, semua libur selama bulan puasa. Jaranglah kita berjumpa orang di jalan, kalau pun kita ada pasti orang tersebut terlihat lesu & lemas. Pabrik pun libur, tidak ada kegiatan. Namun anehnya, pabrik justru lebih ramai dan sering dikunjungi orang-orang desa selama bulan puasa dari pemuda desa, jawara-jawara, tokoh-tokoh GAM juga ada di pabrik. Ini dikarenakan lingkungan pabrik yang tertutup & dikelilingi pagar benteng sangat ideal bagi mereka yang merasa perlu “sahur” lagi agar kuat “berpuasa” hingga magrib, atau hanyalah sebatas menghisap sebatang dua batang rokok.

Tidak adanya kegiatan selama puasa bukannya berarti tidak ada insiden. Sempat terdengar berita ada orang yang dipukuli oleh pemuda desa karena ketahuan masak di hutan. Beberapa hari kemudian ada lagi berita bahwa para pemuda desa mengobrak-abrik dapur alam yang dibuat beberapa orang di pinggir sungai. Ironinya, para pemuda desa yang melakukan semua itu justru pengunjung tetap pabrik selama bulan puasa.

Malam takbiran di Banda Aceh sangatlah berbeda dengan di Bandung. Selama ini setahu saya yang namanya malam takbiran adalah malam di mana kita bisa menikmati “surround sound system” di sekeliling rumah semalam suntuk. Malam takbiran kemarin di Aceh boleh dibilang sepi dalam arti sesungguhnya. Tidak terdengar suara apapun dari mesjid selewat jam 8 malam. Gema takbir baru mulai lagi jam 6 pagi hingga menjelang sholat Ied.

Layaknya hari Lebaran di tempat-tempat lain di Indonesia, hari Lebaran di Aceh pun diwarnai dengan acara sirahturahmi. Para tamu tidak disuguhi ketupat seperti di P. Jawa, tapi ada makanan lain yang khas Lebaran di Aceh yaitu timphan. Timphan ada sejenis panganan manis yang terbuat dari tepung beras ketan yang dibungkus oleh daun pisang muda dan dibentuk seperti otak-otak pipih lalu dikukus. Timphan ini biasanya diisi dengan selai sarikaya, ada pula yg diisi oleh potongan-potongan kecil pisang atau gula merah & kelapa.

Hari Lebaran adalah hari yang dinanti-nantikan oleh anak-anak, selain mereka mendapatkan uang dari para handai taulan yang mereka salami hari itu, khusus para anak laki-laki mendapatkan hadiah lebaran berupa senapan mainan yang berpeluru plastik. Anak-anak itu akan jalan bergerombol, biasanya per kampung dan perang dengan kelompok lainnya. Ada pula anak-anak yang ikut kendaraan umum & duduk di atas atap mobil dengan memegang senapan mereka. Biasanya di persimpangan mereka berjumpa dengan rombongan anak-anak lainnya, mereka akan berloncatan turun dari mobil & dimulailah peperangan. Kegiatan perang-perangan ini sudah menjadi tradisi bagi anak-anak di Aceh. Peperangan ini bukanlah tidak menimbulkan korban, kadang karena saking menjiwai peperangan itu mereka berkelahi sunguhan dan tidak ada orang dewasa yang mengawasi (para orang tua sedang sibuk bersirahturahmi). Selain luka-luka karena berkelahi, ada pula laporan tentang anak yang buta karena matanya kena tembak. Walaupun demikian para orang tua tidak ada larangan dari orang tua. Mereka bilang biarlah anak-anak menikmati lebaran mereka, nanti selewat lebaran baru mereka akan melarang senapan mainan tersebut.

(232) view

Kumpul Dadak Old Boys

Foto ini di ambilnya waktu Tony dan Yuti mudik, Maret 2007. Ceritanya pagi sebelum terbang pulang ke GC kita diundang oleh Kanda George buat sarapan di rumahnya. Kami di jamu oleh Kanda George sekeluarga dengan kehangatan dan makanan yg nikmat.

Berdiri dari kiri ke kanan:
Kak Hwie Leng, Kanda George, Kak Miki (istri Kanda George), Yuti, Martanto, Nius (putra Martanto), Vero & Erika (istri dan puteri Martanto), Djodie.

jongkok di depan:
Tony, Dedy dan Yadi

(236) view

Hari Dharma Samudra (bagian ke 4)

Ka Johnny memimpin permainan
Hadi setia jadi provokator
Yang tua pun ngga tahan untuk ngga ikutan
Masih membahas tatacara upacara πŸ™‚
Bagaimana kalau kita membuat kejuaraan achiles antar gudep?
Yang ini pasti tidak sedang membicarakan Achiles
Para Mabigus yang sepertinya pengen ngerasain achiles πŸ™‚
Masih Achiles .... ngga cape cape
Mengupas persoalan negara dan bangsa πŸ™‚
Anggota R. Kuda - Now and Then

(326) view

Hari Dharma Samudra (bagian ke 3)

Persiapan Upacara
Tampaknya sudah siap, walaupun masih ada yang ngobrol
Persiapan Upacara
Sedikit lebih siap, walaupun masih ada yang cengengesan
Persiapan Upacara
Yang ini beneran udah siap
Pandu Adi
Para Pandu Adi pun tidak ketinggalan untuk ikutan upacara
Wejangan
Wejangan
Sesepuh Regu Kijang
Para Sesepuh Regu Kijang
Sesepuh Regu Kuda
Para Sesepuh Regu Kuda ngga mau kalah
Achiles
Achiles tetap permainan favorit
Yang cewek pun ngga mau kalah
Achiles
Para Pandu Adi pun di buat ngiler dengan Achiles

(327) view

Hari Dharma Samudra (bagian ke 2)

Siap siap
Ada yang serius ... ada yang cuek
Siap siap
Yang lain siap-siap acara, yang satu ini siap siap sepatu πŸ™‚
Persiapan Hari Dharma Samudra
Panitia sedang siap siap
Persiapan Upacara
Seperti sedang mikirin negara ...
Pandu Adi
Para Pandu Adi belajar lagi tatacara upacara πŸ™‚
Siap siap
Susun skenario sebelum upacara
Ngobrol
Posisi boleh siap, tapi gossip sih jalan teruuuus
Siap siap
Ayo siapa yang kancing celananya masih terbuka?

(375) view

Hari Dharma Samudra (bagian ke 1)

Peringatan Hari Yos Sudarso kali ini dirayakan pada tanggal 20 Januari 2007, sedianya perayaan ini akan dilaksanakan di sanggar, tetapi kala itu kita tidak mendapat ijin dari sekolah. Sehingga perayaan dialihkan ke Taman Pramuka, Jl. LL RE Martadinata. Perayaan yang sangat meriah walaupun mendadak harus berpindah tempat. Salut untuk rekan-rekan penyelenggara.

Berikut adalah foto-foto hasil jepretan ka Djodi, cuplikan dari keramaian di Taman Pramuka. Silahkan tebak, wajah siapa saja kah yang nampang di foto foto ini. More pictures coming soon, sering sering berkunjung ke sanggar maya ini.

KOBARKAN SEMANGAT PERTEMPURAN!!!

Hari Yos Sudarso
Hari Yos Sudarso

 

Peringatan Hari Yos Sudarso
Peringatan Hari Yos Sudarso
Peringatan Hari Yos Sudarso
Peringatan Hari Yos Sudarso

(385) view