Camp Penutupan Kaderisasi 2013


Bagian I

Perjalanan & Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013
Penggalang Gudep 07019-07020
Batukaras, 22-25 Juni 2013

Berangkat & Perjalanan Malam

Perkemahan pertengahan tahun 2013 pasukan penggalang ini mengambil tema “Perkemahan Penutupan Kaderisasi 2013”. Berjudul demikian, karena kegiatan ini adalah akhir dari program Kaderisasi 2013 yang dimulai di bulan Februari 2013 dengan LT-1. Peserta perkemahan total adalah 25 orang, terdiri dari 16 orang penggalang putra-putri dan 9 orang pembina & penegak. Termasuk dalam tim pembina – penegak adalah bintang tamu kita Kak Saretta N. Paramita yang sedang mudik dalam rangka liburan kuliah. Welcome home Kak Retta!

Satu hal penting yang perlu dilaporkan, ini adalah perkemahan pertama bagi sebagian besar peserta penggalang yang berlokasi lebih dari 2 jam perjalanan dari Bandung, dengan durasi lebih dari semalam, dan tidak bertempat di bumi perkemahan. Lokasi perkemahan adalah Desa Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Letaknya sekitar 35 km di sebelah Barat Pangandaran & berada dalam satu wilayah dengan S. Cijulang, yang memiliki Green Canyon di bagian hulunya.

Perjalanan kami di mulai pada tanggal 22 Juni 2013 yaitu dengan berkumpul di Sanggar pada pukul 19.00. Ya, kami berkumpul malam hari karena perjalanan menuju lokasi hanya tersedia dalam dua pilihan waktu, siang atau malam. Kami memutuskan melakukan perjalanan malam agar dapat tiba di lokasi dalam keadaan terang, sehingga lebih mudah berorientasi. Perjalanan memakan waktu 8-9 jam, cukup panjang, karena ruas jalan terakhir menuju Batu Karas kondisinya menyedihkan. Keadaan ini sudah terjadi selama lebih dari 3 tahun terakhir.

Rencana keberangkatan adalah jam 20.30, dan kami berhasil menepati jadwal ini. Seluruh peserta diangkut menggunakan dua buah mobil elf berkapasitas 13-15 orang. Cukup pas untuk 25 orang dan ransel-ransel yang besar plus tongkat. Sebelum berangkat, kami semua melakukan cek perbekalan, perlengkapan, dan packing. Dari sanggar, kami berjalan kaki menuju ke parkir Sekolah Aloysius di mana elf kami sudah menunggu.

Tiba di parkiran, kami berbaris sebentar untuk berdoa bersama yang dipimpin oleh Kak Ezra Tandian. Berikutnya, pembina, penegak & peserta membagi diri menjadi dua kelompok elf dan mulai menaikkan barang-barang dan tongkat. Tak lama kemudian, kami pun siap duduk di kabin penumpang. Tampak juga beberapa orang tua penggalang yang ikut mengantar keberangkatan kami, sebagian dengan wajah harap-harap cemas. Wajar saja cemas, karena ini pun pengalaman pertama mereka melepas anak-anaknya pergi jauh dalam kegiatan Pramuka.

Setelah semua naik, kedua elf mulai bergerak menyusuri jalanan Kota Bandung yang ternyata sangat padat malam itu. Maklum, malam itu adalah Malam Minggu. Cuaca cukup cerah, tidak hujan dan udara tidak terlalu panas. Kondisi dalam elf tentu tidak senyaman mobil pribadi atau bis pariwisata. Walaupun demikian, kondisi itu tidak menghalangi para peserta masih untuk menghasilkan keramaian sendiri di dalam elf.

Setelah sekitar 2 jam, barulah kami keluar Kota Bandung di Gerbang Tol Cileunyi. Kedua elf melanjutkan perjalanan menuju Timur lewat Jalan Raya Bandung Sumedang, lalu menuju Tasikmalaya. Elf melaju dengan cukup cepat karena jalan luar kota tidak terlalu ramai. Para pembina dalam tiap elf memastikan bahwa supir tidak melampaui batas kewajaran mengemudi dan tidak mengantuk. Tiap elf diawaki oleh 1 orang pengemudi & 1 orang cadangan.

Tidak banyak yang kami lihat perjalanan malam ini sampai sebelum subuh, karena gelap dan sebagian besar dari kami memang akhirnya tertidur, walaupun “tidur ayam”. Elf sempat berhenti untuk beristirahat di daerah antara Tasikmalaya & Ciamis selama sekitar 1 jam. Istirahat ini sangat berguna untuk makan-minum, menghirup udara segar, meluruskan badan, buang air, dan tentunya meringankan bokong yang mulai mati rasa karena terlalu lama duduk. Kemudian, perjalanan dilanjutkan menembus gelapnya malam, ditemani sinar bulan yang hampir penuh. Kami pun kembali terkantuk-kantuk dalam elf.

Sekitar jam 03.00 dini hari, kami memasuki daerah Kabupaten Pangandaran. Ya, tahun ini Pangandaran memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis. Jalan aspal masih dalam kondisi baik. Hanya saja kedua elf sudah terpisah sejak dari sebelum waktu istirahat. Elf kedua ternyata mengambil jalan melalui daerah Garut, sehingga tertinggal sekitar 1 jam di belakang elf lainnya. Karena hal ini, jam 04.00 elf pertama memutuskan untuk menunggu di Pangandaran. Elf ini berhenti di sebuah warung surabi yang baru mulai buka.

Kami menyempatkan diri menyantap surabi Pangandaran. Rasanya tidak terlalu berebda dengan yang ada di Bandung. Yang menarik adalah cara makannya. Surabi dihidangkan di nampan seng besar beralas kertas, lengkap dengan semangkok besar sambal oncom. Siapapun yang mau, bisa langsung ‘nyomot’ surabinya, lalu langsung di-‘cocol’ ke sambal oncom dan langsung dilahap. Sebagian dari kami belum pernah makan dengan cara demikian, dan akhirnya tetap minta piring terpisah untuk mewadahi surabi dan sambal yang akan disantap.

Oh ya, usut punya usut ternyata sang supir adalah orang Pangandaran asli dan pemilik warung ini adalah teman SMPnya dulu. Terbukti, sepanjang perjalanan di daerah Pangandaran, Pak Supir ini sering sekali menyapa & melambai ke arah orang-orang yang berpapasan di jalan, dan merekapun menyapa kembali. Berarti supir ini bukan SKSD (sok kenal sok deket) ‘kan?

Singkatnya, elf kedua akhirnya tiba di warung Surabi dan terjadilah reuni dadakan para peserta perkemahan. Waktu saat itu sekitar pukul 05.00. Tak lama kemudian, kami pun kembali naik elf dan meneruskan perjalanan menuju Pantai Batukaras. Langit mulai berganti warna, dari gelap menjadi ungu dengan semburat jingga. Awan bergumpal terlihat berarak sebagian.

Jalan yang berlubang besar dan hancur lapisan aspalnya menjadi sarapan pagi kami setelah surabi sambal oncom. Elf tidak bisa melaju cepat karena hal ini. Kabarnya, jalan di ruas ini hancur karena terlalu banyak dilalui truk pasir yang mengangkut pasir besi dari penambangan di sekitar tempat ini ke Cilacap. Setelah 30 menit pertama, kami semua jadi terbiasa terpental-pental di dalam elf. Selain karena tidak ada pilihan, sepertinya masing-masing sudah menemukan jurus untuk menyiasati guncangan yang terjadi.

Camp up & Hari Pertama

Sekitar pukul 06.30, setelah melalui pos pembayaran tiket masuk daerah, akhirnya kami tiba di Desa Batukaras, tepatnya di pantai Batukaras. Kami langsung disuguhkan pemandangan dan suara debur ombak. Pagi itu laut sedang pasang sehingga air laut berada dekat dengan jalan. Deretan perahu nelayan terparkir rapi di tepi pantai. Tampak pula bahwa Pantai Batukaras sedang mengalami proses abrasi yang cukup parah. Di sepanjang pantai terlihat banyak pohon dan semak yang tumbang karena tanah tempatnya tumbuh sudah habis terkikis air laut.

Kami berhenti di halaman Pondok Maranti. Pondok ini adalah sebuah penginapan milik keluarga Pak Ucup. Pak Ucup adalah tokoh masyarakat setempat yang banyak membantu kami mempersiapkan pelaksanaan perkemahan di Batukaras. Beliau adalah salah satu penggiat dalam organisasi “Darwis” atau sadar wisata, yaitu organisasi masyarakat setempat yang dibentuk untuk memajukan kegiatan pariwisata di Batukaras. Sebagai informasi, Batukaras dikenal sebagai salah satu pantai ideal untuk berselancar.

Sementara barang-barang diturunkan, perwakilan dari pasukan B19-20 bergerak menuju kediaman Pak Ucup untuk laporan dan menyampaikan surat pengantar dari Gudep. Perwakilan yang menghadap adalah Kak B.A. & Kak Ezra sebagai perwakilan dari pembina, lalu Johanes dan Nadia sebagai wakil dari pasukan penggalang. Pak Ucup menerima kami dengan senyum lebar. Setelah berbincang-bincang sebentar, kami pun beranjak kembali ke Maranti untuk kemudian bergerak menuju lokasi perkemahan.

Lokasi perkemahan kami terletak sekitar satu kilometer di Utara Pondok Maranti, menempuh jalan aspal datar yang sudah hancur permukaannya. Kami menempuh jarak tersebut dengan berjalan kaki. Di perjalanan inilah keandalan pengemasan (packing) ransel dan setelannya benar-benar diuji. Karena sebagian besar penggalang baru pertama kalinya membawa beban seberat 1/4 berat tubuhnya di punggung, banyak yang cukup kaget terutama karena harus membawanya menempuh jarak yang cukup jauh. Dalam sekejap keringat tampak mengalir deras, membasahi wajah, leher, punggung dan badan. Salah satu peserta, Kemal, mengalami kerusakan pada ranselnya, yaitu putus salah satu tali punggungnya. Akibatnya, ransel Kemal harus digotong menggunakan tongkat.

– bersambung –

(332) view