Gathering & Hiking Sabtu 16 Juli 2011 & 17 Juli 2011

Hiking and Gathering Bandung 19 - 20
Hiking and Gathering Bandung 19 - 20

Kepada Para Kanda, Pandu Adi, Panitia Reuni ,Pembina & Penegak B 19 – 20

Kami mengajak anda semua dalam salah satu kegiatan Road to Golden Reunion, yaitu acara Gathering & Hiking. Kegiatan ini akan diawali dengan acara Gathering (Ngobrol + Nginep di Villa) dari Hari Sabtu tgl 16 Juli 2011. Bagi yang mau berangkat bareng dapat kumpul Pk. 15.00 di Sanggar & Pk 16.00 akan berangkat ke Villa Istana Bunga

Bagi yang mau nyusul langsung ke lokasi dapat langsung ke: Villa Istana Bunga Blok I no 1 (Parompong – Cisarua Lembang)

Biaya Partisipasi yang akan ikut nginap + Hiking min. @ Rp. 150.000/orang (untuk keperluaan bayar villa, makan 3 X + tiket masuk ke CIC)

Perlengkapan yang harap dibawa :
1. Alas tidur + Sleeping bag ( bagi yang punya )
2. Peralatan mandi
3. Obat Pribadi
4. Jaket
5. Peralatan makan kalau gak merasa repot. ( takut di Villa kurang )

Yang muda tidurnya gak di kasur tp pake sleeping bag, bagi yang mau tidur di kamar atau kasur ; yang bawa keluarga mohon segera daftar karena tempat terbatas (Villa nya kecil jadi kalo kurang harus booking villa tambahan)

(Date line yang mau tidur di kamar pake Kasur terakhir tgl 13 Juli 2011)

Biaya Partisipasi yang hanya ikut Hiking saja min @ Rp. 35.000/orang
(untuk keperluan bayar tiket masuk CIC + makan siang)

Perlengkapan yang harap dibawa :
1. Ransel
2. Ponco / jas hujan
3. Topi
4. Minum
5. Snack
6. Obat pribadi

Bagi yang menyusul ikut HIKING saja dapat langsung berkumpul di tempat Parkir CIC ( Ciwangun Indah Camp ) Pk. 07.30 pada Hari Minggu 17 Juli 2011

Kami berharap Panitia Reuni / HUT dapat semua terlibat dalam acara ini + Pandu Adi, Pembina & Penegak B 19 – 20. Karena acara ini selain agar saling mengenal satu sama lainnya juga untuk mempersolit team panitia Reuni / HUT

Bagi yang akan pertisipasi dalam acara ini dapat mendaftar melalui :
FB, milis B 19 – 20 atau sms ke 0812 2020 3080

Pembayaran Biaya Partisipasi dapat ditransfer ke rekening khusus Reuni / HUT

BCA 282 001 4050 an Willi Dwinanta Hartoyo
( stlh tranfer tlg sms ke Willi dengan no HP : 081 2203 3839 )

Panitia HUT / Golden Reunion Bdg 19 – 20

(267) view

Monumen Pramuka Sedunia Bakal Dibangun di Lebak Harjo

Minggu, 19 Juni 2011 | 23:39 WIB

TEMPO Interaktif, Malang – Harijadi berjalan perlahan mendekati prasasti Community Development Camp (Comdeca) di Desa Lebak Harjo, Kabupaten Malang. Pada bagian atas prasasti terdapat patung empat pramuka penegak dan pandega memegang tiang bendera. “Pramuka membuka keterpencilan desa kami,” kata Harijadi, 79 tahun, warga Lebak Harjo, 65 kilometer selatan Kota Malang.

Dengan berseragam pramuka, Sabtu (18/6), Harijadi ikut berfoto bersama dengan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar di depan prasasti. Azrul yang ditemani pimpinan Kwarnas memang mengunjungi daerah ini untuk memantau persiapan Lebak Harjo sebagai Desa Pramuka dan rencana membangun Monumen Pramuka Sedunia. Azrul berharap monumen yang merupakan usulan Kwartir Daerah Jawa Timur itu dapat diresmikan tahun depan pada perayaan 100 tahun kepramukaan masuk ke Indonesia.

Dalam sejarah pramuka, Brownsea Island menjadi monumen atau tonggak karena merupakan lokasi diselenggarakannya perkemahan pramuka pertama kali pada 1907. Perkemahan di pulau yang terletak di selatan Inggris dan dipimpin Lord Baden Powell ini membidani kelahiran kepramukaan atau scouting.

Apa arti penting Lebak Harjo yang terletak di pesisir selatan Kabupaten Malang ? “Wilayah ini menjadi wahana kegiatan pramuka yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat,” kata Azrul Azwar. Pada 18 Juni sampai 29 Juli 1978, desa ini menjadi lokasi Perkemahan Wirakarya Nasional dan Perkemahan Wirakarya Asia yang pertama (1 st Asia Pasific Community Service Camp).

Perkemahan Wirakarya merupakan kegiatan bakti kepada masyarakat oleh penegak (usia 16-20 tahun) dan pandega (21-26). Kegiatan bakti ini diinspirasi oleh pidato Sri Sultan Hamengkubuwono IX pada World Scout Conference ke-23 tahun 1971 di Tokyo, Jepang. Pidato Sultan HB IX yang ketika itu menjabat Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini, mendapat sambutan luas dan dianggap sebagai pembaruan dalam kegiatan kepramukaan di dunia.

Presiden Soeharto membuka perkemahan ini dan menandatangani prasasti bertuliskan: “Di sini kau berbakti, di sini kau mengabdi, di sini kau bina perdamaian dunia.” Ribuan pramuka dari dalam dan luar negeri membangun jalan tembus Lebak Harjo ke pantai Licin, jembatan Belly, masjid, gereja, los pasar desa, Puskesmas dan melakukan kegiatan pemberantasan buta huruf.

Pada 26 Juli hingga 8 Agustus 1993, Lebak Harjo menjadi lokasi Community Development Camp. Pramuka utusan dari seluruh dunia membangun jalan tembus Lebak Harjo ke Lebakroto (ibu kota kecamatan Ampelgading dan tempat pelelangan ikan. Mereka juga mengeraskan jalan Lebakharjo-Licin, renovasi masjid dan gereja serta bakti non-fisik.

Kwartir Nasional pada 1989 mengikutsertakan Lebak Harjo dalam ajang World Scout Competition on Habitat mewakili Indonesia dan meraih juara kedua. Lebak Harjo memang sengaja dipilih menjadi lokasi bakti masyarakat pramuka. “Karena daerahnya terpencil dan warga sulit menjual hasil buminya,” kata Haryadi, mantan Ketua Sanggar Kerja Perkemahan Wirakarya Asia yang pertama tahun 1978. Dewan Kerja Daerah Jawa Timur dimana Haryadi menjadi ketuanya, lantas mengusulkan Lebak Harjo sebagai tuan rumah pada kwarda dan kwartir nasional.

Dikutip dari: Tempo Interaktif

(1799) view

SURAT WASIAT BADEN POWELL

baden powell

Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 83, beliau berpesan kepada seluruh Pandu di dunia…

Pesannya adalah sebagai berikut :

“Pramuka-Pramuka yang kucinta :
Jika kamu pernah melihat sandiwara “Peter Pan”, maka kamu akan ingat, mengapa pemimpin bajak laut selalu membuat pesan-pesannya sebelum ia meninggal, karena ia takut, kalau-kalau ia tak akan sempat lagi mengeluarkan isi hatinya, jika saat ia menutup matanya telah tiba.
Demikianlah halnya dengan diriku. Meskipun waktu ini aku belum akan meninggal, namun saat itu akan tiba bagiku juga. Oleh karena itu aku ingin menyampaikan kepadamu sekedar kata perpisahan untuk minta diri …………..
Ingatlah, bahwa ini adalah pesanku yang terakhir bagimu. Oleh karena itu renungkanlah !

Hidupku adalah sangat bahagia dan harapanku mudah-mudahan kamu sekalian masing-masing juga mengenyam kebahagiaan dalam hidupmu seperti aku.
Saya yakin, bahwa Tuhan menciptakan kita dalam dunia yang bahagia ini untuk hidup berbahagia dan bergembira. Kebahagiaan tidak timbul dari kekayaan, juga tidak dari jabatan yang menguntungkan, ataupun dari kesenangan bagi diri sendiri. Jalan menuju kebahagiaan ialah membuat dirimu lahir dan batin sehat dan kuat pada waktu kamu masih anak-anak, sehingga kamu dapat berguna bagi sesamamu dan dapat menikmati hidup, jika kamu kelak telah dewasa. Usaha menyelidiki alam akan menimbulkan kesadaran dalam hatimu, betapa banyaknya keindahan dan keajaiban yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini supaya kamu dapat menikmatinya !

Lebih baik melihat kebagusan-kebagusan pada suatu hal daripada mencari kejelekan-kejelekannya. Jalan nyata yang menuju kebahagiaan ialah membahagiakan orang lain. Berusahalah agar supaya kamu dapat meninggalkan dunia ini dalam keadaan yang lebih baik daripada tatkala kamu tiba di dalamnya. Dan bila giliranmu tiba untuk meninggal, maka kamu akan meninggal dengan puas, karena kamu tak menyia-nyiakan waktumu, akan tetapi kamu telah mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Sedialah untuk hidup dan meninggal dengan bahagia. Masukkanlah paham itu senantiasa dalam janji Pramukamu meskipun kamu sudah bukan kanak-kanak lagi – dan Tuhan akan berkenan mengaruniai pertolongan padamu dalam usahamu.

Temanmu,

( Ditemukan diantara kertas-kertas Baden Powell sepeninggalnya, pada 8 Januari 1941 )

(510) view

Ulang Tahun Gudep

Sekarang sedikit mengenai tanggal 4 Desember 1961. Anda-anda melihat bahwa cukup lama waktu lewat sebelum saya menuliskan tulisan ini. Itu terutama disebabkan karena saya berupaya menemukan kembali catatan harian saya (berupa agenda-agenda) untuk kurun waktu itu. Tetapi sampai minggu lalu itu upaya tadi tidak berhasil. Yang ketemu cuma berbagai catatan berupa koleksi quotation dan puisi yang sedikit banyak mencerminkan jalan fikiran pada waktu itu. Juga usaha saya untuk mengkontak Kak Reyno buat mencocokan ingatan, tidak berhasil minggu lalu itu, karena beliau, menurut orang di rumahnya, sedang berada di luar kota. Karena itu tulisan ini tidak bisa saya konfirmasikan dengan records yang autentik, dan betul-betul cuma berdasar ingatan seorang tua (menjelang pikun ?) yang menurut kak Jiwatampu sudah kehilangan daya mampu sebagian neuronnya, hehe.

Begitulah menyambung skenario dalam tulisan yang terdahulu, pada perempat tahun terakhir dari tahun 1961 tersebut, kak Reyno dan saya sendiri, sebagai plonco-plonco di PMKRI Sancto Thomas Aquinas (Bandung) bertemu dengan beberapa senior yang juga berasal dari Semarang, dan berasal dari berbagai pasukan Kepanduan Katolik disana. Maka terjadilah diskusi yang hangat mengenai topik yang sedang hangat pada waktu itu: nasib gerakan Kepanduan. Setelah berbagai argumentasi pro dan kontra, kami sampai pada kesimpulan bahwa Kesetiaan pada Janji Pandu bukannya harus dibuktikan dengan sikap kecewa, ngambek (atau “mutung” dalam bahasa Jawa) terhadap gerakan baru yang bernama Pramuka ini, tapi justeru dengan sikap tanggung jawab yang diajarkan Baden Powell yang menuntut kami untuk berusaha memengerti, dan dimana bisa,ikut mengarahkan gerakan baru ini ke jalan yang menurut kami benar, yakni membina generasi muda dalam kemampuan mandiri, tanggung jawab, rasa sosial dan nasional, toleran dan tidak cengeng.
Caranya justeru dengan ikut serta dalam pembentukannya ! Kebetulan para senior itu (kak Hendropranoto, kak Mardi Hartanto dan seorang lagi: kak Tam Auw yang saya tidak tahu nama barunya) sebagai orang-orang yang sudah lebih lama tinggal di Bandung tahu bahwa pada waktu itu praktis semua Pasukan Kepanduan yang mereka kenal di paroki-paroki mereka sudah non-aktif. Satu yang mereka tahu masih ada cuma pasukan Jeanne d’Arc di Santa Angela. Maka kami diajak untuk melihat bagaimana meng”hidupkan kembali” semangat Baden Powell ini. Dengan sedikit (atau banyak?) nekat, kami berkesimpulan bahwa kekosongan yang pasti ada di sekolah-sekolah Katolik yang telah menerima instruksi Pemerintah untuk mendirikan Pramuka di tiap sekolah, merupakan kesempatan baik untuk memulai semua ini, karena menulisi kertas kosong pasti lebih mudah daripada mencobanya pada kertas yang sudah diisi tulisan. Dan disepakati suatu skenario yang “cantik”: Meminta bantuan uskup Bandung waktu itu, Monsigneur Arnzt OSC, untuk menganjurkan kepala-kepala sekolah Katolik di Bandung guna mengirimkan wakil-wakilnya buat kami bantu dalam mempersiapkan Pramuka di sekolah masing-masing. Suatu langkah yang tidak akan mudah, karena bagaimana kami bisa berharap bahwa Uskup berani mempertaruhkan hal sepenting ini pada segelintir pemuda yang bahkan belum dikenalnya, sebab semuanya bukan warga Bandung. Tapi rupaya Tuhan memang menuntun kami, sehingga keluarlah anjuran Uskup yang dimaksud. Maka terlaksanalah apa yang kami namakan “kursus Pembina Pramuka TRIWIKRAMA” (nama ini adalah nama aji Batara Kresna dimana dewa itu berubah menjadi raksasa berkepala dan bertangan banyak menjelang perang Bharatayudha). Sejalan dengan ketentuan yang ada, kami melaporkan hal ini kepada Kwartir Gerakan Pramuka Kodya Bandung yang waktu itu untung diisi oleh bekas-bekas pandu yang simpatik terhadap gagasan kami seperti Kak Idik Sulaiman, Kak Joko Suyoso, Kak mayor Sediatmo dll.) Dan terlaksanalah kursus Triwikrama (ada yang mengistilahkan “Tiwikrama”) di sekolah Trinitas (jalan Waringin, Bandung), dimana sekolah-sekolah Santa Angela, Supratman, Cikutra, Pandu, Waringin, Jalan Jawa dan mungkin beberapa lagi yang saya sudah lupa, mengirimkan guru-guru (bahkan ada kepala sekolah yang ikut sendiri), dan oleh kami-kami beberapa ex-pandu (juga dibantu pimpinan Jeanne d’Arc seperti Kak Ria, Laura, Threes, Fin de Fretes, Sri, Monica, Lian, Murdiatun, dll) di”beri petunjuk” mengenai bagaimana nantinya membentuk pramuka di sekolah masing-masing. Tentunya menurut versi kami-kami, yang sejujurnya juga sendiri belum tahu apa dan bagaimana pramuka itu. Kursus yang berlangsung selama 3 hari itu (Jumat 1/12 s/d Minggu 3/12/ ’61) selesai dengan sukses (!). Keesokan harinya, tanggal 4 Desember 1961, Kakwarcab Bandung, May. Sediatmo meresmikan Gudep Bdg-19 kami, bersamaan dengan Bdg-6, Bdg-80, Bdg 14, Bdg-27, dll dll).

Tahun berikutnya, ketika Yosaphat Sudarso , seorang perwira Katolik, gugur diatas KRI Macan Tutul dalam perjoangan pembebasan Irian Barat pada tanggal 15 Januari 1962, Gugusdepan Bdg-19 mengambil nama tadi sebagai nama resmi Gugusdepan. Adapun Sint Joris (bahasa Belanda), atau Saint George (bahasa Inggris) yang dulu memang dianggap sebagai pelindung Kepanduan Katolik, otomatis juga diambil sebagai Santo pelindung Bdg-19. Itu sekedar dongeng mengenai berdirinya Bandung-19 kita ini. Mengenai Bandung-20, yang bisa berceritera mengenai ini tentunya Kak Toni, Kak Loeke dan rekan-rekan penerus, sebab kejadiannya setelah kami-kami generasi pertama meninggalkan kota Bandung.

Salam Tiga Jari

Kanda George

(342) view

Stay Young

“Youth is not a time of life, it is a state of mind. It is a temper of the will, a quality of the imagination, a vigor of the emotions, a predominance of courage over timidity, of the appetite for adventure over the love of ease.
Nobody grows old by merely living a number of years. People grow old by deserting their ideals. Years wrinkle the skin, but to give up enthusiasm wrinkles the soul. Worry, doubt, self-distrust, fear and despair, these are the long, long years that bow the head and turn the growing spirit back to dust.
Whether seventy or seventeen there is in every beings heart the love of wonder, the sweet amazement of the stars and the starlight things and thoughts, the undaunted challenge of events and the childlike appetite for what’s next, and the joy and the game of life.
You are as young as your faith, as old as your doubt, as young as your self-confidence, as old as your fear. So long as your heart receives messages of beauty, cheer, courage, grandeur and power from the earth, from man, and from the infinite, so long you are young.”
– General Douglas MacArthur

(223) view

Lomba Karya Tulis dan Lomba Foto

Sekretaris Jenderal Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Dr. Joedyaningsih SW, M.Sc. (PH) mengharapkan kepada Kakak-kakak pimpinan kwartir baik kwartir daerah maupun kwartir cabang Gerakan Pramuka seluruh Indonesia untuk lebih aktif mempublikasikan pelaksanaan Lomba Karya Tulis dan Foto tentang kepramukaan 2011. Program Kwartir Nasional Tahun 2011 ini perlu mendapat dukungan penuh oleh seluruh pengurus di jajaran kwartir termasuk para Pelatih dan Pembina Pramuka di lapangan, sehingga informasi ini sampai hingga ke seluruh anggota Gerakan Pramuka.

“Peran pengurus disemua jajaran kwartir sangat menentukan tingkat keberhasilan dari pelaksanaan lomba ini. Oleh karenanya perlu dilakukan langkah-langkah yang konkrit sehingga pelaksanaan lomba ini dapat diketahui oleh seluruh anggota Gerakan Pramuka dan masyarakat”, ujar Kak Joedy, demikian sapaan akrabnya.

Melalui surat Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor: 0282-00-G tertanggal 1 April 2011 tentang Lomba Karya Tulis dan Lomba Foto Kepramukaan dijelaskan bahwa Lomba karya tulis dan lomba foto tentang kepramukaan bagi wartawan dan umum Tahun 2011 ini pelaksanaannya dikaitkan dengan penyelenggaraan peringatan Tahun Emas “50 Tahun Gerakan Pramuka” pada bulan Agustus 2011 dengan tema “Satu Pramuka Untuk Satu Indonesia, Jayalah Indonesia”.

Menurut Kak Joedy, peserta lomba ini tidak hanya untuk wartawan, masyarakat umumpun boleh ikut menjadi peserta termasuk seluruh anggota Gerakan Pramuka baik golongan peserta didik maupun orang dewasa. Ketentuan umum dan ketentuan khusus lomba karya tulis dan lomba foto tentang kepramukaan bagi wartawan dan umum, dapat dilihat dengan cara membuka website Kwartir Nasional www.pramuka.or.id

Sedangkan karya tulis yang akan dinilai adalah karya tulis yang telah dimuat pada surat kabar, baik media cetak maupun media online  dan khusus karya foto tidak perlu, yang penting kedua karya tersebut (karya tulis dan foto) produk kurun waktu 22 Februari s.d 10 Juli 2011. Karya lomba itu dapat dikirim kepada panitia pelaksana, Biro Abdimas dan Humas Kwarnas Gerakan Pramuka, Jl. Medan Merdeka Timur 6, Jakarta Pusat 10110 paling lambat tanggal 15 Juli 2011.

Semua karya yang masuk menjadi milik Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, namun hak cipta tetap pada pembuat karya. Pengumuman pemenang dan penyerahan hadiahnya akan dilaksanakan pada  acara Upacara Hari Pramuka tanggal 14 Agustus 2011 di Jakarta.

Hadiah Lomba Karya Tulis untuk juara I dengan hadiah Rp 7.500.000,-, juara II dengan hadiah Rp 5.000.000,-, dan juara III dengan hadiah Rp 3.000.000,-. Sedangkan Hadiah Lomba Foto untuk juara I dengan hadiah Rp 5.000.000,- juara II dengan hadiah Rp 3.000.000,- dan juara III dengan hadiah Rp 2.000.000,-.

 

 
(dikutip dari berita kwarnas)

(241) view

Changing The World

“Changing the world”, the official song for the 22nd World Scout Jamboree 2011 in Sweden, is written by Daniel Lemma (lyrics) together with Pär Klang and the rest of the Jamboree band.

The premiere was at the Head of Contingent meeting, and was broadcasted live. Here you can listen to the studio version of the song.

Daniel Lemma is a Swedish composer and singer from Nyhamnsläge in Skåne. More information about Daniel Lemma may be found at: http://www.daniel-lemma.com/

The Jamboree band consists of Pär Klang, John Söderdahl, Lennie Hansen, Anni Söderdahl, Johan Olsson, Martin Nobel och Anton Berg.

(di copy dari Scoutface )

(200) view

IF YOU THINK

If you think you are beaten, you are

If you think you dare not, you don’t

If you like to win, but think you can’t

It’s almost cinch you won’t

 

If you think you’ll lose, you’re lost

For you in the world we find

Success begins with a fellow’s will

It’s all in the state of mind

 

If you think you are outclassed, you are

You’ve got to think high rise

You’ve got to be sure of yourself

before you can ever win a prize

 

Life’s battle don’t always go to

the stronger and faster man

But sooner or later the man who wins

is the man who thinks he can

 

SHIV KHERA 1998

(199) view

A Father’s Prayer

Build me a son,
O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face himself when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be;
a son who will know Thee?
and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him I pray,
not in the path of ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here let him learn to stand up in the storm;
here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son
whose heart will be clear, whose goal will be high;
a son who will master himself before he seeks to master other men;
one who will learn to laugh,
yet never forget how to weep;
one who will reach into the future,
yet never forget the past.

And after all these things are his,
add, I pray, enough of a sense of humor,
so that he may always be serious,
yet never take himself too seriously.
Give him humility,
so that he may always remember the simplicity of true greatness,
the open mind of true wisdom,
the meekness of true strength.

Then, I, his father, will dare to whisper,
have not lived in vain.

 

 

General Douglas MacArthur

 

DOA SEORANG AYAH

Tuhanku…

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Douglas MacArthur
1952

 

 

(308) view