Hari Pramuka

Kepada seluruh keluarga besar Pramuka se-Indonesia, selamat Hari Pramuka, semoga kita semua semakin bisa memaknai arti dari kepanduan dalam hidup kita sehari-hari

(204) view

Menarik dan Seru, Film Petualangan Anak-anak “Lima Elang”

Di tengah banyaknya keluhan orangtua dan masyarakat umum tentang tayangan sinetron maupun film-film layar lebar yang kurang mendidik, sebentar lagi kerinduan akan film nasional yang menarik, menghibur, dan mengandung nilai-nilai pendidikan bakal terjawab. Film petualangan anak-anak untuk semua umur berjudul “Lima Elang” bakal ditayangkan di bioskop-bioskop di Tanah Air.

“Lima Elang” yang berkisah tentang persahabatan dan petualangan lima anak yang dipertemukan menjelang dan dalam suatu perkemahan besar tingkat Kwartir Daerah, bisa disebut pula sebagai kado ulang tahun dalam rangka memperingati 50 Tahun (Tahun Emas) Gerakan Pramuka. Film itu memang merupakan kerjasama antara Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka dengan SBO Films, suatu perusahaan film yang para pengelolanya telah sukses lewat sejumlah film, termasuk film “Garuda Di Dadaku”.

Bertindak selaku produser adalah Kemal Arsjad dan Salman Aristo. Yang disebut terakhir juga menulis skenario film tersebut. Sedangkan sutradaranya adalah Rudi Soedjarwo, yang sebelumnya telah sukses menelurkan 17 film layar lebar. Bertindak sebagai produser eksekutif adalah sejumlah nama, termasuk Ketua Kwartir Nasional, Prof.Dr.dr Azrul Azwar, MPH.

Setelah melalui proses persiapan cukup lama, selama sebulan penuh pada awal April 2011, dilaksanakan syuting film “Lima Elang” di sejumlah tempat. Dari pihak Kwarnas, juga ditunjuk tim supervisi teknis yang dipimpin Wakil Ketua Kwarnas, Kak Amoroso Katamsi. Sedangkan di lapangan untuk mendampingi tim produksi saat syuting berlangsung, ditunjuk Kak Berthold Sinaulan (Andalan Nasional) selaku kordinator, dengan anggota Kak Yusak Manitis (Staf Kwarnas) dan Kak Syarifah Alawiyah (Ketua Dewan Kerja Nasional).
Kak Berthold dan Kak Yusak bahkan sempat ikut syuting walaupun hanya menjadi extra (figuran), sebagai tamu dari Kwarnas yang diundang menghadiri perkemahan yang diadakan. Bahkan sang tamu akhirnya ikut juga dalam proses pencarian anak hilang. Ada anak hilang? Ya, itulah salah satu menarik dan serunya film tersebut. Nantikan dan tonton saja “Lima Elang” nantinya.

Selama proses syuting, juga cukup banyak kendala yang dihadapi. Hujan deras yang turun berkali-kali, sempat menunda syuting yang hampir sebagian besar dilakukan di alam terbuka. Belum lagi ada juga yang terkena lintah atau terkena daun tumbuhan yang menyebabkan tubuh gatal, seperti di Hutan Buru Kareumbi, yang terletak di perbatasan Kabupaten Bandung, Sumedang, dan Garut. Untunglah, kekompakan tim produksi, para talent, maupun extra, membuat pelaksanaan syuting tetap dapat diselesaikan pada awal Mei 2011.
Menurut rencana, film tersebut akan ditayangkan pada akhir Agustus 2011. Dan yang pasti, bakal ada satu lagi tontonan menarik dan bermutu di Indonesia. Redaksi KN, Berthold Sinaulan/Syarifah Alawiyah

Dikutip dari: Situs Gerakan Pramuka

(430) view

Ada 5.000 Sukarelawan Internasional di Jambore Dunia

TEMPO.CO, Kristianstad – Botol Coca-Cola yang digenggam oleh penjepit langsung masuk ke kantong plastik yang ditenteng di tangan kiri. Sore itu, tangan kanan Jose Henrique Goliveira sibuk memungut sampah dengan penjepit di arena perkemahan orang dewasa pada Jambore Pramuka Sedunia di Kristianstad, Swedia.

“Senang sekali dapat bertemu dan bekerja sama dengan pramuka dari negara lain,” kata Goliveira yang menjadi anggota Kontingen Pramuka Brasil di Jambore Dunia ke-22 yang berlangsung 27 Juli sampai 6 Agustus 2011. Jambore ini diikuti 39 ribu pramuka berusia 14-18 tahun.

Di tanah airnya Goliveira menjadi dokter gigi. Pimpinan Kontingen Brasil menempatkannya sebagai International Service Team (IST) atau Sukarelawan Internasional pada Jambore Dunia. Hermawati Suwarna, Toni Suparman, dan Fahri Makasau dari Indonesia juga menjadi sukarelawan yang membantu panitia Jambore.

World Organization of Scout Movement memang mengundang setiap organisasi Pramuka di masing-masing negara mengirim sukarelawan untuk membantu kerja panitia. Pada Jambore kali ini Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengirim 34 sukarelawan dari berbagai daerah.

Para Sukarelawan Internasional itu membiayai sendiri ongkos keberangkatannya ke lokasi Jambore Dunia. Mereka bahkan membayar fee untuk mendirikan tenda dan mendapat makanan tiga kali sehari. Usai acara, Organisasi Pramuka Sedunia akan memberikan piagam penghargaan.

Menurut Hermawati, dirinya mendapat pelajaran berharga dari tugasnya di bagian pasokan makanan. “Mereka benar-benar menjaga kualitas sayuran dan lauk-pauk yang akan dimasak,” kata guru di SMP Kartika, Bandar Lampung, itu.

Dalam kelompoknya ada 12 sukarelawan yang berasal dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Dalam sehari masing-masing bekerja enam jam dan dibagi secara bergiliran. Ada yang bekerja pukul 07.00-13.00; 13.00-19.00; 19.00-01.00; dan 01.00-07.00.

Toni Suparman, anggota Pramuka dari Bandung, mendapat tugas di bagian kegiatan ketangkasan. Sementara Fahri bertugas membantu panitia di arena Global Development Village. Keduanya telah mengikuti Jambore Dunia sejak di Thailand dan Inggris. Fahri bahkan menjadi peserta Jambore Dunia di Kanada, 20 tahun lalu.

“Ini bagian dari pengabdian saya kepada Pramuka,” kata Fahri yang menjadi anggota DPRD di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Toni Suparman yang menjadi pengusaha mengaku banyak menjumpai teman lamanya di arena Jambore.

Hermawati berharap Kwartir Nasional mengadopsi model sukarelawan untuk membantu kerja panitai penyelenggara Jambore Nasional atau kegiatan Pramuka di tingkat nasional lainnya. “Saya yakin kita bisa asal dipersiapkan dengan matang,” kata mantan Ketua Dewan Kerja Penegak dan Pandega Lampung tahun 1974-1976 itu.

Menteri Pemuda dan Olah Raga Andi Mallarangeng dan Ketua Kwarnas Azrul Azwar yang hadir di arena Jambore Dunia setuju dengan usulan tersebut. Para sukarelawan itu, kata Azrul, berasal dari kwartir daerah atau cabang. “Harus diatur, jangan sampai kedatangan mereka sekadar jalan-jalan,” kata Azrul.

Bagi orang dewasa, kata Bapak Pandu Sedunia Lord Baden Powell, Pramuka adalah medan pengabdian. Organisasi ini bukan lahan untuk mencari uang atau mendapat dukungan politik. Sekitar 5.000 Pramuka dari berbagai negara yang menjadi Sukarelawan Internasional di Jambore Dunia ke-22 ini telah menerapkan ajaran Baden Powell.

UNTUNG WIDYANTO (KRISTIANSTAD)
Diambil dari http://www.tempo.co/read/news/2011/08/05/117350213/Ada-5000-Sukarelawan-Internasional-di-Jambore-Dunia

(243) view