A Father’s Prayer

Build me a son,
O Lord,
who will be strong enough to know when he is weak,
and brave enough to face himself when he is afraid;
one who will be proud and unbending in honest defeat,
and humble and gentle in victory.

Build me a son whose wishbone will not be where his backbone should be;
a son who will know Thee?
and that to know himself is the foundation stone of knowledge.

Lead him I pray,
not in the path of ease and comfort,
but under the stress and spur of difficulties and challenge.
Here let him learn to stand up in the storm;
here let him learn compassion for those who fail.

Build me a son
whose heart will be clear, whose goal will be high;
a son who will master himself before he seeks to master other men;
one who will learn to laugh,
yet never forget how to weep;
one who will reach into the future,
yet never forget the past.

And after all these things are his,
add, I pray, enough of a sense of humor,
so that he may always be serious,
yet never take himself too seriously.
Give him humility,
so that he may always remember the simplicity of true greatness,
the open mind of true wisdom,
the meekness of true strength.

Then, I, his father, will dare to whisper,
have not lived in vain.

 

 

General Douglas MacArthur

 

DOA SEORANG AYAH

Tuhanku…

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.

Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.

Tuhanku…

Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.

Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.

Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.

Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.

Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.

Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.

Tuhanku…

Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Douglas MacArthur
1952

 

 

(309) view

Asal Usul Istilah PakCik, BuCik, dll

Paruh akhir tahun 1961. Dunia kepanduan diliputi kegalauan. Tersiar kabar bahwa Pemerintah akan menginstruksikan ditutupnya Kepanduan untuk digantikan dengan semacam Pioneer dinegara-negara blok Timur.  Rupanya Bung Karno sudah gemas melihat bagaimana para pemuda kita di tengah kemelut negara yang sedang menghadapi negara-negara “Nekolim” yang mengingkari janji-janji untuk mengembalikan Irian kepangkuan Tanah Air, tidak menunjukkan “greget” yang diharapkan dalam pembangunan Negara. Beliau merasa bahwa para pemuda yang bersetangan leher dan berlencana bunga bakung hanya sibuk belajar tali-menali, berkemah, dll. Tidak disadarinya, atau mungkin terlupa,  bahwa mereka mereka yang “menjadi Pandu Ibuku” pada perjoangan kemerdekaan,  yang berjoang di berbagai forum, adalah mereka-mereka yang pada masa remajanya memakai berbagai setangan leher dan saling  bersalaman dengan tangan kiri seperti saudara-saudara mereka di seluruh dunia.

Memang tidak banyak buku berceritera mengenai para remaja di Mafeking  yang berjasa dalam Perang Boer di Afrika Selatan, atau para pejoang remaja yang menembus hujan peluru di Shanghai dalam perang melawan Jepang. Mereka itu semuanya adalah cikal bakal atau penerus semangat Baden Powel. Bagaimanapun juga, instuksi Pemerintah telah dicanangkan, dan filsafat dan romantika pendidikan baru harus menggantikan  kisah-kisah  Mafeking dan  Kimbal O‘ Harra untuk pasukan Penggalangnya, dan Jungle Story yang mengisahkan Mowgli, si anak manusia didikan ajag yang diasuh oleh  Akela, induk serigala bersama Balu  si macan kumbang dan Baghera si beruang untuk anak-anak Siaga.  Semuanya itu sekarang dirangkai dengan falsafah Ki Hajar Dewantoro yang merangkum pendidikannya  menjadi “Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri Handayani” (didepan memberi teladan, ditengah ikut berkarya, dibelakang memberi dukungan). Dengan begitu, untuk para Siaga ini, yang harus memberi teladan adalah ayah bundanya, yang disebut  Yanda dan Bunda, dengan dibantu para paman dan bibi yang disebut Pakcik dan Bucik. Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun W.J.S. Poerwadarminta menjelaskan bahwa Pakcik adalah “bapak kecil atau paman”. Sayang saya tidak bisa menemukan uraian untuk Bucik, yang analog mestinya artinya juga “ibu kecil atau bibi”.

Dengan begitu kita mengenal untuk Bdg-19 adanya Bunda Irene, Yanda Yos Lie (Kie Djiang), Pakcik Eddy Wastuwidya (alm)., Bucik Hetty, Bucik Eveline, dll. Sedang untuk para Penggalang para kakak yang akan ikut berkarya bersama para Penggalang disebut sebagai Kanda. Dengan begitu kita mengenal Kanda Reyno (disebut juga Kanda Theng), Kanda Liem (Budi Nurwono), Kanda Go Ing Djien (saya lupa nama barunya), Kanda Bambang (ipar Kak Johnny dan Kak Danny),  Kanda George.  Para Kanda ini saling menyebut satu dengan yang lain sebagai Kak (seperti “Mas” dalam bahasa Jawa ?). Untuk para Penegak dan Pandega mereka menyebut pembina yang akan mendorong mereka dari belakang dengan sebutan Kak. Demikian kita mengenal Kak Jiwatampu, Kak Liem Siang Hok, dll. Itu pada generasi pertama Bdg-19 kita. Selanjutnya banyak lagi kita dapatkan Kanda-kanda, Bunda dan Yanda serta  Pakcik dan Bucik baru yang meneruskan estafet kepembinaan dari generasi-generasi awal.

Itu sedikit peenjelasan mengenai sebutan Pakcik, Bucik, dan lain lain.

 

Salam Tiga Jari

Kanda George

(832) view

Patung Odin

Odin
Patung Odin (since 1955)

Patung kayu itu dibuat oleh Jimmy Pefferkorn sewaktu Jamboree Nasional pertama di Pasar Minggu, Jakarta, tahun 1955. Jimmy adalah speurder (penegak) dari kelompok Pius XII.

Di paroki Katedral Bandung waktu itu ada kelompok Pandu Katolik : Tarcisius, Pius XII, dan Martin de Porres. Ketiganya mengirim perintis (penggalang putera) ke Jamboree tersebut dan membentuk satu pasukan di bawah Aalmoezenier Pastoor J. Berkhout OSC, yang bertindak sebagai Hopman, dan 4 pemimpin pasukan dari Martin de Porres ( Paul Wetik, Harry Ie, Louis Manupassa,dan Henry Pauw ) sebagai Vaandrig.

Satu regu speurders dari Tarcisius dan Pius XII, kira-kira 10 orang, ikut sebagai peninjau. Mereka ikut berkemah, tetapi tidak terlibat dalam kegiatan jamboree yang diutamakan bagi perintis, sehingga a.l. Jimmy mempunyai waktu luang untuk mengukir patung itu, yang saya ingat belum di-cat dan belum diberi nama. Jimmy sendiri kemudian ikut orang tuanya pindah ke Belanda.

Yang dapat ditanya mengenai jamboree tersebut adalah beberapa anak buah perintis dulu yang masih ada di Bandung, a.l. Peter Thio, Dr. Donny Koeswardono, Nelson Ie, dan Oekje Tong (Dr. Wuisan).

Salam Pandu (pramuka)

Paul Wetik

(301) view

Berita Duka: Kak Kenung (Petrus Tugiman)

Rekan tercinta,
Telah berpulang ke rumah Bapa di surga, rekan tercinta Ka Petrus Tugiman (Kenung) di usia 62 tahun, pada hari Jum’at 08 April 2011 pukul 10.30.
Jenasah disemayamkan di rumah duka St. Carolus dan akan diadakan kebaktian tutup peti pada hari Sabtu, 9 April 2011, pukul 20.00.
Minggu 10 April 2011 pkl 09.00 jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka menuju krematorium cilincing utk dikremasikan.
Demikian berita yang saya terima dari ka Rudy Budiman melalui layanan pesan singkat.
Selamat Jalan ka Kenung.
STJ,
djodi

(148) view

The Price of Silence

First they came for the immigrants

And I did not speak up

Because I was not an Immigrant

 

Then they came for the teenaged mother

And I did not speak up

Because I was not one of them

 

Then they came for the gays and lesbians

And I did not speak up

Because I was not lesbian or gay

 

Then they came for the people of color

But as they left me alone

I did not speak up

 

Then they came for the Jews,

The elderly, the radicals, the farmers,

The “disabled”, the trade unionists,

The poor, the artists …

But I believed they were doing it for me

And I did not speak up

 

Then they came for me

And by then

There was no one left to speak up

 

(Ricardo L Morales)

 

 

(201) view